Wednesday, February 25, 2015

Review Singkat Wireless USB Adapter TP-LINK TL-WN722N

Ceritanya bermula ketika Tante saya yang tinggal hanya bersebelahan dengan rumah saya memasang koneksi internet berlangganan melalui layanan penyedia internet Speedy yang dimiliki oleh Telkom. Setelah proses installasi oleh petugas dari Telkom, pikiran awal saya berpendapat bahwa mungkin hanya installasi setting koneksi hubungan port kabel telepon dengan desktop saja. Namun setelah proses installasi kelar oleh petugas, saya melihat bahwa disitu juga sekaligus dipasang AP ( Acces Point ). Yang belum tahu apa itu Acces Point adalah perangkat yang digunakan untuk membuat koneksi wireless pada sebuah jaringan. Artinya dengan adanya perangkat Acces Point memungkinkan perangkat lain ( Smartphone, Laptop, Tablet ) untuk dapat terhubung ke jaringan nirkabel dengan menggunakan Wi-Fi.

Tentu saja itu kabar baik bagi saya yang hanya bersebelahan rumah. Mulanya, saya punya perasaan senang karena bisa menghubungkan perangkat laptop maupun smartphone saya dari rumah saya yang bersebelahan dengan Tante saya melalui koneksi Wi-fi ke Acces Point jaringan internet tante saya. Sayangnya, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Ketika menyalakan wi-fi pada perangkat laptop dan smartphone saya, jangkauan sinyal Access Point yang berada di rumah tante tak bisa dijangkau. Akhirnya saya harus mau gigit jari dan menelan harapan saya untuk bisa memakai internet gratis.

Salah satu contoh Acces Point

Tapi karena saya sering mendatangi pameran komputer, disitu saya sering melihat banyak toko yang memperjualkan perangkat wi-fi adapter baik yang berbentuk usb seperti flashdisk maupun yang ada antenanya, ada pula yang berbentuk lain - lain dengan harga dan spesifikasi yang beragam. Dulu,sebelum tante saya memasang layanan internet Speedy beserta Acces Pointnya, jujur saya selalu meremehkan orang yang memperjualkan perangkat seperti wi-fi eksternal seperti ini. Alasannya simpel, yakni karena perangkat yang saya punyai sudah disematkan wi-fi baik di smartphone maupun di laptop. Jadi pikiran saya saat itu, mengapa harus membeli lagi wi-fi eksternal jika saja hampir disetiap perangkat saat ini sudah disediakan komponen wi-fi didalammnya? Namun, pendapat bodoh saya itu ternyata menjerumuskan diri saya sendiri ketika mendapati bahwa wi-fi yang tertanam pada setiap perangkat apapun itu, jangkauan tangkapan sinyalnya terbatas. Jarak Acces Point yang berada pada rumah Tante saya hanya berjarak sepanjang 10 meter saja dari kamar saya. Namun wi-fi yang tertanam pada perangkat smartphone dan laptop saya tak kuasa mengendus jangkauan sinyalnya. Tak lain juga karena pada jarak 10 meter itu juga terhalang oleh beberapa sekat tembok sehingga menutup ruang gerak jangkauan sinyal.

Menyikapi fakta diatas, akhirnya saya mengubah pendapat saya bahwa mulai saat ini, wi-fi adapter eksternal merupakan sesuatu yang penting bagi kalangan yang membutuhkan. Kita tidak bisa selamanya mengandalkan wifi yang tertanam pada perangkat yang kita punya seberapa mahalpun perangkat yang kita beli seperti laptop dan smartphone tetap saja komponen wifi yang berada didalamnya mempunyai keterbatasan untuk menangkap sinyal. Oleh sebab itu, saya mencoba browsing rekomendasi perangkat - perangkat wi-fi adapter yang dijual di toko. Akhirnya saya membeli sebuah perangkat wi-fi dengan model seperti Flashdisk USB dengan tambahan antena kecil. Wi-fi USB itu bermerek TP-LINK dengan seri TL-WN722N. Saya sempat ragu saat membelinya karena harganya yang terpaut murah hanya 99.000 ribu rupiah saja. Saat membeli, otak saya mengkomparasikan perangkat TP-Link ini dengan perangkat laptop dan smartphone saya di rumah. Jika wi-fi kepunyaan laptop dan smartphone saya saja yang berharga jutaan tak bisa menangkap sinyal Access Point dari rumah Tante saya, bagaimana dengan perangkat Wi-fi USB Adaptor yang hanya senilai 99.000 rupiah saja? Namun walau bagaimanapun, saya tetap membelinya, itung - itung juga sebagai pengalaman. Dan kalaupun berakhir sia - sia, tidak masalah.


