Monday, July 21, 2014

Evercoss Elevate Y A66A : Kinerja Tangguh, Desain Premium, Harga Tidak Mencekik



Mencari smartphone berkinerja tangguh dengan spesifikasi mumpuni, berpenampilan premium serta mempunyai harga jual yang pas dikantong adalah impian setiap konsumen secara umum. Namun nyatanya, baik merek branded maupun lokal sekalipun jarang mengeluarkan produk yang seperti pemikirian ideal para konsumen diatas. Biasanya, ketika mencari smartphone tangguh di pasaran, para konsumen disuguhkan harga kelas premium bermerek branded yang bisa ditebak tentunya dengan harganya yang menjulang selangit dan hanya beberapa kalangan saja yang bisa membelinya. Ketika opsi untuk membeli sebuah smartphone premium dengan merek branded tidak tercapai karena terjegal dengan faktor harga, biasanya para konsumen kembali melirik merek lokal yang bertebaran. Sayangnya, kebanyakan merek lokal mengeluarkan berbagai jenis seri smartphone hanya menyasar kelas pasar entry level atau kelas menengah kebawah. Alhasil sang konsumen pun tidak bisa membeli sebuah smartphone dengan kondisi baru di level premium baik branded maupun lokal karena kedua alasan yang sudah saya utarakan diatas. Apabila sudah begitu, opsi terbaik adalah membeli sebuah smartphone branded premium dengan kondisi bekas maupun kredit.Jika membeli smartphone premium branded dengan kondisi bekas, selain harganya yang rata - rata tidak terlalu selangit, akhirnya sang konsumen bisa memiliki sebuah smartphone premium branded dengan harga sesuai kantongnya meski jika dinilai dari aspek batiniah, memang sang konsumen tidak akan 100 % puas karena hanya mendapatkan barang bekas meski barang itu berstatus kelas premium. Nilai - nilai ketidakpuasan bisa saja terdapat di adanya goresan, cat yang mengelupas dan faktor lain yang membuat fisik smartphone itu tidak 100 % kinyis - kinyis.





Menyinggung hal diatas, ada sebuah smartphone yang mungkin bisa memberi alternatif harga dan spesifikasi tangguh dengan merek lokal Evercoss yakni dengan seri A66A atau biasa disebut Elevate Y. Meski smartphone ini tidak berada di kelas premium, bisa dibilang berada pada kasta kelas high - end untuk saat artikel ini ditulis, namun harga yang ditawarkan sangat menggiurkan yakni berada dikelas smartphone branded kelas menengah ke atas dan tampilannya pun berkesan premium. Smartphone ini jika tidak salah, diluncurkan pada bulan Juni 2014 saat pergelaran Piala Dunia 2014 berlangsung dan di iklan komersial di televisi mungkin kita sering disuguhi Aktris Rianti Cartwright selaku Brand Ambassador Evercoss sering mempromosikan iklannya. Evercoss A66A atau disebut Elevate Y ini sendiri mempunyai banyak kelebihan di rentang harga yang tidak begitu tinggi yakni di pasaran saat artikel ini ditulis dijual dengan harga Rp. 1.700.000 rupiah. Hal yang paling saya sukai dengan Elevate Y ini sendiri adalah resolusi layarnya yang sudah berukuran 1280 x 720 dengan kepadatan 320 Dpi dan berteknologi IPS membuat mata kita serasa dimanjakan dengan kesegaran warna yang proporsional saat menjelajah internet dan melihat video serta bermain game. Layar Elevate Y juga sudah menggunakan One Glass Solution (OGS) + Full Lamination yaitu teknologi yang menyatukan layar visual screen dengan panel touch screen, sehingga ukuran layar menjadi lebih tipis. Selain itu, layar Elevate Y juga dilindungi dengan Rhino Screen alias kaca badak yang aman terhadap tekanan dan berbagai goresan ringan bahkan anti pecah apabila terjatuh dengan ketinggian dan posisi tertentu. Dimensinya tidak tebal, alias tipis dan bobotnya sungguh ringan ketika dipegang meski ukuran layarnya 5 inch.

