Tuesday, September 17, 2013

Cerpen Ke - 7ku, Change to Break Shackles



"Haruskah aku masuk ke rumah mengerikan itu?" Batin Hisyam dalam hati. Dirinya bersandar di batang pohon cemara yang membelekangi rumah besar yang hanya berjarak 10 meter darinya. Cahaya Bulan Purnama terlihat memancar menerangi segala kehidupan di bawahnya, namun hanya rumah di depan Hisyam saja yang seakan menolak pancaran cahaya bulan. Rumah itu gelap karena sudah lama tidak berpenghuni. Cat nya sudah banyak yang lapuk. Gentingnya terlihat banyak yang berlubang seperti baru diserbu oleh senapan mesin. Disana - sini banyak sekali sarang laba - laba. Dari gambaran sekilas, memberikan kesan angker pada rumah itu. Entah siapa pemilik dulunya, Hisyam tidak tahu karena semenjak 3 tahun yang lalu saat menginjakkan kakinya pertama kali ke kampung ini dari kepindahannya dari kota akibat kepentingan dinas ayahnya, dia sudah mendapati rumah itu sudah kosong.  
  
Wajahnya berubah kesal saat memikirkan betapa tega kedua sahabatnya melakukan hal ini kepada dirinya. Siang tadi, saat istirahat ke-dua, tepatnya di kantin sekolah, Banu dan Badrun, kedua sahabatnya mengajak Hisyam untuk menceritakan suatu hal yang mungkin dirahasikan dalam dirinya dan orang lain tak perlu dan tak boleh untuk tahu. Kedua sahabatnya mendesak Hisyam untuk menceritakan suatu rahasia yang mungkin dimilikinya, dengan tujuan mungkin kedua sahabatnya bisa membantu memecahkan masalah itu. Berdasarkan hubungan persahabatan yang sudah terjalin selama tiga tahun, dengan mudahnya Hisyam bercerita bahwa dia sebenarnya menyukai seorang gadis bernama Lusi.

Lusi adalah seorang gadis yang agak sedikit tomboy. Meski dia mempunyai sedikit sifat tomboy, namun fisiknya tak mendukung untuk memberikan kesan seperti itu. Penampilannya sangat feminim dan terkesan imut. Ketika orang mengajaknya untuk berbicara pertama kali, mungkin sebagian akan kaget dengan kesan manis fisiknya dan sifat tomboy-nya dalam bertutur kata seakan bertolak belakang dengan kesannya yang imut. Hisyam, layaknya seperti orang yang memberikan ceramah, menjabarkan sejelas - jelasnya bahwa dirinya menyukai Lisa saat kepindahannya pertama kali di SMA Manise. Ketika masuk pertama kali di SMA Manise melewati pintu gerbang dengan orang tuanya untuk mendaftar, di pos satpam saat itulah dia melihat Lusi beradu mulut dengan satpam. Dia melihat Lusi berhasil menundukkan sang satpam untuk memberikan-nya izin masuk ke area sekolahan, karena saat itu Lusi sudah terlambat satu jam, dan peraturan menetapkan siapapun yang terlambat, tidak diperbolehkan masuk. Ketika Lusi keluar dari pos satpam dan berlari menuju ke kelasnya, dia berpapasan dengan Hisyam. Mereka saling pandang namun Hisyam langsung menunduk tak mampu berlama - lama memandangi wajah Lusi seperti orang yang terkena sembelit. Hisyam dari kejauhan saat itu, melihat Lusi terus berlari dan melompati pagar untuk mencari jalan pintas menuju ke kelasnya dan masuk melalui jendela kelas. 