Ketika sampai dirumah, saya langsung mencobanya. Pertama saya memasang wi-fi USB TP-LINK tersebut di desktop saya di kamar. Setelah menginstallasi driver dan utility interfacenya, yah saya akhirnya menghembuskan nafas lega melihat ada sinyal meski satu bar yang tertangkap di layar, dan tetap saja perangkat dengan harga murah ini menjadi pahlawan yang akhirnya menyelamatkan saya dari mimpi buruk dan memberikan saya acces internet gratis. Ketika saya memasangnya di laptop dan saya membawanya di ruang tamu, jadi jarak Acces Point dari rumah Tante saya dari ruang tamu menjadi hanya 8 meter saja. Di situ, saya mendapatkan tambahan satu sinyal lagi dan akhirnya menjadi dua bar kekuatan sinyalnya yang ditunjukkan di layar.


Tampilan Interface Utility bawaan CD Driver TP-LINK. Sangat simpel dan mudah dimengerti

Nah, jadi bagi kalian yang di sekolahnya, atau dikampusnya, atau di kantornya, maupun di tempat umum yang kesulitan mendapatkan sinyal jangkauan Acces Point maupun Routers karena jarak di kelas, meja kerja yang jauh dari Access Point ataupun Routers, atau karena banyaknya pengguna yang memakai akses Hot Spot dalam suatu area yang membuat koneksi internet menjadi lambat, tak ada salahnya kalian menggunakan Wi-fi USB tambahan seperti TP-LINK seri TL-WN722N ini karena pengaruh penangkapan sinyalnya jauh lebih kuat dari wi-fi bawaan laptop maupun smartphone mahal sekalipun. Dan lagi, meski perangkat ini kecil, namun daya tangkap sinyalnya juga mampu menembus tembok dalam skala tertentu. Antenanya bisa leluasa diarahkan untuk ditujukan ke arah letak Access Point maupun Routers yang mana berperan sebagai sumber utama sinyal. Dan yang menarik, bentuknya kecil, ringan dan sangat mobile dibawa kemanapun dan kapanpun.


Tampilan interface applikasi Baidu Wi-Fi Hotspot ketika menjadikan Wi-Fi USB TP-LINK menjadi Hot Spot

Namun timbul masalah lagi ketika hanya perangkat dekstop PC dan laptop saja yang mampu menangkap sinyal dari Acces Point karena dipasangi oleh USB wi-fi TP-LINK ini, sedangkan smartphone saya tetap tak bisa mengakses jangkauan sinyal dari Acces Point dikarenakan tak ada perangkat tambahan seperti TP-LINK untuk smartphone. Dan akhirnya, masalah pun selesai ketika saya mengunduh Baidu Wi-Fi HotSpot, applikasi gratis yang hanya tinggal butuh sekali klik saja maka perangkat Wi-fi Anda secara otomatis akan dikonfigurasikan secara cepat menjadi hot-spot. Untuk lebih jelasnya lihat gambar diatas, saya kasih screenshot perangkat Wi-FI TP-LINK saya dengan menggunakan Baidu Wi-Fi Hot Spot, hanya sekali klik langsung dirubah menjadi Hotspot seperti Anda menjadikan Smartphone Anda menjadi Hotspot dengan mentheteringnya dengan perangkat lain. Akhirnya, smartphone saya pun bisa menikmati akses internet.

