Showing posts with label Kumpulan Cerpen Karya-Q. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen Karya-Q. Show all posts

Saturday, March 10, 2018

CERPEN RASA YANG TERCABIK

Dua buah bulatan es krim memiliki tekstur permukaan tak rata saling bertindihan— menghuni ruangan gelas kaca model payung yang menanunginya. Karena diameter gelas yang tak seberapa, kedua bulatan es krim itu terkesan menggumpal seolah berdesakan.

Gelas payung itu berada diatas sebuah baki, dibawa oleh seorang pramusaji dengan langkah yang tergesa, sehingga menyebabkan taburan coklat dan bubuk cappucino yang semula berdiam dan berkerumun diatas permukaan es krim—terlihat perlahan berhamburan seakan rontok dan memenuhi dasar gelas akibat guncangan.

Pramusaji itu seorang perempuan—dengan langkah cepat menghampiri kursi pengunjung bernomor 21 yang dihuni seorang lelaki dan gadis—dua orang yang terkesan seperti pasangan kekasih.


Ketika pramusaji tiba di samping meja, dilihatnya kedua orang pelanggannya itu saling menundukkan wajah seolah dingin tanpa ekspresi. Suasana itu membuat si pramusaji menebak – nebak sepertinya kedua orang pengunjungnya sedang dilanda problema.

Kedai es krim memang ramai di akhir pekan—menyebabkan setiap karyawan yang shift pada saat itu mendapatkan tugas ekstra daripada hari – hari biasa. Dari pukul 10.00 pagi, si pramusaji sudah bekerja dengan giat. Semangat bekerjanya tidak luntur lantaran banyaknya tamu yang datang hari ini kesemuanya selalu memamerkan ekspresi wajah bahagia dikarenakan puas dengan berbagai es krim yang dipesan, dan hal itu yang menyulut semangat sang pramusaji untuk tetap berkobar. Kerja keras pelayanan dan cita rasa racikan es krimnya  dihargai.

Sekarang waktu menunjukkan pukul 17.00. Selama sang pramusaji bekerja sebagai karyawan di kedai es krim, dia baru mendapati sepasang pengunjung yang merasa tidak bahagia seperti dua orang yang berada di hadapannya. Bahkan, kedua pengunjungnya itu seolah tidak merasakan kehadiran sang pramusaji yang sudah berdiri didekat meja sedari tadi.

“Maaf, ini es krim gelato vanilla coklat moccachino pesanannya,” ucap sang pramusaji sambil menundukkan sedikit tubuhnya dan meletakkan gelas payung berisi eskrim dihadapan sang lelaki berkemeja rapi yang memakai kacamata berbingkai tebal, berambut klimis tipis, mempunyai hidung yang mancung.

Lelaki itu tersentak ketika mendapati tiba – tiba saja muncul sebuah es krim yang disodorkan dihadapannya. Kemudian si lelaki menoleh kepada sang pramusaji, menyunggingkan senyum yang seolah dipaksakan dan mengucapkan sepatah kalimat,
“Terima kasih”

Saturday, February 21, 2015

Cerpen ke-13, Symphoni of Life

Entah kenapa langkah ini begitu berat. Seolah sedang dibebani berton - ton bebatuan yang menjadi benalu di punggungku. Air mata ini rasanya mulai bergejolak, ingin berlomba - lomba untuk segera keluar dari kelopak mataku. Untungnya aku bisa menahan air mata ini. Tentu saja aku akan sangat malu jika menangis tersedu - sedu sepanjang jalan sepulang sekolah. Apa komentar banyak orang jika melihat kondisiku seperti itu?

Wednesday, December 10, 2014

Cerpen ke - 12, He Different Part. 1

Guntur saling bersahut - sahutan ketika badai sedang melanda. Lebatnya hujan hari ini, memaksa Sherly tidak dapat pergi untuk menjalani rutinitas hariannya berlatih menari dan vocal. Wajahnya tercermin di jendela kaca ketika dirinya memerhatikan awan hitam yang seakan menghalau doa - doanya agar segera meredakan badai yang melanda. Dia terlihat kesal, karena latihan hari ini sangat penting demi persiapan dirinya dan group menarinya untuk tampil memeriahkan acara perpisahan kakak - kakak kelas SMP-nya 4 hari kedepan.

Karena batal keluar rumah, akhirnya Sherly melucuti kaos dan sweater tebal yang dipakainya hingga hanya menyisakan sebuah tanktop berwarna merah muda dengan model sebatas perut bagian atas yang terkesan menggelayut di dadanya yang ideal, memperlihatkan pusarnya yang diapit oleh dua buah pinggang yang sangat langsing dan berotot akibat latihan menari.