Setelah meceritakan kesan pertamanya terhadap Lusi, Hisyam lalu melanjutkan bahwa dirinya selalu mengikuti berbagai kegiatan eskul yang juga diikuti oleh Lusi. Seperti halnya beladiri, memang Hisyam tidak bisa berbuat banyak dalam hal bela diri, namun dia senang bila hanya bisa melihat Lusi menghajar seseorang. Meski akhirnya dirinya sendiri yang dijadikan bahan latihan oleh senior - seniornya. Selain itu dia juga mengikuti kegiatan paskibra, dan meski tak pernah lolos seleksi untuk mengibarkan bendera saat kegiatan rutin upacara karena ketolollannya dalam baris - berbaris, tapi dia senang melihat Lusi menjadi pimpinan ketua paskibra yang selalu memberikan arahan dan komando. Hisyam beralasan mengikuti semua kegiatan eskul yang juga diikuti oleh Lusi tak lain karena dirinya tak pernah satu kelas dengan Lusi selama 3 tahun ini mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 meski satu jurusan di bidang IPS. Selain itu dia juga punya banyak koleksi foto Lusi di laptopnya karena dia selalu menyimpan semua album yang terdapat di facebook Lusi secara diam - diam.

Mendengar cerita rahasia Hisyam kedua sahabatnya langsung tertawa sekencang - kencangnya. Hisyam hanya bermuka kecut menanggapi reaksi kedua sahabatnya itu. Dan hal tak terduga dilakukan kedua sahabatnya bahwa mereka akan menceritakan semuanya itu kepada Lusi. Begitu terkejutnya Hisyam mendengar itu dan seperti anak kecil yang merengek - rengek meminta agar kedua sahabatnya tidak melakukan hal itu. Hisyam akan merasa dirinya menjadi orang paling bodoh dan tolol jika kedua sahabatnya menceritakan hal memalukan itu kepada Lusi. Disaat itu juga, kedua sahabatnya mengajukan sebuah syarat bilamana Hisyam tidak ingin kedua sahabatnya menceritakan kisah menggelikan dirinya kepada Lusi. Yakni Hisyam harus masuk ke rumah angker di kampung malam ini dan memotret dirinya di dalam ruangan rumah itu dan diupload ke facebook sebagai tanda bukti. Hisyam menerima syarat itu.

"Sialan, mereka berdua mengerjai aku. Sahabat macam apa mereka itu," ketus Hisyam dalam hati sambil pergelangan tangan kanannya mengacak - acak rambut. Sudah hampir satu jam lamanya namun Hisyam masih saja berdiri dan mengumpat sendiri dan tak memberi tanda melangkah untuk memasuki rumah menyeramkan itu.

Sejak kedatangannya di kampung ini, rumor rumah kosong yang menurut warga sudah ditinggalkan pemiliknya 5 tahun yang lalu  itu angker. Dari mulut ke mulut, terutama anak muda, banyak yang menceritakan bahwa rumah itu berhantu. Ada yang pernah melihat kuntilanak, genderuwo, tuyul dan mahkluk halus lain sebagainya. Dan sialnya , Hisyam harus memasukinya.

"Peduli setan" , desahnya dengan memberanikan diri, dia mulai berlari ke arah pintu masuk rumah kosong itu.   

Kriieeettt....suara mengerikan seperti orang menjerit terdengar saat Hisyam membuka pintu utama rumah tersebut sambil menelan ludah. Yang dia dapati hanyalah kegelapan di dalam ruangan rumah tersebut hingga akhirnya dia menghidupkan ponselnya untuk memberikan penerangan. Namun sesosok dua mata muncul dari arah atas, kedua mata itu bersinar dan mendadak turun ke bawah dengan cepatnya dan mengarah ke arah Hisyam dalam gelapnya ruangan. 

"Tidak, tidak, tidak aku mohon jangan munculll sekarang dedemit apapun itu," ucap Hisyam dengan gemetar dan ekspresi tegang. Nafasnya kemudian terasa berat dan jantungnya semakin berdetak kencang saat sesosok dua mata bersinar itu semakin dekat ke dirinya.