Sekilas mengenai wifi usb Tp-Link WN722N bisa Anda saksikan disini :

Saturday, February 21, 2015

Cerpen ke-13, Symphoni of Life

Entah kenapa langkah ini begitu berat. Seolah sedang dibebani berton - ton bebatuan yang menjadi benalu di punggungku. Air mata ini rasanya mulai bergejolak, ingin berlomba - lomba untuk segera keluar dari kelopak mataku. Untungnya aku bisa menahan air mata ini. Tentu saja aku akan sangat malu jika menangis tersedu - sedu sepanjang jalan sepulang sekolah. Apa komentar banyak orang jika melihat kondisiku seperti itu?

Namun rasanya benar - benar pahit, membuat bendungan jiwa untuk menahan luapan rasa sedihku ini. Sewajarnya aku harus menangis sekeras mungkin, meluapkan segala kesedihan ini, tapi kurasa aku bisa menahannya hingga ketika sampai dirumah nanti. Dalam keadaan rumah yang kosong sebelum sore menjelang ketika Ayah dan Ibuku pulang kerja, aku bisa berteriak maupun menjerit sepuasnya.

Dalam langkahku yang mulai gontai - perasaan hancur ini tak disangka bisa membuatku seolah tak bernyawa, berjalan sempoyongan seperti orang kehilangan akalnya. Suara petir secara mendadak mengagetkanku. Membuyarkan ketidak warasanku yang sempat menghantui pikiran. Aku baru sadar langit sudah menjadi hitam pekat. Rintik hujan dengan intensitas tinggi langsung mengguyur tanpa peringatan. Aku berlari secepat kilat menuju sebuah halte bus yang tidak jauh berada di depan. Menyandarkan tubuhku di salah satu dinding halte. Menyibak rambut panjangku dan merapikannya ke belakang akibat berantakan karena guyuran hujan.

Tak kusangka hujan sangat lebat hari ini. Bisa dikatakan hampir mendekati badai. Angin yang berhembus sungguh luar biasa, mengurai kembali rambut panjangku ke berbagai arah hingga membuatku menyerah untuk merapikannya kembali. Namun bagiku suasana ini sungguh menguntungkan. Dengan derasnya hujan, suara ribut angin, dan ketika kutoleh ke kanan dan kekiri tak ada satupun orang yang berteduh di halte ini, maka dengan segera aku berteriak sekeras - kerasnnya.

"HHWAAAAAAAAAA!!!!" Begitulah jeritan lirih yang keluar dari mulutku diikuti guyuran air mata yang rasanya sudah berhasil menjebol dinding bendungan jiwa yang sedari tadi aku bangun sepanjang perjalanan. Rasa sedih ini, akhirnya menemukan tempat juga untuk diluapkan. Sebesar apapun jeritan tangisku, tak bakal ada orang normal yang mampu mendengarnya karena tersaingi oleh suara gemuruh hujan dan angin.

"Kau memang lelaki brengseeeekkkkk!!!!"  Seruku untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hatiku. " Dasar lelaki brengsekkkkk!!! Hwaaaaaaaa!!!" Dan entah sudah keberapa kalikah tanpa sadar aku sudah meneriakkan kalimat itu berulang kali.

"Heiii, diam gadis cengeng!!!" Berisik!!"