Friday, October 3, 2014

CERPEN KE-11 KU, WHEN ANGELS LIE



Meski sudah pukul 05.20 pagi, nyatanya kabut tebal masih menyelimuti Kota Pemalang. Matahari hari ini seakan bermalas-malasan untuk membagi secerca sinarnya. Alhasil, pagi ini jarak pandang sangat terbatas. Hujan deras kemarin sore hingga tengah malam menjelang subuh, ditenggarai yang menjadi biang keladi munculnya kabut tebal pagi hari ini.

Rudi, hampir saja melanggar lampu - lalu lintas yang menyala merah. Dia, me-rem mendadak laju motor sport-nya  karena kaget  secara tiba - tiba mendapati lampu lalu - lintas yang menyala merah di depannya dalam laju kencang perjalanannya. 

Saturday, June 7, 2014

Cerpen ke - 10 ku, Strange Picture of a Little Girl

Bersantai dan melihat sekumpulan bebek berenang di danau buatan di taman kota bukanlah suatu hal yang bisa aku lakukan setiap saat mengingat jadwal pekerjaan yang padat. Hari ini bisa jadi aku harus berterimakasih kepada PLN. Karena ada pemeliharaan jaringan, lewat media twitter pihak PLN resmi mengumumkan serta meminta maaf karena akan mematikan jaringan listrik di sebagian besar wilayah kota. Oleh sebab itu, ketika listrik mendadak padam yang sungguh sangat bertepatan karena kepalaku sedang puyeng akan banyaknya laporan yang aku susun, maka aku meminta izin keluar untuk menghilangkan penat. Taman kota, adalah pilihan yang tepat untuk  bersantai menurutku.

Kuteguk sedikit minuman kaleng, dan tak lama sambil menghirup nafas aku mengeluarkan sendawa yang keras karena reaksi soda yang masuk dilambungku. Hhmmm nikmat sekali rasanya bisa bersendawa sambil menikmati pemandangan disini. Didepanku, terpampang sebuah danau buatan yang sangat indah meski ukurannya tidak besar. Banyak para pengunjung yang bermain di sekitar danau dan memberi makan para ikan. Banyak juga para remaja yang sedang duduk - duduk santai sepertiku sambil mendiskusikan sesuatu. Berada beberapa menit saja disini rasanya sungguh melegakan pikiran.

Wednesday, April 16, 2014

Cepen ke-9 ku, Friend Ever After



Ciuman pertama, menurutku hal itu adalah sesuatu paling konyol dan bodoh sepanjang hidupku yang pernah aku lakukan. Meski begitu, hal itu juga merupakan sesuatu yang membuatku kehilangan teman dan menjadi salah satu hal yang tak pernah aku lupakan. 

Ketika duduk di bangku kelas 6 SD, seorang cowok teman dekat dan juga menjadi  yang aku idamkan, sebut saja namanya Rahman saat itu sedang berulang tahun. Perayaan kejutan mendadak dari teman - teman sekelas sepulang sekolah membuat rambut dan seragam Rahman berlumuran tepung dan telur. Sebelum mengakhiri perayaan kejutan ulang tahun, semua teman sekelas membentuk barisan menyalami Rahman yang berdiri kikuk karena hampir mirip dengan manusia salju. Setelah bersalaman, sebagian menyerahkan sebuah bingkisan sebagai kado ulang tahun. Ketika giliranku berhadapan dengan Rahman aku langsung menjabat tangannya dan mengulas seutas senyum manis dihadapannya.

Wednesday, December 25, 2013

Cerpen ke-8 ku, Truth in Station



Hingga saat ini, aku masihlah seorang lelaki yang penakut. Kadang saat melihat wajahku sendiri di dalam cermin , aku merasa melihat  seorang pecundang. Seorang lelaki yang payah. Seorang lelaki yang takut untuk menyatakan sebuah perasaan kepada seorang wanita. 

Saat masih bersekolah di bangku SMU aku mencintai seorang gadis bernama Sarah. Seleraku bisa dikatakan tinggi karena Sarah adalah anak seorang anggota DPR yang mana keluarganya sangat berada. Dia mendapatkan status istimewa di sekolah karena kedudukan ayahnya. Selain itu wajahnya sangat cantik. Toh, dia anak orang berada, setiap waktu pasti akan merawat segala mahkota kecantikannya di beberapa tempat perawatan berkelas. Sarah bagaikan bunga mawar di sekolahku saat itu.