"Meeoooonggg, begitulah seekor kucing muncul mendadak dari kegelapan dan menghampiri Hisyam karena tertarik dengan temaram cahaya layar ponsel miliknya. Setelah sejenak memandangi Hisyam yang seperti orang bodoh ketakutan tanpa sebab, kucing itu lalu berjalan dengan santainya meninggalkan Hisyam seperti binatang yang tidak mempunyai dosa apapun.

"Huh, sialan, mengagetkan saja," ucap Hisyam jengkel. Setelah mengelap peluh keringat di dahinya, Hisyam melanjutkan masuk ke dalam rumah kosong itu. Tepat di ruang tamu yang tanpa perabotan dan hanya ruangan lusuh penuh sarang laba - laba, Hisyam mencoba mencari lokasi yang cocok untuk mengambil gambar dirinya. Hisyam memilih ruang tamu karena dirinya tak mau lagi masuk terlalu dalam dan ingin cepat - cepat mengakhiri ini semua. Setelah sedikit berputar - putar akhirnya dia menemukan tempat yang cocok yakni berdiri di antara sebuah pintu pembatas yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang keluarga meski Hisyam tak yakin dibelakang dirinya  berdiri adalah ruangan keluarga karena gelap gulita. Tak perlu waktu lama Hisyam langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah dirinya . Blitz..lampu flash ponselnya menyala dan kemudian Hisyam langsung melihat hasilnya di ponsel dalam genggamannya.

"HHHuuaaahhhh...Tiiddaakkk...," Jerit histeris Hisyam dengan kerasnya layaknya seorang vokalis group band metal yang sedang mengadakan konser hallowen ketika mendapati di layar HP nya terdapat penampakan seorang wanita yang kepalanya tertutup kain putih berdiri persis dibelakangnya. Saking paniknya dengan berteriak - teriak Hisyam malah berlari ke arah ruangan keluarga yang lebih gelap dan menjatuhkan ponselnya hingga terdengar suara Dueeenngg yang sangat keras dan tubuh yang terjatuh.

Penglihatan Hisyam setelah menabrak sesuatu seperti logam atau alumunium di kepalanya menjadi sedikit kabur akibat benturan yang hebat. Dalam kondisi terjatuh tangan Hisyam meraba - raba di sekitar dan menemukan sebuah wajan yang ditabraknya tadi hingga terjatuh. Ternyata ruangan di balik ruangan tamu adalah sebuah dapur yang awalnya Hisyam kira adalah ruangan keluarga dan wajan sialan ini pasti ditinggalkan pemilik terdahulu mugkin karena pembawa sial seperti membuat orang terbentur di kegelapan.

Dari kejauhan Hisyam mendengar suara langkah kaki mendekati dirinya. Di situasi yang gelap dan kehilangan ponselnya yang entah jatuh dimana, dirinya sulit mengetahui langkah siapa itu sampai ada samar - samar warna putih diiringi langkah kaki itu mendekatinya. "Tiddaakk,"" batinnya ketakutan memikirkan bahwa kuntilanak itu mendekatinya. Namun mendadak ada sebuah cahaya yang menerangi mukanya, sosok wanita berpakaian serba putih didepannya yang memegang senter yang diarahkan ke mukanya mendadak berjongkok dan berkata ," kamu tidak apa - apa?"

Mendengar pertanyaan itu dengan curiga Hisyam langsung mengambil senter yang dipegang cewek didepannya dan mengarahkan sinar senter berbalik ke arah muka cewek itu dan dengan cepat tangan satunya Hisyam membuka tirai kain putih transparan yang menutupi wajah cewek tersebut.
"Lusi???!"

Tepat pukul sembilan malam. Bulan purnama semakin mengangkasa di langit malam. Cahayanya semakin benderang, menerangi dua orang yang sedang duduk di balkon lantai dua rumah kosong itu yakni Hisyam dan Lusi.

