Wednesday, November 28, 2012

Cerpen ke-2 ku, "HEAVEN", selamat menikmati.


Kadang perasaan kesal ini sering sekali muncul begitu saja. Perasaaan ini kadang muncul saat aku melihat teman – teman lelakiku memainkan olahraga sepak bola di lapangan sekolah. Saat teman – teman wanitaku beradu cepat memainkan lompat karung di halaman depan kelas. Saat semuanya berkumpul berdiri membentuk barisan paduan suara di dalam kelas, melantunkan lagu dengan serempak-nya, membuahkan alunan yang merdu untuk didengarkan.


Perasaaan kesal ini timbul karena melihat wajah – wajah mereka diselimuti oleh kebahagiaan. Ekspresi gembira para teman lelakiku saat berebut bola di lapangan membuat tanganku mengepal erat seakan ingin meninju seseorang. Ekspresi penuh persaingan para teman wanitaku yang menggebu – gebu dan berubah merah seperti gunung yang ingin meletus saat mereka berkompetisi dalam kelompoknya masing – masing, beradu cepat untuk mencapai garis finish dalam permainan lompat karung membuat keningku tanpa sadar dipenuhi keringat dan debar jantungku meningkat. Ekspresi semua temanku saat melantunkan nyanyian dalam paduan suara, membuat aku menggigiti jari – jemariku sendiri hingga memerah.


Aku memang dilahirkan tidak sempurna. Saat pertama kali keluar dari rahim ibuku, semua dokter terdiam saat mengetahui aku tidak menangis, mataku terpejam, namun kaki dan tanganku masih terus bergerak – gerak. Para dokter yang sudah berusaha mengeluarkanku merasa khawatir dengan keadaanku. Hanya ibuku saja yang menangis penuh kebahagiaan dan memelukku. Namun kebahagiaan ibuku tak berlangsung lama, karena beberapa jam setelah itu, saat pemeriksaan diriku lebih lanjut setelah dilahirkan, aku divonis dokter mengalami kebisuan. Aku bertanya – tanya, apa kesalahan yang aku perbuat selama di rahim ibuku sehingga dokter mengabarkan hasil pemeriksaannya yang menjelaskan kepada ibuku bahwa aku tidak hanya mengalami kebisuan, tetapi daya tahanku juga lemah, dan lagi penglihatanku tidak akan maksimal. Ibuku dapat sedikit tersenyum bahagia dalam kesedihannya saat dokter mengatakan bahwa aku masih dapat tumbuh dewasa meski dengan berbagai kekurangan.


Seharusnya aku menjalani masa pendidikanku di sekolah khusus orang cacat agar mendapatkan pelayanan pendidikan kurikullum sesuai dengan keadaanku. Namun karena faktor lokasi sekolah yang begitu jauh, ibuku tak ada pilihan selain memasukkanku di sekolah negeri. Aku memang telat setahun memasuki sekolah negeri, karena di umur 6 tahun, aku setahun lebih dulu  menjalani pendidikan isyarat melalui tangan untuk berkomunikasi, dibimbing oleh guru privatku. Setelah itu, baru aku memasuki sekolah dasar.

Ini tahun ke empatku berada di sekolah dasar. Sudah 3 tahun aku menjalaninya tanpa masalah dalam bidang pendidikan, khususnya dibidang teori. Meskipun tidak terlalu cerdas, tapi aku bersyukur bisa memperoleh nilai lebih baik dari beberapa temanku. Hanya di bidang mata pelajaran tertentu saja yang dalam 3 tahun ini membuatku kesal dengan sendirinya saat mengikutinya. Karena daya tahanku yang lemah, ibuku membuatkanku surat izin agar tidak mengikutsertakan aku dalam setiap pelajaran olahraga. Karena aku bisu, dalam pelajaran seni, terutama seni suara, aku juga hanya bisa duduk manis melihat dan mendengarkan teman – temanku bernyanyi.