Sebuah suara mendadak mengagetkanku. Merusak parade jeritan lirih sedihku yang sudah hampir mencapai acara puncaknya. Mau tak mau tubuhku tersentak mendengar suara keras teguran itu. Suara itu tipikal suara lelaki yang kukenal. Namun mungkin itu hanya perasaanku saja. Kutoleh ke sisi kanan asal sumber suara itu, namun aku tidak menemukan seorang pun, hanya sebuah tong sampah berukuran raksasa yang berdiri dengan gagahnya. Saat itu kilat menyambar dengan hebatnya. Cahayanya berkilat hebat, membuat bulu kudukku mulai berdiri. Kulangkahkan kakiku mendekati tong sampah itu, dan ternyata, ada seseorang yang bersandar disebaliknya. Dan ketika diriku tepat berada di samping orang tersebut, ternyata dugaan awalku mengenai suara lelaki yang sepertinya aku kenal ternyata benar, bahwa seseorang yang sedang bersandar itu adalah;

Ba...Bagass...!!" Ap..apa yang kulakukan disini?" Mendengar pertanyaanku, secepat kilat Bagas beranjak untuk berdiri. Mata kami saling bertemu ketika Bagas berdiri tegap di depanku, namun ada hal yang berbeda kudapati pada rona wajahnya. Matanya memerah, hampir semerah darah. Kelopak matanya kembang kempis. Kondisinya tak berbeda jauh dengan diriku saat ini. Kesedihan di wajahnya menandakan bahwa dirinya baru saja selesai menangis. Bisa dikatakan menangis dengan intensitas hebat karena pekat merah warna yang menghiasi kornea matanya tak juga kunjung hilang. Namun, apa yang dia tangisi?

"Aku tak mengira yang berteriak - teriak itu tadi kamu Adaline," Sepatah perkataan dari Bagas disertai ekspresi lunglai dengan menggaruk rambutnya secara pelan. "Apa kata - kata brengsek yang kudengar barusan ditujukan kepadaku?" Tanyanya kemudian sambil memandang tajam ke arah mataku. Namun aku tak bisa lebih lama menanggapi pandangan matanya yang seperti menusuk jantungku yang terdalam. Pandangan itu membuat bahagia, sekaligus perih di hati ini jika terus memikirkannnya. Kemudian karena ekspresiku yang diam, Bagas membalikkan badannya membelakangi aku, berjalan selangkah dan kemudian bersandar di dinding halte.

"Aku memang brengsek. Dan begitulah kenyataannya Adaline. Maafkan aku yang telah menyakitimu." Begitulah ungkapan bersalah dirinya yang ditujukan kepadaku. Kulihat sekarang dirinya melihat langit - langit dengan tatapan kosong. Tubuhnya perlahan - lahan melorot ke bawah dan akhirnya terduduk lesu dengan kaki berselonjor.

Hal ini bermula 3 bulan yang lalu. Bagas, salah satu siswa keren dan lumayan berprestasi di sekolah, mempunyai pacar seorang primadona kelas bernama Stephanie. Mereka berdua sudah berpacaran selama 5 bulan. Namun, bukan rahasia lagi bahwa Stephanie mempunyai sifat buruk selalu membuka hati kepada pria lain meski dirinya sudah mempunyai Bagas. Hal yang sangat bertentangan dengan keinginan Bagas yang ingin mempunyai seorang kekasih yang setia. Oleh sebab itu, suatu hari Bagas mendekatiku untuk menjalankan suatu rencana gila yakni berpura - pura untuk pacaran agar membuat Stephanie cemburu dan membuat dia kapok tidak akan membuka hati lagi untuk pria lain selain Bagas. Aku langsung menerimanya, karena Bagas bisa saja disebut sebagai teman dekat bagiku. Kupikir hanya butuh tiga hari maupun seminggu paling lama bagi aku dan Bagas berpura - pura pacaran di sekolah dan dimanapun agar merebak rumors mengenai kita dan jika sampai di kuping Stephanie akan membuatnya panas.

Namun tidak dissangka, Stephanie acuh tak acuh terhadap apa yang kita lakukan dan Bagas tidak mau rencana ini berhenti sebelum membuat Stephanie cemburu buta. Tanpa disadari, 3 bulan berjalan diisi dengan kebersamaanku dan Bagas. Dalam kebersamaan itu, entah mengapa kita saling mengerti, memahami, dan masing - masing sadar bahwa timbul suatu perasaan yang bukan hanya sekedar pertemanan belaka. Namun, meski timbul perasaan itu, masing - masing mengetahui bahwa kapasitasnya hanya sebatas menjalankan sebuah rencana. Jadi meski tidak saling mengakui, kami sadar bahwa rencana ini tidak boleh gagal akibat perasaan yang terpendam.