Selera tinggiku itu memang tak sebanding dengan latar belakang keluargaku yang hanya bekerja menjadi seorang buruh. Memang secara logika aku tahu bahwa cinta tak memandang apapun. Cinta itu buta. Dalam cinta hatilah yang memiliki segala indera perasa dan saling berbicara dengan kasat mata. Meskipun pengetahuanku cukup mengenai apa itu cinta, namun tak membantuku sama sekali untuk menyatakan perasaan ini kepada Sarah. Ditambah lagi Sarah selalu bergonta - ganti pacar seperti halnya bulan ini dia berpacaran dengan Andi sang ketua osis yang berwibawa, bulan depannya dia berganti lagi dengan Zaenal sang anak pengusaha dan beberapa bulan berganti lagi berpacaran dengan Roby sang anak kepala sekolah. Selama 3 tahun berada di jenjang SMA dan menjadi pemuja rahasianya aku mencatat Sarah bergonta - ganti pacar selama 11 kali. Dan para mantan - mantan pacar sarah pasti seorang siswa yang beken dan mempunyai status disekolah. Hal itulah yang menambah ciut nyaliku untuk menyatakan perasaan ini karena aku hanya seorang siswa biasa dan hampir tak naik kelas saat berada di kelas 2 SMA andai saja wali kelasku bukan sahabat dekat orang tuaku. 

Hingga suatu malam di perayaan pesta perpisahan kelulusan sekolah. Saat itu setelah berbincang dengan sahabatku, kegiatanku hanya berputar - putar di area sekolah tidak jelas dengan membawa dua gelas plastik pop ice. Saat itu aku berusaha untuk mencari lawan bicara perempuan dengan jurus menawarkan sebuah pop ice cokelat sebagai permulaan basa - basi. Namun sayang, sepertinya tidak ada yang berminat dan kebanyakan sudah mempunyai pasangan. Akhirnya aku memutuskan untuk menyendiri   menuju ke aula auditorium yang sepi. Tak disangka, disana aku menemukan Sarah yang juga sedang menyendiri dan duduk di salah satu bangku auditorium. Entah kenapa, saat itu keberanianku muncul dengan mendadak. Mungkin karena rasa yang hampa di malam perpisahan  dan kekecewaan tak menemukan teman wanita untuk berbicara, dengan melihat Sarah di tempat sepi seperti ini, rasanya kobaran api semangat jiwaku tersulut dan dikarenakan momennya juga tepat. Maka dengan berani aku menghampirinya.

Ketika berada tak jauh darinya aku melihat Sarah duduk termenung dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya menekan kuat sweaternya yang tebal. Tatapannya kosong menewarang ke arah panggung auditorium dan dia belum menyadari kehadiranku. Maka aku mulai mengucapkan kata sapaan kepadanya :
"Maap, bolehkah aku duduk disampingmu jika sekiranya tidak mengganggu?" Sapaku pelan dan memohon sebuah izin darinya. Sarah sedikit tersentak mendengar suaraku dan dengan segera mempersilahkanku duduk. Saat aku duduk dan melihat wajahnya yang tersenyum, kulihat kantung matanya menebal dan warna matanya merah. Dia baru saja habis menangis.

Saat itu aku memperkenalkan diriku kepadanya. Menanyakan kepadanya apa yang dia lakukan sendirian di tempat sepi ini ? Tapi Sarah hanya menjawab dia hanya mencari ketenangan sejenak dan tidak mau mengatakan alasannya. Setelah itu aku menawarkan minuman pop ice ku kepadanya, meski mungkin rasanya sudah agak hambar karena sudah kubawa berkeliling sekolah namun dia menerimanya dan tak kusangka dia langsung meminumnya sampai habis. Kemudian dia bertanya apa yang juga aku lakukan di tempat sepi seperti ini? Maka aku jujur menceritakan bahwa hatiku sedang galau karena tak mendapat teman bicara wanita di acara malam ini dan Sarah tertawa sangat keras.

"Hahahaha kau sangat menyedihkan Ario,"kata Sarah dengan gelak tawanya yang terkesan cekikian."

"Ya, aku memang menyedihkan. Tidak seperti dirimu yang dikelilingi banyak cowok. Kamu bagaikan idola di sekolah ini Sarah. Banyak lelaki yang mengidolakanmu termasuk diriku dan..., " saat itu aku kelepasan mengontrol omonganku yang menyatakan aku juga menyukainya karena saking asyiknya bisa berbicara dengan Sarah dan langsung menghentikan ocehanku mendadak.

"Benarkah kau salah seorang penggemarku, hehehe, " Sarah hanya menimpalkan sebuah kata itu menyikapi kediamanku mendadak dengan senyuman.

"Yah, aku pemuja rahasiamu. Aku harus jujur malam ini atau entah harus kapan lagi kukatakan unek - unek yang selalu mengganjal didalam benakku. Kalau kau mau bukti bahwa aku pemuja rahasiamu aku bisa menyebutkan urutan nama - nama mantan pacaramu mulai dari Andi, Zaenal, Roby, bla bla bla hingga yang terakhir bagaimana hubungan dengan pacarmu Bryan sang wakil olimpiade dari sekolah kita? 