Spesifikasi Evercoss Elevate Y

  • Sim Card : Dual Sim
  • Dimensi : 147 x 73 x 8.9 mm
  • Berat : 148.3 g
  • Layar : HD IPS LCD, 1280 x 720 pixels, 5.0 inches
  • Memory : 8 GB, microSD, up to 32 GB
  • Ram : 1 GB
  • Internet : HSDPA+ 21 Mbps
  • Konektivitas : Wifi, GPS, Bluetooth, microUSB v2.0
  • OS : Android 4.2 Jelly Bean
  • CPU : Quad Core 1.3 GHz
  • Kamera Belakang : 13 MP
  • Kamera Depan : 5 MP
  • Baterai : Li-Polymer 1800 mAh
 Spesifikasi sistem menggunakan aplikasi Antutu Benchmark :




Tes pengujian menggunakan Antutu Benchmark dan Quadrant Standart yang bertujuan untuk mencari tahu besaran score akhir secara umum performa sebuah smartphone dalam hal menjalankan berbagai applikasi. Semakin besar indikator scorenya maka kinerja sebuah smartphone semakin baik.

 Dalam hal ini, hasil antutu dari smartphone Elevate Y ini menghasilkan score sebesar 17156 yang menandakan bahwa Elevate Y tak akan mengalami banyak kendala ketika menjalankan berbagai applikasi terutama di sektor game, memutar video HD dan grafis.


Melihat score yang didapatkan oleh pengujian Quadrant standart diatas sungguh mengejutkan bahwa Elevate Y mampu berada diatas HTC One X. Dengan begitu maka Elevate Y akan sangat mulus dalam hal menjalankan applikasi terutama editing foto maupun office.

Pengujian menggunakan applikasi Nenamark 1 dan Nenamark 2 yang bertujuan mendapatkan sebuah FPS ideal sebuah smartphone dalam menjalankan sebuah applikasi game. Standar FPS yang layak untuk bermain game dalam sebuah smartphone bisa dikatakan jika minimal smartphone itu mampu menghasilkan 30 fps. Apabila lebih diatas 30 Fps berarti smartphone tersebut sudah sangat layak untuk diajak bermain secara umum, meski begitu untuk game - game berat tertentu FPS tidak dapat dijadikan patokan karena game - game berat tertentu kadang ada yang lebih membutuhkan RAM yang lebih besar agar dapat lancar dimainkan .


 
Evercoss A66A Elevate Y mengusung dua buah kamera beresolusi tidak tanggung - tanggung. Untuk sektor kamera utama, Elevate Y dipersentai dengan kamera beresolusi 13 MP, autofocus serta disertai LED Flash. Di sektor depan, untuk memanjakan para kaum muda berselfie ria, Elevate Y memberikan kamera depannya dengan kekuatan resolusi 5 Megapixel. Gambar yang dihasilkan oleh Elevate Y ini bisa dikatakan bagus dan jernih, terutama saat diluar ruangan, auto fokusnya bekerja dengan sangat baik meskipun bagi saya sendiri hasil kamera 13 MP Elevate Y tidak memberikan kesan yang menggugah selera seperti kebanyakan hasil gambar smartphone lokal lainnya. LED flash-nya pun tidak dapat berbicara banyak ketika ruangan benar - benar dalam kedaan gelap gulita.

Foto saat berada diluar ruangan dengan kondisi cuaca mendung pada sore hari :
 
 

 Foto menggunakan touch auto-focus untuk mengambil gambar dengan object ukuran tulisan kecil - kecil pada label belakang adidas deodorant.