Aku berusaha menghilangkan perasaan kesalku selama ini. Namun tampaknya belum ada jalan keluarnya. Malah aku berfikir perasaan kesal ini, semakin lama semakin menjadi – jadi. Kadang di rumah saat menonton acara televisi, mendadak aku juga kesal saat melihat beberapa orang anak memegang medali menjuarai kejuaraan renang. Kadang aku juga kesal melihat seorang pengemis menjuarai sebuah kontes menyanyi. Kadang aku kesal juga melihat banyak anak kecil seusiaku yang karyanya dibukukan dan menjadi terkenal. Ketika anak kecil tersebut diwanwancarai apa rahasia bisa menulis karya hebat seperti ini? Dia hanya menjawab simple yakni dengan banyak membaca. Aku sebenarnya juga suka membaca, teman – teman di kelas juga sering menjuluki aku kutu buku hanya karena aku memakai kacamata dengan lensa tebal karena penglihatanku yang kurang bagus dikarenakan bawaan sejak lahir, jadi penampilanku seperti culun saat memakainya. Akhir - akhir ini aku juga sering menghabiskan waktu membaca ensiklopedia di perpustakaan saat pelajaran olahraga dan seni suara, daripada menjadi seperti gunung merapi yang ingin meletus karena mendadak timbul rasa kesal di hati ini jika hanya berdiam diri dan melihat teman – temanku berolah-raga serta menyanyi. Namun Dokter langgananku, dikarenakan tubuhku yang lemah, maka setelah menginjak umur 5 tahun aku diwajibkan memeriksakan kondisiku setiap bulannya, menganjurkan aku tidak boleh membaca lebih dari 6 jam sehari, karena akan berpengaruh kepada saraf mataku yang lemah jika mataku ini terlalu letih membaca.


Saat ini aku duduk dengan perasaan jengkel memandangi teman – teman lelakiku memainkan bola di lapangan. Entah kenapa aku tidak ingin pergi ke perpustakaan saat pelajaran olahraga seperti biasanya untuk menghilangkan rasa kesal jika melihat teman - temanku bermain. Mungkin karena akhir pekan kemarin aku banyak melihat pertandingan bola jadi hari ini aku masih belum puas dan tetap ingin melihat teman – temanku bermain, meski rasa kesal ini juga sedikit merusak suasana. Aku merasakan ada seseorang yang duduk di sampingku, namun perhatianku masih terpaku pada pertandingan bola, sehingga tak menoleh untuk menghiraukan siapa yang duduk disampingku.


“Tak usah sampai mengepalkan tangan seperti hendak memukul orang saja. Aku jadi merinding melihatmu seperti itu Roy.” Terdengar ucapan seorang gadis yang sepertinya aku kenali. Saat aku menoleh, ternyata Dinda, teman wanita sekelasku. Dinda setahuku orangnya aktif di berbagai organisasi dan panitia sekolah, jadi akan jarang menemuinya jika tidak dalam pelajaran di kelas. Aku Heran, mengapa dia duduk disini dan tidak ikut bermain badminton dengan teman wanita lainnya? Aku kemudian menanyakan kenapa tidak ikut olahraga dengan bahasa isyarat. Namun kupikir dia tak akan mengerti artinya. Memang kebanyakan temanku di kelas hanya akan mau berfikir untuk memahami bahasa isyarat tanganku dengan serius kalau hanya menyangkut pelajaran, terutama saat diskusi kelompok, sedang diluar itu, mereka banyak yang acuh tak acuh.


“Aku berbohong kepada Pak Guru kalau badanku kurang fit hari ini,” sahut Dinda. Memang mengherankan, Dinda menanggapi bahasa isyaratku secepat itu, biasanya teman – temanku yang lainya butuh waktu yang lama untuk menelaahnya. Lalu aku meneruskan dengan bahasa isyarat lainnya untuk menanyakan alasannya berbohong. Dia lalu menjawab dengan tidak semangat bahwa dia melakukan itu karena dia tidak suka olahraga. Jawabannya membuatku terkejut. Aku beranggapan bahwa Dinda yang dikaruniai fisik sempurna tanpa cacat malah tidak menyukai olahraga. Sangat terbalik dengan diriku yang berharap bisa sembuh dari segala kekurangan dalam tubuhku agar punya kesempatan untuk mencoba bermain bola. Lalu aku menanyai lagi mengapa dia berkata seperti itu? Dinda hanya menjawab, “Nanti setelah pulang sekolah, aku memimpin rapat anggota untuk mempersiapkan kegiatan acara ulang tahun sekolah kita bulan depan Roy. Jadi daripada menghabiskan tenagaku untuk hal yang tidak kusuka seperti olahraga, lebih baik kusimpan untuk sesuatu yang benar – benar aku antusias untuk melakukannya. Tahukah kamu bahwa posisi ketua yang selama ini aku idamkan di organisasi sekolah bisa aku dapatkan. Kepercayaan dari banyak orang yang sudah memilihku, dari adik kelas sampai kakak kelas, aku benar – benar punya tanggung jawab besar Roy.”