Sarah diam sejenak mendengar perkataanku barusan. Dia memandangku dengan begitu serius. Aku takut apakah aku keceplosan dalam berbicara. Kemudian dia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada kursi dan berkata  dengan nada berat " Sebenarnya satu jam yang lalu aku putus dengan Bryan tepat setelah pidato perpisahan."

Aku sedikit kaget mendengarnya dan merasa bersimpati. Hening menyelimuti kita sejenak di dalam ruangan aula auditorium yang sepi. Hingga beberapa saat aku kembali memulai percakapan ; "Bolehkah aku tahu penyebab putusnya hubungan kamu dengan Bryan? Dan Sarah langsung menyahut " Hal itu hanya aku simpan untuk diriku sendiri."

"Apa yang kau ingin lakukan setelah lulus Ario? Bekerja, kuliah?" Sarah tiba - tiba mengajukan pertanyaan aneh seperti itu kepadaku dan aku jujur tak mengerti maksudnya. Langsung dengan segera aku hanya menjawab akan langsung bekerja karena orang tuaku takkan cukup untuk membiayai kuliah.

"Selain menjadi pemuja rahasia apakah ada rasa cinta kepadaku dalam hatimu?" Lagi - lagi Sarah menyatakan pertanyaan yang aku tak mengerti maksudnya. Dengan segera aku menjawab "ya"

Kemudian Sarah berdiri dari kursinya dan mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku tersentak kaget dan memundurkan badanku  menyikapi perilakunya yang mendadak berubah aneh. 

"Setelah ini aku akan kuliah di Australia selama 4 tahun lamanya. Jika kamu benar mencintaiku temui aku di malam tahun baru di stasiun Demangan 4 tahun kedepan tepatnya tanggal 31 Desember 2013." Ungkapan Sarah sangat aneh dan penuh tanda tanya. Setelah itu dia meminta nomer ponselku dan meninggalkanku begitu saja. Dia hanya berpesan akan menghubungiku jika waktunya tiba.  

4 tahun bukanlah waktu yang lama. 4 tahun berselang sangat cepat tanpa diduga. Udara dingin memasuki celah kecil jendela kaca kereta api dan memasuki ruang dimana aku saat ini sedang terduduk pulas sambil menikmati pemandangan luar yang terlihat berkelebatan karena saking cepatnya laju kereta. Sudah hampir sekitar 1 jam lamanya aku menaiki kereta api tetapi belum juga sampai ke statsiun Demangan.

Apa aku ini bodoh? Pertanyaan semacam itu masih selalu membebaniku. Mempercayai kata - kata seorang wanita yang ku puja yang hanya sekali saja bertemu tanpa kesan spesial? Meski cintaku sangat dalam kepadanya namun bagaimana jika ini adalah sebuah kebohongan belaka? Tak lain Sarah hanya mengerjaiku? Namun apapun nanti hasilnya, aku tetap akan menerimanya. Samar - samar wajahku terbias di kaca jendela kereta yang melaju cepat. Meski tidak begitu jelas, namun aku masih mendapati gambaran wajahku seperti seorang pecundang, bahkan jika nanti akhirnya aku mendapati semua ini hanyalah lelucon dan tak mendapati SARAH di stasiun seperti janjinya 4 tahun lalu, maka aku akan menyandang status sebagai seorang pecundang untuk selamanya.

Tak berselang lama akhirnya aku menjejakkan kakiku di stasiun Demangan. Stasiun ini memang salah satu yang terbesar dan selalu menjadi transit semua kelas kereta dari ekonomi hingga eksekutif. Aku tak menyangka hari ini stasiun begitu dipadati pengunjung. Saat kereta sudah meninggalkanku, kini aku hanya berdiri saja tanpa tujuan berarti seperti anak kucing yang ling - lung terpisah dari Ibunya.

Satu jam, dua jam bahkan tiga jam lewat tanpa ada dengung nyaring dari ponselku. Hal yang selama ini aku lakukan sembari tadi menunggu adalah selalu mengecek ponselku, mengetahui apakah ada pesan dari Sarah yang aku sendiri tak mengetahui nomer ponselnya. Malam semakin larut dan ketika aku melihat jam dinding stasiun menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sebentar lagi pergantian tahun. Aku memutuskan jika tidak mendapat pesan ataupun telepon dari Sarah setelah pukul dua belas malam, aku akan meninggalkan stasiun ini dan menerima bahwa aku hanya punguk yang merindukan bulan, terlalu berharap kepada hal yang tak mungkin digapai dan menerima  untuk menyandang status sebagai pecundang sejati.

Entah kenapa saat itu ponsel milikku sangat bersahabat. Tak berselang lama dari rasa kekecewaan yang membelenggu, sebuah dering nyaring ponsel mendadak membuyarkan lamunanku. Nomer pemanggil tidak tertera, secara cepat aku mengangkatnya dan sebelum mengucapkan kata halo kepada sang penelpon, sebuah suara sudah mendahului dan berkata " Ke lantai dua Ario. Cafe Brighstar, aku memakai sweater merah muda." 