Foto diambil malam hari di ruangan dengan kondisi lampu menyala dan menggunakan flash :


Gambar diambil saat rungan gelap gulita karena kondisi lampu dimatikan dan hanya mengandalkan kilat cahaya dari Elevate Y:


 Hasil kamera depan Elevate Y :



Kesimpulan :
*) Kelebihan :
- Harga Termasuk Nyaman Dikantong Untuk Spesifikasi Mumpuni Yang Ditawarkan Oleh Elevate Y
- Bentuk Dan Desain Premium
- Kamera Bagus
- Internal 8GB
- Ram 1GB
- Bobot Ringan
- Performa Sangat Mumpuni

*) Kelemahan :
- Belum Menggunakan Kit - Kat
- Kapasitas Baterai Hanya 1800Mah
- LED Flash Tak Bisa Diandalkan Dalam Kondisi Ruangan Gelap Total

Thursday, July 3, 2014

Antusiasme Penonton Transformers 4

Libur akhir semester genap adalah salah satu liburan terpanjang yang dimiliki mahasiswa manapun - karena durasi waktu liburnya hampir mencapai 3 bulan lamanya. Untuk itu saya mengisinya dengan sengaja mengambil semester pendek untuk setidaknya memperbaiki nilai yang dinilai kurang dan untuk menaikkan Indeks Prestasi.

Sebelum perkuliahan semester pendek dimulai, saya memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film di bioskop. Memang ada hiburan lain yang tak kalah serunya dengan menonton film bioskop untuk membunuh waktu - yakni adalah acara Piala Dunia 2014. Tapi melihat sebuah release pemutaran salah satu film di twitter dengan judul "Transformers 4 : Age of Extincion" rasa - rasanya judul film itu gaungnya melebihi kehebohan kompetisi Piala Dunia yang sedang berlangsung bersamaan dengan releasenya Tranformers 4 ini. Yup tak perlu waktu lama, sehari setelah pemberitaan release film Transformers 4 ini, keesokan harinya aku dan seorang teman langsung mendatangi salah satu bioskop di kota Jogja.

Tanggal 26 Juni, tepatnya pukul 13.00 siang, sampailah aku di bioskop Empire XXI yang terletak di Jln. Urip Sumohardjo Jogjakarta. Begitu kagetnya, ketika sampai disana, terlihat antrian para pembeli tiket yang panjangnya sampai keluar gedung dan menjamah di pelataran parkir. Luar biasa. Hal ini mengingatkanku pada saat peluncuran film kiamat 2012 pada tahun 2009 yang lalu yang antriannya juga kurang lebih hampir sepadan. Bedanya saat itu aku datang pada pukul 11.00 pagi, sedangkan pada saat ingin menonton Transformers 4 aku datang pada sing hari yang menyebabkan rasa pesismis untuk dapat memperoleh tiket pada hari itu juga - ditambah akhir bulan Juni ini juga merupakan liburan sekolah. Meski begitu, aku dan temanku tetap memasuki dua deret antrian panjang itu dengan harap - harap bisa mendapatkan tiket meski akhirnya ketika sudah berdiri lama hampir 2 jam, kami akhirnya tidak kebagian tiket.

Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, keesokan harinya aku berangkat lebih awal yakni pukul 10.00 pagi harus sudah sampai di bisokop. Kali ini aku dan temanku tidak kembali mengunjungi bioskop Empire XXI karena trauma akan antrian yang begitu panjang. Untuk kali ini, pilihanku adalah bisokop Cinema 21 yang berada di Amplaz Ambarukmo Plaza. Tepat pukul 10.00 pagi, saat pintu masuk Amplaz dibuka oleh satpam, langsung saja aku berlari masuk kedalam dan menuju lantai paling atas dimana tempat bioskop berada. Ketika sampai disana, begitu kagetnya, antrian manusia sudah menumpuk meski pintu masuk bioskop belum dibuka. Aku jadi bertanya dari pintu mana para manusia ini bisa menyerobot masuk selain dari pintu utama?