"Jadi Banu dan Badrun yang menyuruhmu menakutiku di rumah kosong ini?" Tanya Hisyam sambil memandangi wajah Lusi, namun langsung mengalihkan pandangan saat Lusi bergerak menatapnya.

"Yah, benar. Mereka berdua juga sahabatku. Semenjak SD kita bertiga sudah saling kenal dan menjadi sahabat baik. Hanya saat SMP saja kita berbeda sekolahan dan tak menyangka bakal bertemu lagi di SMA yang sama dengan mereka." Jawab Lusi dengan pandangan tajam ke arah Hisyam.

"E...kalau boleh tahu apa yang mereka katakan sehingga kamu mau menakutiku malam - malam di rumah kosong ini?" Tanya Hisyam tanpa berani memandang ke arah Lusi.

"Yah, mereka menceritakan segalanya mengani rasa sukamu kepadaku, segalanya, aku sudah tahu"
"Hah!!" Hanya itu yang keluar dari mulut Hisyam sambil dengan cepatnya mengarahkan pandangan ke arah Lusi sehingga mereka berdua bertemu pandang, namun Hisyam langsung kembali memalingkan muka tak berani memandang Lusi dan wajahnya memerah.

"Aku tahu kamu saat para senior menjadikanmu sasak tinju saat latihan beladiri. Aku tahu kamu selalu dimarahin petugas pada saat latihan paskibra karena kulihat kamu sepertinya tidak berbakat baris - berbaris. Tapi aku tak menyangka semua itu kamu lakukan hanya demi untuk memandangku saja, " Kata Lusi. Namun Hisyam tidak bereaksi apa - apa terhadap kata - katanya itu. Dia hanya diam dan bingung. 1 menit, 2 menit, 5 menit berlangsung dan Hisyam hanya berdiam.
"Berarti ini pertama kalinya kita berbicara bukan?" Tanya Lusi.

"Eh,...mungkin iya.." Jawab Hisyam.

"Kenapa kau tidak mengajakku berbicara ketika saat berada di kegiatan beladiri maupun di kegiatan paskibra?" Kenapa kamu bisa tahan bungkam selama 3 tahun?"
"Karena aku takut..."

"Takut akan apa...?" Tanya Lusi yang semakin penasaran.

"Karena aku penakut dan pengecut." Hanya itu penjelasan yang bisa keluar dari mulut Hisyam tanpa memandang Lusi sedikitpun. Mendengar itu Lusi menghela nafas, sejenak dia diam dan akhirnya berkata dengan tegas,"

"Aku ingin mendengar kamu menembakku sekarang juga Hisyam!" 

"Haa???" Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Hisyam. 

"Apa perkataanku kurang jelas?" Tukas Lusi dengan tajam memandang Hisyam.

"Ah..tidak,  aku menegerti maksudmu, tapi..."

"Tapi apa???"

"Aku menyukaimu Lusi. Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Aku menyukaimu karena sifatmu yang tomboy, perawakanmu yang imut, sesuatu yang bertolak belakang tentang dirimu itu yang membuat ku menyukaimu. Jadi, apa kamu mau menjadii..e... cewek..pacarkku? " Kata Hisyam dengan memberanikan diri memandang Lusi."

Namun Lusi langsung memalingkan muka dari Hisyam. Hisyam pun merasa aneh dengan respon Lusi. Dia mulai berfikir apakah perkataannya salah barusan?" Namun tak lama kondisi sekarang berbalik, tanpa memandang Hisyam, Lusi berkata " Maaf, aku sudah punya pacar Hisyam.  Pacarku seorang mahasiswa, dia kuliah di luar kota. Sebelum dia kuliah kami memang berpacaran satu tahun saat dia kelas tiga dan aku kelas 2, kami berbeda sekolahan. Dihatiku sudah terukir cinta dari orang lain. Apa kau sedih mendengarnya Hisyam?"