Aku selalu berharap bahwa Stephanie akan selalu tak peduli dengan kebersamaan kita bahkan aku berharap Stephanie akan tetap begitu selamanya agar kebersamaanku dengan Bagas utuh seterusnya. Namun hari ini, kejadian tak biasa dan tak terduga terjadi ketika Stepahine mendadak melabrakku ketika berdua bersama Bagas di kelas. Dia mengataiku, memburuk - burukkanku, meluapkan segala emosinya kepadaku saat itu juga karena terus mendekati Bagas. Padahal sebelumnya dia selalu tak peduli dengan apapun yang aku lakukan dengan Bagas.

Bagaimanapun juga, sesuai skenarioku dengan Bagas, ketika Stephanie sudah cemburu buta, maka aku akan menjauh dari Bagas. Meskipun aku tahu Stephanie tidak cemburu saat itu. Dia hanya emosi karena dicampakkan selingkuhannya yakni kakak kelas selaku atlet basket yang dipacarinya. Diam - diam sepengetahuan Bagas aku melakukan penyidikan secara rahasia terhadap Stephanie. Dia meluapkan emosinya kepadaku dengan kedok perasaan cemburu agar bisa memarahiku dan terkesan aku yang selingkuh dan bersalah. Saat itu juga aku harus mundur karena di mata Bagas rencana ini berhasil dan Stephanie kembali dalam pelukannya lagi.

Berat bagiku ketika momen krusial itu berlangsung. Meninggalkan sesuatu yang dicintai dengan kerelaan adalah sesuatu yang menyakitkan. Pernah terpikir diriku untuk mengungkapkan bahwa Stepahnie hanya menjadikan Bagas sebagai ban serep yang hanya dimanfaatkan sesuai keinginan Stepahine. Namun sungguh tidak etis jika aku mengungkapkan itu semua. Sama saja aku menghancurkan harapan Bagas dan skenario ini dengan mengobarkan aib orang lain. Pernah aku sangat berharap bahwa Bagas bisa berubah pikiran untuk memilihku dan menjauhi Stephanie namun aku tidak layak dengan harapan itu mengingat ini semua hanya skenario. Memang perasaan yang timbul terhadap Bagas harus aku tanggung sebagai resiko aku mau membantunya menjalankan skenario ini.

Kudekati Bagas dan aku memposisikan diriku duduk berjongkok di sebelahnya sambil berkata;

" Maaf, jika kamu mendengar teriakanku tadi. Tadi aku diliputi oleh suasana egoisme dan emosi yang sedang memuncak." Kulihat tatapan Bagas masih kosong mengarah ke langit - langit. " Kupikir, kamu bukan seorang yang brengsek. Aku tarik kembali kata - kataku tadi." Mendengar itu bagas menoleh dengan pelan ke arahku.

" Kenapa bisa begitu?" Tanyanya pelan dengan penuh penasaran.

" Karena seorang brengsek itu tidak akan pernah menjadi cengeng seperti dirimu saat ini" Tukasku dengan sedikit senyum. Bagas tak kalah membalas dengan senyum kecutnya.

"Lalu, apa yang sebenarnya kamu tangisi Bagas?"

" Aku menangisi gadis cengeng yang suka berteriak keras - keras didepanku ini, " Katanya dengan menahan sebuah tawa yang tergambar jelas di raut mukanya. Kemudian aku langsung mengubah posisi jongkokku menjadi bersandar di dinding halte persis di samping Bagas.

" Lalu, Bagaimana dengan Stephanie?"

" Aku tidak memikirkan Stephanie untuk saat ini, " Jawab Bagas dengan wibawa yang berubah menjadi tegas. "Stephanie tidak seperti dirimu, yang bisa membuatku menangis jika kehilangan meski hanya untuk beberapa jam saja." Itulah penjelasan Bagas yang menyejukkan hati, dan tanpa sadar aku sudah menyandarkan kepalaku di pundaknya.   