Aku duduk dideretan paling depan saat berada di ruangan seni. Guru seniku, sebenarnya yang memintaku untuk berada di urutan paling depan, karena faktor penglihatanku. Hampir semua guru mata pelajaranku sudah memahami dengan benar kondisi tubuhku. Dinda, saat ini duduk berada persis di sisi sebelah kiri mejaku. Kata - katanya tadi masih membuatku bingung mengenai alasan dia berbohong untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga agar bisa memaksimalkan kerjanya saat memimpin rapat kelompok sepulang sekolah nanti. Aku mengamatinya sesaat, wajahnya sudah berubah semangat saat pelajaran seni, dia sudah normal kembali.


Pelajaran seni melukis memasuki kelas 4 sudah berbeda dengan kelas sebelumnya. Kalau sebelumnya kami hanya menggambar dengan pensil dan mewarnai dengan crayon maupun pensil warna, sekarang kami diajarkan menggambar dengan menggunakan kuas diatas kain kanvas.

Ini baru pertama kalinya kami semua melukis dengan kuas. Guru membimbing kami dengan serius. Banyak temanku yang mengeluh kesusahan dan tinta warnanya belepotan tak karuan menyebar ke segala arah. Tapi, aku merasa hanya diriku yang tidak menemui masalah. Aku melukis dengan sangat lancar. Aku melukis sebuah pemandangan desa yang sangat indah, hingga beberapa saat kemudian aku sadari raut wajah Iqbal teman sekelasku yang saat ini duduk persis di sebelah kananku terlihat sangat marah melihat hasil lukisanku yang bisa dikatan bagus untuk pemula.


Iqbal, adalah temanku yang pintar menggambar. Dari kelas 1 sampai 3  kemarin dia satu - satunya temanku yang selalu mendapat pujian saat menggambar dengan menggunakan pensil. Saat aku  lihat hasil melukisnya dengan menggunakan kuas, aku sedikit tertawa melihatnya. Melihatku tertawa Iqbal menjadi sangat marah, dia menumpahkan gelas isi cat airnya ke kertas kanvasku, sehingga membuat lukisanku berantakan. Seakan tak bersalah, Iqbal tertawa gembira dan mengatakan bahwa kenapa orang sepertiku yang penglihatannya kacau bisa melukis. Dia menambahi bahwa orang normal lebih pantas menjadi pelukis.


Perkataannya benar - benar menyakiti hatiku. Meski emosi, aku sadar aku tak akan menang bila mengajaknya berkelahi, tenagaku seperti bayi yang bila menggiring bola setengah lapangan saja sudah pasti ngos - ngosan. Jam pelajaran seni berakhir, saat semua mengumpulkan hasil karyanya, aku benar - benar dimarahi guruku karena hasil karyaku yang tidak karuan. Andai saja guruku tahu ini perbuatan Iqbal.


Aku berdiri termenung di depan kelas, hingga sebuah tangan menepuk bahuku. Aku menengok ternyata Dinda yang menghampiriku. Dinda menceritakan bahwa dia mengetahui semua yang terjadi mengenai aku dan Iqbal. Dia menyarankanku agar aku mengikuti lomba melukis yang diadakan saat perayaan hari ulang tahun sekolah. Dinda menyuruhku melukis seindah yang aku bisa di rumah dan memberikan kepadanya saat sudah selesai nanti. Pemenang akan diumumkan saat hari perayaan ulang tahun sekolah. Aku menyanggupi permintaannya, sebelum meninggalkanku, Dinda mengakui bahwa lukisanku jauh melebihi Iqbal. Perkataannya memberiku dorongan semangat, aku mulai melupakan kesedihanku.


Ibuku heran, kenapa akhir - akhir ini aku minta dibelikan banyak kertas kanvas dan juga cat warna. Ibuku sempat banyak mengomel karena lantai kamarku sering kotor terkena cat warna saat aku berlatih melukis. Dan juga aku sering lalai mengerjakan PR-ku dan sering ditegur guru, karena sebagian besar waktuku, aku gunakan untuk berlatih melukis. Tapi, kemarahan ibuku reda saat melihat hasil latihanku melukis. Ibuku terus memujiku, lantas bertanya ada perihal apa yang menyebabkan aku sering dan giat berlatih melukis. Aku menjawab aku ingin mengikut sertakan  karya lukisanku di lomba ulang tahun sekolah nanti. Ibuku langsung mendoakanku agar mampu menjadi yang terbaik. Aku bertanya kalau misal tak juara, apa karyaku akan sia - sia? Ibuku menjawab tetap lukisanku yang terbaik bagi ibuku.