Ya, suara itu bukanlah suara yang asing. Memang nada suaranya agak berubah tinggi. Mungkin dikarenakan umur, namun sejenak rasanya senang sekali mengetahui bahwa suara itu adalah suara Sarah.

Saat mendaki tangga menuju lantai dua, aku sedikit kesulitan mencari Cafe Brighstar karena banyaknya stand yang berdiri dan karena memang di lantai dua ini memang dikhususkan untuk area istirahat dan perbekalan pengunjung. Tapi tak butuh waktu lama, dari kejauhan aku melihat Sarah yang sedang menikmati segelas kopinya. Cafe Brighstar mempunyai aula yang terbuka tanpa atap, jadi pengunjung bisa menikmati kopi sambil menikmati langit indah yang bertabur bintang seperti nama Cafe ini.

Ketika melihat Sarah hari ini, dia sedikit berbeda dengan 4 tahun yang lalu. Kurasa dia bertambah tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari aku saat dia berdiri menyalamiku. Badannya agak sedikit berisi tidak kurus sepperti jaman SMA. Dan juga rambutnya berubah gaya menjadi potongan sependek bahu, tidak pirang seperti dulu. Meski begitu, wajah dewasanya saat ini lebih sempurna dibanding 4 tahun yang lalu. Dia menawariku segelas minuman kopi panas, dan Sarah menanyaiku mengenai karir. Aku menceritakan bahwa awalnya hanya berkerja serabutan hingga ada peluang memasuki universitas terbuka dan akhirnya aku diterima dan bisa menyelesaikan studi hingga sarjana. Dan saat ini menjadi salah satu pegawai di Bank Swasta. Sarah tersenyum mendengar ceritaku. Senyumannya membuat kopi yang seharusnya pahit menjadi manis saat itu juga dalam mulutku saat menyeruputnya sedikit. Saat aku balik bertanya sesukses apa karirnya? Karena aku yakin sarjana dari luar negeri pasti akan dapat   dengan mudah mendapat kerjaan yang mentereng di negeri ini, namun dia diam sejenak. Dia malah mengalihkan topik dengan mengajukan sebuah pertanyaan." Apa kamu masih mencintaiku seperti hal-nya 4 tahun yang lalu Ario?"

"Apa pemenuhan janjiku malam ini yang kujaga selama 4 tahun tidak membuktikannya bahwa aku serius mengenai hal itu Sarah sehingga kamu mempertanyakannya lagi?  Tidak masalah sebenarnya jika kamu tidak menyukaiku, aku bisa paham, toh aku tidak sebanding denganmu. Aku senang setidaknya aku bisa membuktikannya walaupun harus dibayar dengan selang waktu 4 tahun meski akhirnya nanti kamu akan menolakku" jawabku. "Apapun jawabanmu, mulai hari ini aku bukan pecundang lagi karena keteguhanku."

"Apa yang kusuka dariku Ario?" Tanyanya dengan nada serius? Dan aku hanya menjawab  alasanku mencintainya saat itu dikarenakan usiaku masih remaja, dan kesalahanku sendiri karena mempunyai selera tinggi dalam menyukai wanita saat di bangku SMA yang membuatku terlanjur membuatku cinta mati kepada wanita yang paling beken saat itu juga yakni Sarah.

"Selera yang tinggi," Sarah mengulangi  ucapanku sambil tertawa. Kemudian dia mengeluarkan sebuah bungkus rokok dan mengambil sepuntung dari dalam kotak lalu menempelkannya pada bibirnya yang merah merona. Dia agak bingung mencari sesuatu di saku sweaternya dan aku duga pasti dia lupa menaruh korek apinya. Saat dia menanyaiku apakah mempunyai sebuah korek api aku menjawab tidak karena aku tidak merokok. Setelah itu dia menaruh puntung rokoknya di meja dan menghela nafas. "Selera yang tinggi,hehehe" Sarah mengulangi kata - katanya dengan terkekeh. Aku melihat wajahnya mulai sedih. "Kau tau Ario, seleraku juga tinggi saat SMA dulu, tidak berbeda denganmu. Aku mengencani beberapa cowok beken di kelas untuk mendapat kepopuleran. Tapi sebenarnya aku tidak serius dengan mereka , aku hanya mempermainkan perasaan mereka. Ketika aku memutuskan hubungan setiap cowok yang aku kencani aku selalu menangis, menyadari bahwa begitu jahatnya diriku memanfaatkan mereka.  Dan saat ini, saat semuanya berubah, aku mendapatkan sebuah karma balasan dari perbuatanku dahulu."