         @@ TERIMA KASIH @@  

Sunday, February 15, 2015

Tips Memilih Powerbank

Tulisan kali ini saya ingin sekedar berbagi pengalaman saja bagaimana cara memilih powerbank yang baik dan handal. Saya sendiri, pertama kali membeli sebuah powerbank kurang lebih pada akhir 2012. Jika mengingat ingat akhir tahun 2012, suasananya pasti terbawa ke saat - saa bertepatan dengan dibuatnya blog saya ini. Oke kembali ke pokok ulasan, powerbank yang pertama kali saya beli saat itu adalah merek Cross berkapasitas 8800mAh dengan harga 280.000. Ketika masa penggunaan kurang lebih 3 bulan, kemampuan powerbank tersebut mulai menurun ditandai dengan jika biasanya mengisi daya full hanya membutuhkan waktu 8 jam saja, lama kelamaan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi penuh daya powerbank tersebut lebih dari 10 jam lamanya. Mengetahui hal itu saya langsung saja menjual murah powerbank itu kepada teman saya. Sejak saat itulah, saya mulai membaca artikel dan menonton video mengenai seluk beluk powerbank yang masuk kategori bagus.

Biasanya konsumen tergiur dengan powerbank berlabel merek terkenal semisal Samsung, Toshiba, LG, Dll. Namun, pengalaman yang belum lama saya alami, menjadikan saya berfikir bahwa merek terkenal pun tidak menjamin kualitas powerbank tersebut berdasarkan kriteria tertentu. Ceritanya sebulan yang lalu saya membelikan powerbak merek Genius untuk adik saya. Seperti yang sudah kita ketahui pada umumnya, bahwa merek Genius termasuk brand besar yang sudah lama berkecimpung di peripheral komputer seperti keyboard, speaker, headphone, card reader, Dll. Berdasarkan nama besar Genius tersebut, saya putuskan untuk membeli powerbak tersebut. Namun memang ada hal mengganjal dalam pikiran saya ketika melihat kemasan powerbank tersebut. Karena pada saat membeli powerbank tersebut saya sudah sedikit paham bagaimana powerbank yang baik itu, ketika mengetahui bahwa di label spesifikasi kemasan powerbank tersebut tak mencantumkan bahwa baterai apa yang dipakai, semisal samsung cell, atau sanyo cell dll. Dan juga saya tak menemukan fitur keamanan satupun yang disertakan di label. Serta harga yang murah, dengan kapasitas 5600Mah, powerbank Genius ini dihargai 110.000 saja. Saya sempat berfikir apa ini produk palsu? Tapi melihat di dalam kemasan terdapat lengkap buku panduan, kartu garansi, dll, saya akhirnya yakin bahwa ini produk asli dan mungkin hanya powerbank kelas bawah yang dikeluarkan oleh vendor besar Genius. Permasalahannya terjadi sebulan pemakaian oleh adik saya. Tiba - tiba saja adik saya mengeluh bahwa powerbanknya mendadak mati total. Nah, saat itu saya kaget, bahwa powerbank meski kelas bawah dengan harga murah keluaran vendor besar seperti Genius mempunyai kualitas yang buruk. Sebenarnya powerbak itu bergaransi 1 tahun, namun saya tidak menggaransikannya, suatu saat saya akan membelikan powerbak yang lain untuk adik saya, jadi setelah tahu powerbank itu mati, saya lebih memilih membongkarnya dan penasaran melihat isi dalamannya.