Dan akhirnya setelah berdiri lebih dari 2 jam, tanggal 27 Juni 2014 kurang lebih pukul 11.35 aku sudah berhasil mendapatkan dua tiket untuk film Transformers 4. Melelahkan memang jika antusiasme para penonton yang membludak, antrian panjang-pun bakal tak terelakkan. Meski begitu, kelelahan itu pada sore harinya dibayar dengan aksi para robot yang memukau lewat Transformers 4. Memang di seri Transformers 4 ini meski sekuel dari 3 seri sebelumnya, namun ceritanya benar - benar tak ada sangkut pautnya dengan seri terdahulu serta pemeran utama-nya juga sudah berganti. Dengan cerita Transformers 4 yang bagi saya agak sedikit nyeleneh karena adanya para dinosaurus robot yang tak terduga, namun aksi peperangan yang tersaji di Transformers 4 mampu memborbardir atmosfer para penonton yang ada di ruang bisokop. Bagi kalian yang belum menonton filmnya, seri - seri transformer memang lebih cocok disaksikan di layar bisokop daripada di rumah karena jelas sensasi perangnya akan berbeda kecuali bagi yang mempunyai Home Theatre.   

Wednesday, July 2, 2014

Captain Phillips : Drama Pembajakan Kapal Yang Menggugah Emosional

Pembajakan memang sering terjadi dimanapaun dan kapanpun. Kita, selaku penumpang, dalam setiap menaiki segala transportasi  baik itu darat, laut, maupun udara sudah selayaknya untuk bersikap waspada dalam menghadapi resiko terbesar apapun terutama pembajakan.

Bagi yang belum pernah merasakan nuansa pembajakan di dalam suatu transportasi, sudah banyak film yang mengusung tema pembajakan namun bagi saya hanya dua buah film saja yang bertema pembajakan yang bisa menggambarkan dengan jelas, menegangkan, serta menyulut emosi kita saat melihatnya, yakni United 93 dan Captain Phillips. Kedua Film tersebut disutradarai oleh orang yang sama yakni Paul Greengrass ( Bourne Supremacy, Bourne Ultimatum, Green Zone )


Pada United 93, denyut jantung kita akan terus dipacu untuk berdebar - debar dalam pembajakan di dalam pesawat united 93 saat tragedi peristiwa runtuhnya gedung WTC pada tahun 2001. Sedangkan dalam film Captain Phillips, tensi menegangkan memang tidak sehebat united 93, namun porsi adegan yang menyulut emosinal kita disajikan lebih banyak, sehingga mungkin akan sedikit banyak memilukan dan melegakan di akhir endingnya.

Bercerita mengenai seorang Kapten kapal bernama Richard Philips ( Tom Hank's ) bersama 28 awaknya yang saat itu berlayar menggunakan kapal kargo asal Amerika yakni Maerks Alabama yang membawa bahan bantuan pangan untuk Uganda dan Somalia yang menuju Mombasa, Kenya. Di tengah perjalanan,saat melintasi perairan Somalia, kapal kargo Maerks Alabama berhasil dibajak oleh empat orang perompak asal Somalia. Mengetahui kapal sudah berada di tangan para perompak, sang kapten menyuruh seluruh awak kapalnya untuk bersembunyi di bagian mesin. Namun para perompak nekat memaksa sang kapten untuk menunjukkan dimana letak persembunyian para awak. Dengan siasat sang kapten, akhirnya sang kapten berhasil mempermainkan para perompak dan menyelamatkan seluruh awak kapal, namun sayang dirinya sendiri malah disandera oleh keempat perompak saat mereka melarikan diri dari kapal kargo menggunakan kapal sekoci. Hingga akhirnya datanglah dua buah kapal patroli dari amerika lengkap dengan segala personel angkatan lautnya karena permintaan bantuan dari awak kapal untuk menyelamatkan kapten mereka yang tersandera. Di situlah, drama penyelamatan, negosisasi, upaya pelarian diri dan perdebatan yang mengusik emosi kita terjadi.


Seperti halnya United 93, film Captain Phillips ini sendiri adalah cerita nyata yang terjadi pada tahun 2009. Pembajakan kapal kargo Maerks Alabama saat itu sangat gempar diberitakan dikarenakan merupakan kapal asal Amerika pertama yang dibajak setelah dalam kurun waktu 200 tahun. Bila anda ingin mengetahui berita aslinya, Anda tinggal mencari beritanya lewat google. Ada beberapa media lokal kita yang telah memberitakannya.   Kronologi yang ada pada film ini diceritakan berdasarkan biografi dari sang Kapten Richard Phillips sendiri.    
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...