"Jelas, tanpa kau tanya pun aku sudah sakit hati." jawab Hisyam dan kini kembali menundukkan pandangannya.

"Kau bisa menerimanya Hisyam?"

"Yah, tentu saja."

"Bagus kalau begitu, dengan menerima jawabanku berarti kau bukanlah seorang pengecut. Kau adalah seorang lelaki," Kata Lusi. Mulai saat ini maukah kau menyukaiku sebagai sahabat Hisyam?"

"Haaa..?" Jawaban seperti ini terulang lagi untuk kesekian kalinya.

"Ah, maap, " tambah Hisyam. " Siapa yang mau menolak menjadikanmu sahabat Lusi," kata Hisyam dengan seulas senyum karena kesedihannya sedikit terobati akibat Lusi mau menjadi sahabatnya. Namun pertanyaan dibenakknya muncul dan tak kuasa untuk menanyakannya kepada Lusi. "Tapi mengapa kau ingin aku menjadi sahabatmu?" Lusi langsung memandangi Hisyam dan berkata:

" Bila Banu dan Badrun adalah sahabatmu maka berarti kamu adalah sahabatku juga, titik, " Jawab Lusi dengan pandangan tajam ke arah Hisyam. " Kau tahu kenapa Badrun dan Banu memaksaku untuk menakutimu dan mengajakmu bicara denganmu disini selain karena terkuaknya rahasiamu karena menyukaiku itu? " Mereka berdua, sebagai sahabatmu tak ingin kamu mempunyai perasaan terpendam seperti ini. Menjadi pengecut yang tak bisa mengutarakan perasaannya. Memendam perasaan dan dibawa hingga ajal menanti. Mereka berdua sebagai sahabatmu ingin kau berubah menjadi lelaki. Dan malam ini, kamu Hisyam sudah belajar untuk melakukannya dan karena Badrun dan Banu adalah sahabatku jadi aku mau membantunya demi sahabat mereka meski perasaanmu terluka tetapi ini demi kebaikanmu. Terluka sesaat lebih baik daripada terluka dibawa terpendam untuk selamanya. Kau harus ingat itu."

"Yah, aku mengerti sekarang. Kupikir awalnya mereka mempermainkanku. Ternyata mereka melakukan sesuatu untuk membantu masalah yang kuhadapi. Dan beruntung, kau adalah juga sahabat mereka Lusi," Kata Hisyam dengan ekspresi wajah yang lebih cerah. "Kurasa besok aku harus mentraktir mereka berdua di kantin sebagai tanda terima kasih."

"Hmmm, aku tersinggung, kau melupakanku Hisyam, kata Lusi sambil melipat tangan di dada dan menghela nafas."

"Ah, iya, ada baiknya kita berempat makan di kantin besok, hehehe" 

Kemudian Lisa menyunggingkan sebuah senyuman untuk pertama kalinya sejak mereka berada di balkon. Lisa meraih tangan Hisyam dan menggenggamnya sambil berkata " Setidaknya, terima kasih sudah menjadi pengagum dan pemuja rahasiaku."

7 comments:

Djangkaru Bumi said...

veitata bahasanya sangat ok punya. ancung jempol !

Djangkaru Bumi said...

maaf ada salah ketik karena husruf chaptanya yang susah terbaca. Bahasa dan kosa katanya sangat baik sekali.

Arief W.S said...

Hehehe sampai salah ketik segala bang. Oke, makasih banyak acungan jempolnya dan sudah mau mampir dan baca2 :)

imaa Rahmawati said...

waahh,,uda yang ketujuh aja ni,
makin menarik ceritanya...
:D

Arief W.S said...

Makasih Imaaa :D Untuk yang ke-8, 9, 10 dan seterusnya menyusul yawh :P

Raja Blangkon said...

Salam kenal, siap untuk dibukukan nih.

Arief W.S said...

Raja Blangkon @ Makasih ya agan Blangkon. Iya, mohon doanya :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...