Begitulah, isi dalaman powerbank Genius dengan kapasitas 5600Mah. Karena dikeluarkan oleh vendor besar Genius, sangat terlihat komponenya sangat rapi. Baterai yang disematkan pun bukan jenis abal - abal, melainkan keluaran Samsung, dan tentu saja batterai dengan jenis ini mempunyai kualitas. Lalu mengapa mendadak mati total jika batterai yang dipakai sekelas Samsung? Saya bukan teknisi, dan disini hanya sekedar menebak saja dengan pemikiran logis dengan sedikit pengetahuan saya bahwa powerbank keluaran Genius ini bisa dibilang tidak jelek, karena melihat dalaman dan batterai yang digunakan adalah Samsung. Hanya, karena ditujukan untuk segmen kelas bawah, untuk menekan harga, mungkin di seri ini tidak disertakan fitur keamanan yang lengkap. Saya juga sudah mengecek seri ini disitusnya, saya tidak menemukan satupun fitur keamanan. Sehingga, meski memakai batterai keluaran Samsung, tetap saja potensi ancaman yang biasanya berupa arus listrik dari luar tetap dapat merusak powerbank tersebut. 

Nah, dari pengalaman diatas, saran saya, sebelum membeli powerbank, telitilah dengan cermat spesifikasi apa yang ditawarkan. Semisal jenis batterai merek apa yang digunakan. Memang tak semua vendor mencantumkan jenis batterai yang digunakan. Kemudian yang terpenting adalah fitur keamanan. Setidaknya, harus ada 2 atau 3 fitur keamanan yang harus disematkan pada sebuah powerbank. Anda bisa melihat di kemasan mau di situsnya langsung. Apabila tidak ditemukan fitur keamanan, bahkan itu produk keluaran merek terkenal sekalipun, lebih baik Anda jangan membelinya. Memang merek terkenal memberikan garansi panjang 1 tahun, tapi jika powerbank itu mendadak rusak di tengah jalan, tentu saja Anda pasti kesal, dan memakan waktu mengurusi garansinya. Ibarat seseorang yang sedang sakit demam ditambah diare menaiki sebuah sepeda motor namun dengan memakai helm meski sebatas pinjam teman, namun helm itu memiliki perlindungan sekelas helm moto GP. Ditengah jalan orang itu ditabrak oleh truk yang kemudian orang itu mendapati dirinya bangun dirumah sakit dan bersyukur dirinya selamat. Sedangkan disisi lain seseorang yang sehat jasmani berbadan kekar menaiki motor Harley bertenaga 200 kuda melaju cepat, kemudian menabrak pembatas jalan, dan akhirnya si pengendara tewas seketika akibat kepalanya membentur aspal karena tidak menggunakan helm. Jika diimplementasikan ke dalam sebuah powerbank, fungsi helm tersebut sama halnya dengan fitur keamanan sebuah powerbank. Namun powerbank dengan fitur keamanan yang tinggi, biasanya terkendala di sektor harga. Dan lagi, jangan pula terkecoh dengan powerbank dengan label merek terkenal namun dengan harga super murah dengan hanya menyertakan garansi mingguan bahkan satu bulan saja. Usut punya usut ketika saya menyimak sebuah video penelusuran powerbank jenis - jenis seperti itu di Youtube, saya mendapat informasi bahwa powerbank - powerbank seperti itu hanyalah powerbank dengan batterai bekas dan diberi kemasan baru dan dilabeli merek terkenal saja. Jadi hati - hati jangan sampai terkecoh.

Nah, dibawah ini akan saya kasih salah satu contoh powerbank yang bisa diandalkan. Saya sendiri memakai sebuah powerbak dengan merek Xiaomi. Sebenarnya banyak powerbank bagus lainnya selain Xiaomi seperti Probox, Asus Zenpower, SPC Transformer, Sony, Panasonic, DLL. Namun karena faktor harga yang lebih murah, saya memilih powerbank Xiaomi berkapasitas 5200 Mah dengan fitur keamanan super komplit. Dibawah ini saya kasih seperti apa wujudnya, dan fitur keamanan apa saja yang disertakan. Oke, sampai disini saja artikel ini. Semoga pengalaman dan tips saya membantu pembaca agar tidak salah atau terkecoh dalam memilih powerbank.  