Mendengar perkataan Sarah barusan, aku baru tahu bagaimana sifat playgirl yang dimiliki Sarah. Tak ayal bahwa dia selalu berganti - ganti pacar saat SMA. Namun kata karma aku tidak begitu paham maksudnya. Saat aku menyinggung mengenai kata itu, Sarah bercerita bahwa hidupnya tidak beraturan sekarang. Saat memasuki semester 2  saat dia berkuliah di Australa. Dia mendapat kabar bahwa ayahnya dijebloskan ke penjara karena terbukti melakukan korupsi. Banyak aset ayahnya yang disita membuat Sarah anak semata wayangnya tak dapat melanjutkan pendidikan kuliahnya dengan berat hati. Yang lebih menusuk hatinya bahwa Ibunya dengan tega meninggalkan ayahnya di saat terpuruk. Mungkin sifat palygirl yang dimiliki Sarah saat ini bisa jadi menurun dari sifat gen Ibunya. Disaat perpisahan dengan Ibunya, dia mendapati kata - kata menyakitkan dari Ibunya bahwa dia tidak mau membawa serta dirinya dan memberikan argumen bahwa belum tentu Sarah adalah anak resmi dari ayahnya saat ini toh sebelum menikah dengan ayahnya dia sudah berhubungan dengan banyak petinggi politisi lain, karena ayahnya yang sukses menjadi pejabat, maka dia memilih Ayah sarah untuk dijadikan suami. 

Tak berselang lama, Ayahnya meninggal di penjara karena depresi. Sarah hanya hidup dengan sebuah peninggalan rumah mewah yang menurut pengadilan adalah sebuah harta yang sah dari jerih payah Ayahnya yang tidak ada kaitannya dengan korupsi. Karena tak mempunyai pekerjaan, Sarah menjual rumah itu dan karena sifat glamour masih melekat di dirinya, dia hidup dengan menyewa sebuah apartemen dengan uang hasil menjual rumah peninggalan Ayahnya. Dia sering mabuk - mabukan saat berada di apartemen karena stress. Sejumlah hartanya pernah diperas ditipu oleh agensi investasi yang entah sekarang menghilang kemana. Karena tekanan batin yang tinggi dia mengarah ke obat - obatan hingga overdosis dan direhabilitasi hingga kerabatnya yakni bibinya mengambil alih dirinya keluar dari rehabilitasi dan menjadikanya sebagai anak tiri. Beberapa tahun tinggal dengan bibi-nya Sarah sudah kembali normal. Tak lama dia bertemu dengan sahabat lamanya yang saat itu menawarinya sebuah bisnis. Karena Sarah masih mempunyai tabungan hasil penjualan rumah mewahnya maka dia bermitra dengan sahabatnya itu untuk membuat sebuah kedai roti kecil - kecilan dan keuntungannya di bagi menjadi dua. Sarah sebagai salah satu pemilik, juga bekerja melayani pembeli di Kedai roti miliknya. Dan dia menceritakan bahwa paras cantik  yang dimilikinya terlalu cantik untuk dimiliki oleh seorang yang terkesan sebagai penjual roti yang akhirnya banyak pembeli yang naksir kepada dirinya. Namun tak pernah disangka bahwa hampir semua pembeli yang sudah mapan yang pernah mengajakknya kencan semuanya adalah seorang bajingan. Mereka hanya menginginkan dan mengeksploitasi kecantikannya dan hanya memanfaatkan dirinya. Begitulah kisahnya. 4 tahun tak terasa sangatlah cepat untuk mengubah kehidupan seseorang. Itulah kesimpulanku saat mendengarkan kisahnya. Sarah merasa dia mendapat karma karena dulu sering mempermainkan perasaan laki - laki saat di bangku sekolah.

"Ya beginilah aku sekarang Ario," katanya pelan sambil mengusap air matanya. "Aku hanya seorang pebisnis kecil dan juga merangkap sebagai pegawai dan juga seseorang yang sering dicampakkan. "Jika seleramu masih tinggi, maka saat ini aku bukan masuk salah satu kategorimu."