 

Saturday, February 14, 2015

Resident Evil HD Remaster : Mengorek Detail Asal Muasal Bencana Wabah Virus Zombie

Bagi Anda yang mengenal seri Resident Evil diatas tahun 2000 maupun yang mengenal Resident Evil pertama kali karena versi film layar lebarnya  yang diluncurkan pada tahun 2002, mungkin bagi penikmat seri Resident Evil baik film maupun gamenya di rentang tahun yang saya terangkan di atas pastilah mempunyai unek - unek pertanyaan bagaimana asal mula wabah zombie ini bisa menyebar? Saya selaku penikmat seri Resident Evil, pertama kali mengenal game ini kurang lebih pada tahun 2000 yang pada saat itu diperlihatkan pertama kali dengan game ini oleh teman saya yang mengajak bermain di rental. Seri Resident Evil pertama kali yang saya mainkan adalah seri yang ke - 2 yang notabene diluncurkan pada tahun 1998. Pertama kali mencoba game ini, saya langsung jatuh cinta, dan akhirnya kebawa hampir ke setiap sekuel di seri - seri selanjutnya. Untuk versi layar lebarnya saya kurang begitu suka.


Meski saya terus mengikuti sekuel - sekuel lanjutan seri game Resident Evil, di suatu titik saya penasaran dengan asal mula wabah virus yang menyebabkan mayat berjalan alias zombie ini menjadi bencana hebat. Awalnya saya ingin menemukan jawaban tersebut di versi film layar lebarnya yang seri pertama. Namun, saya tidak mendapatkannya, karena versi filmnya, meski ada beberapa tokoh dan setting tempat yang sama dengan gamenya, namun plotnya sedikit diubah sehingga alurnya jauh melenceng dari versi game-nya.  Alhasil, kurang lebih pada tahun 2010, mau tak mau saya harus memainkan game seri pertamanya yang diluncurkan pertama kali pada tahun 1996. Saya pada saat itu memainkan game seri pertamanya menggunakan emulator playstation 1 di komputer. Dan hasilnya, saya akhirnya mengetahui awal mula musibah mengerikan dalam cerita Resident Evil.

Pada tahun 2015, tepatnya tanggal 20 Januari, Capcom selaku perusahaan yang menelurkan seri Resident Evil kembali mengeluarkan remake dari seri pertama Resident Evil ini. Lebih tepatnya, remake yang dikeluarkan tahun ini adalah remake dari versi konsol Game Cube. Karena pada tahun 2002, Resident Evil seri pertama 1996 versi playstation 1 pernah diremake dengan format definisi tinggi untuk sebatas konsol Nintendo Game Cube, dan tahun 2015 ini, remake Resident Evil versi konsol Game Cube tersebut kembali diluncurkan untuk multiplatform PS3, PS4, Xbox 360, Xbox One dan pastinya Personal Computer alias PC dengan judul Resident Evil HD Remaster yang artinya versi ini dikemas dalam balutan visual High Definition. Jadi meski game lama, terhitung sudah 13 tahun sejak seri pertamanya dirilis tahun 1996, namun grafisnya bisa diacungi jempol dan sensasi survival - horrornya benar - benar bisa dirasakan. Jadi, bagi kalian yang sudah lama mengikuti seri Resident Evil entah di game maupun versi layar lebarnya mulai dari tahun 2000 ke atas dan yang masih ingin tahu lebih detail bagaimana asal mula bencana zombie ini merebak hingga merambat ke sekuel - sekuel game Resident Evil terbaru - baru ini dan Filmnya yang akan menginjak seri ke 6 nya, maka tak ada salahnya mencoba untuk memainkan game Resident Evil Remaster HD ini. Game ini sendiri, meskipun sebatas remake, diluar dugaan, diberitakan laris manis dipasaran Amerika dan Eropa, terlansir dari berbagai artikel yang saya baca di media. 

Untuk lebih detailnya, silahkan lihat review gamenya oleh gamespot dibawah ini :


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...