Wajah Sarah terlihat sendu. Matanya masih agak sedikit merah akibat kesedihan yang masih menguasai dirinya. Dia dengan pelan menenggak beberapa teguk sisa kopi dalam gelasnya. Wanita didepanku ini adalah idolaku dan aku rela menjadi pemuja rahasia selama 3 tahun saat berada di bangku sekolah. Namun sekarang, dia mengalami masa - masa sulit. Sarah hidup dengan kisah yang tidak terduga dan begitu banyak masalah yang menimpanya. Mendadak sebuah cahaya bertebaran di angkasa. Wajah Sarah yang saat itu sendu mendadak dihiasi dengan pantulan cahaya yang meledak - ledak di langit. Yah, kembang api tahun baru meledak indah di angkasa yang dinyalakan dari pusat kota. Saat itu juga aku memegang jemari Sarah dengan kedua tanganku dan berkata " Tahukah kamu mengapa ledakan kembang api begitu indah di malam menjelang tahun baru?" Sarah hanya merespon dengan menggelengkan kepala. " Karena mereka begitu bersemangat untuk menyambut tahun baru dengan kemilau cahayanya. Segelap apapun langit, kembang api akan selalu berusaha untuk menyinarinya dan menyongsong tahun baru dengan penuh semangat. Segelap apapun kisahmu, apakah kau mau membuka lembaran baru dengan menjadi kekasihku Sarah?" Hatiku berdegup mendengar jawabannya, namun aku menemukan jawabannya dengan hanya melihat paras wajahnya yang memberikan senyum yang menawan. Awalnya aku mengira bahwa  aku adalah seorang pecundang yang tak berani menyatakan perasaan. Namun aku baru menyadari, bahwa seorang pecundang hanyalah seseorang yang tak bisa menerima kekurangan dari orang lain. Dan mulai saat ini, aku akan hidup berdampingan dengan apapun itu segala kekurangan yang dimiliki sarah sebagai pria sejati.

Tuesday, September 17, 2013

Cerpen Ke - 7ku, Change to Break Shackles



"Haruskah aku masuk ke rumah mengerikan itu?" Batin Hisyam dalam hati. Dirinya bersandar di batang pohon cemara yang membelekangi rumah besar yang hanya berjarak 10 meter darinya. Cahaya Bulan Purnama terlihat memancar menerangi segala kehidupan di bawahnya, namun hanya rumah di depan Hisyam saja yang seakan menolak pancaran cahaya bulan. Rumah itu gelap karena sudah lama tidak berpenghuni. Cat nya sudah banyak yang lapuk. Gentingnya terlihat banyak yang berlubang seperti baru diserbu oleh senapan mesin. Disana - sini banyak sekali sarang laba - laba. Dari gambaran sekilas, memberikan kesan angker pada rumah itu. Entah siapa pemilik dulunya, Hisyam tidak tahu karena semenjak 3 tahun yang lalu saat menginjakkan kakinya pertama kali ke kampung ini dari kepindahannya dari kota akibat kepentingan dinas ayahnya, dia sudah mendapati rumah itu sudah kosong.  
  

Wednesday, August 7, 2013

Cerpen ke- 6 ku, Night Breakers



Angin kencang mendadak membuat suasana yang tenang menjadi ribut. Awan pekat dengan pelan merambat menutupi langit malam yang cerah yang awalnya dipenuhi bintang menjadi kelam dan berubah menjadi merah mendung. Dari kejauhan, sang bulan yang awalnya gagah perkasa menyinari para penduduk bumi dibawahnya dengan sinarnya, sekarang  seakan - akan bersembunyi di balik awan hitam kelam. Cuaca benar - benar tidak bisa ditebak. Suasana harmoni malam yang indah, tiba - tiba berubah menjadi mendung dan diperkeruh dengan adanya angin ribut.

Tidak berbeda dengan suasana langit yang sedang kacau. Meski cuaca tidak karuan di atas, namun para manusia di bawah seakan tak memedulikannya. Suasana para manusia di bawah bila dilihat dari atas, juga nampak ruwetnya dengan cuaca yang tidak menentu. Ya, benar saja, karena para manusia di bawah sedang mengalami macet akibat perjalanan arus mudik, karena sebentar lagi lebaran akan tiba. Guntur di langit saling bersahutan, sedangkan dibawah, suara klakson juga tak ingin kalah bersaing.

Tuesday, May 21, 2013

Cerpen ke-5ku, Beautiful Gift



Setelah berjalan kurang lebih 20KM, Ridwan bingung apa yang sebenarnya telah terjadi di dunia ini. Segalanya telah berubah, apapun yang dilihatnya sepanjang perjalanan, dia merasa berada di dunia lain.  40 tahun mendekam di penjara, membuatnya benar - benar terisolasi dengan dunia luar. 

23 September, adalah hari kelahirannya dan juga saat ini bersamaan dengan hari kebebasannya dari penjara. Entah mengapa dia teringat saat berumur 8 tahun keluarganya  merayakan ulang tahunnya dengan begitu meriah. Namun sekarang, dia hanya merasa kesepian di tengah dunia yang hampir tak dikenalnya.

1980, saat umurnya 20 tahun, Ridwan merantau ke Ibukota untuk mencari penghasilan apapun itu demi mengobati Ibunya yang sakit di desanya yang terletak sangat terpencil. Dia tidak tahu bagaimana itu Ibukota, yang ada dalam gambarannya Ibukota adalah kota metropolitan yang menyediakan segudang pekerjaan.Meski dia tidak dapat membaca dengan lancar dan berbahasa Indonesia dengan benar, apapun itu tekadnya ke Ibukota sudah bulat.

Friday, February 8, 2013

Cerpen ke-4 ku, To Kill A GREAT DEVIL

Orang - orang selalu berkata bahwa Parjo Sukmawan adalah seorang Iblis. Aku sendiri tidak tahu seperti apa wujud iblis itu detailnya. Yang aku dengar dari tetangga - tetangga hanyalah sebatas sifat Parjo yang selalu dicela warga. Selama ini aku belum pernah melihat Parjo sekalipun, karena memang rumahnya terasing, berada di dekat hutan serta pertanian dan perkebunan warga, jauh dari pemukiman kampung.

Ada yang bilang bahwa Parjo pemabuk berat, dan karenanya warga sering menyebutnya manusia haram. Ada yang bilang bahwa rumah Parjo berbau sangat busuk, sehingga banyak warga menyebutnya kuil bersemayamnya sang Iblis.

Oleh orang tuaku, aku dilarang bermain kesana karena berbahaya apabila bertemu dengan Parjo. Saat umurku 5 tahun, pernah ibuku menceritakan bahwa Parjo pemakan anak kecil, terutama gadis mungil. Namun setelah beranjak 11 tahun, aku tahu saat itu Ibu hanya membual, Ibu berkata begitu hanya karena dia tidak ingin aku bermain di area perkebunan dekat dengan hutan.

Thursday, December 20, 2012

Cerpen Ke-3 ku, Two Wounded Bird

Sebuah kaca jendela yang berukuran minimalis dengan pahatan bingkai yang cantik. Dari balik kaca tersebut, wajah Rina muncul memandangi dunia luar yang seakan asing dan terpisah dari kehidupannya. Kali ini, didapatinya dunia luar yang berbeda, tidak seperti biasanya. Cuaca benar – benar cerah pagi ini. Cuaca cerah ditengah musim penghujan yang melanda, dan awan hitam mendung yang selalu mendominasi disetiap harinya, membuat pemnadangan dunia luar sangat berbeda untuk hari ini.

Didengarnya, berbagai kicauan burung yang saling bersahutan. Burung – burung itu seakan kompak melantunkan nyanyian menyambut cuaca cerah dipagi hari ini. Nyanyian para burung tersebut terdengar indah dan sangat antusias. Tak setiap hari Rina mendapati nyanyian merdu para burung seperti ini. Hanya kalau ada keajaiban cuaca yang cerah seperti ini saja di tengah musim penghujan.

Wednesday, November 28, 2012

Cerpen ke-2 ku, "HEAVEN", selamat menikmati.


Kadang perasaan kesal ini sering sekali muncul begitu saja. Perasaaan ini kadang muncul saat aku melihat teman – teman lelakiku memainkan olahraga sepak bola di lapangan sekolah. Saat teman – teman wanitaku beradu cepat memainkan lompat karung di halaman depan kelas. Saat semuanya berkumpul berdiri membentuk barisan paduan suara di dalam kelas, melantunkan lagu dengan serempak-nya, membuahkan alunan yang merdu untuk didengarkan.


Perasaaan kesal ini timbul karena melihat wajah – wajah mereka diselimuti oleh kebahagiaan. Ekspresi gembira para teman lelakiku saat berebut bola di lapangan membuat tanganku mengepal erat seakan ingin meninju seseorang. Ekspresi penuh persaingan para teman wanitaku yang menggebu – gebu dan berubah merah seperti gunung yang ingin meletus saat mereka berkompetisi dalam kelompoknya masing – masing, beradu cepat untuk mencapai garis finish dalam permainan lompat karung membuat keningku tanpa sadar dipenuhi keringat dan debar jantungku meningkat. Ekspresi semua temanku saat melantunkan nyanyian dalam paduan suara, membuat aku menggigiti jari – jemariku sendiri hingga memerah.

Tuesday, November 20, 2012

Cerpen : The Last of Us

" Maapkan aku Budi. Hubungan kita sampai disini saja. Mulai saat ini kita menjadi teman biasa."

Kata - kata Mona, masih terngiang - ngiang di benak Budi. Entah kenapa kalimat yang diucapkan Mona itu lebih mudah diingat kembali oleh Budi daripada menghafalkan rumus Fisika dan matematika. 

Dua minggu lalu. Di sebuah warung makan khusus anak muda di tengah kota. Mona mengucapkan kalimat perpisahan itu. Budi yang awalnya sangat senang sekali karena tumben Mona  mengajak keluar nge-date, toh biasanya Budi yang selalu mengajaknya dahulu, mengira Mona bakal mengajaknya melakukan sesuatu yang Romantis. Tetapi harapannya pupus sudah saat kalimat itu Mona ucapkan di tengah harapannya yang hancur.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...