Saat aku berlatih melukis, aku jadi ingat alasan Dinda saat tak ikut pelajaran olahraga dengan berbohong. Sama halnya denganku, aku menghabiskan waktuku dengan giat berlatih melukis hingga melalaikan banyak PR, meski tidak semuanya, hanya beberapa yang aku rasa aku tak akan mampu maksimal di mata pelajaran itu, namun aku tetap belajar agar mendapat nilai syarat minimal di rapot nanti. Saat berlatih, aku merasakan antusiasme seperti halnya antusiasme Dinda saat diserahi jabatan sebagai ketua kelompok yang diidam - idamkannya. Aku jadi sadar bahwa Dinda menyukai hal berbau kepemimpinan dan pengelolaan organisasi. Jadi saat itu dia meninggalkan hal yang tak disukainya seperti olahraga dan fokus kepada sesuatu yang dia yakini sebagai jati dirinya. Aku menebak - nebak pasti Dinda punya cita - cita menjadi manajer atau pemimpin. Dan aku juga terbersit di pikiran bayang - bayang ingin menjadi pelukis.



Saat perayaan ulang tahun sekolah aku tak kuasa menahan rasa bahagiaku melihat papan pengumuman menyuarakan namaku sebagai juara 1 melukis. Aku memotret papan pengumuman itu dan mengirimkannya ke ibuku melalui ponsel. Membagi rasa bahagiaku kepada ibuku. Dinda juga memberiku semangat. Dia bertanya, apa judul lukisan yang aku gambar? Karena aku menyerahkan lukisanku kemarin padanya tanpa judul. Aku jawab judulnya surga. Aku menuangkan imajinasi keindahan ke kertas kanvas sebuah pemandangan pulau Raja Ampat di provinsi Papua Barat yang aku baca di ensiklopedia saat di perpustakaan dan menambahinya dengan berbagai bangunan dari aneka arsitektur dunia, terutama prancis dan inggris. Perpaduan yang aneh, tapi aku lega jadi juaranya. Tak lama, Iqbal juga datang memberiku selamat meski dengan rupa kecut. Dia juga tak lupa meminta maaf atas perilakunya kemarin meski juga aku merasa dia tak benar - benar ikhlas, tapi aku tak mempermasalahkannya.


Saat ini, ketika menjadi seorang juara lomba melukis, aku sadar bahwa selama ini aku sangatlah bodoh selalu berdiam diri, merenung dan selalu merasa kesal dengan sesuatu yang tak bisa aku lakukan seperti bermain bola, bernyanyi dan sebagainya. Ketika aku menjuarai lomba melukis, aku sadar bahwa kekurangan apapun yang ada di dalam tubuh seseorang, pasti ada sesuatu yang dimilikinya dan tak dimiliki oleh orang lain. Awalnya memang kupikir aku tak akan bisa melakukan apapun yang bisa dilakukan oleh anak yang normal tanpa cacat. Tetapi sekarang pikiranku tidak sempit lagi, bahkan orang yang penuh kekurangan sepertiku mampu melukis surga yang banyak menarik semua perhatian teman dan guru - guruku yang menjadi jurinya. Bisa saja kemapuan milikku ini adalah bakat yang diberikan Allah untukku. Tugasku di dunia mulai sekarang adalah berusaha mengembangkannya. Aku tahu, bakat ini diberikan olehku dari Allah, dan jika aku bisa memaksimalkannya nanti, itu akan menutupi segala kekuranganku, tentunya dengan prestasi di bidang seni.


Bagaimana cerpen aku kali ini? Apa kalian menikmatinya? Kasih komentar ya. Silahkan kalau kalian ingin mengkopi atau memposting cerpen karya aku, asal jangan lupa sertakan sumber dan penulisnya, dengan tujuan untuk menghargai sebuah karya, terima kasih :)





Wednesday, November 21, 2012

Jembatan Suramadu, Pulau Madura

Kurang lebih dua bulan lalu, aku dan sekeluarga menuju ke Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Sidoarjo untuk menghadiri acara pertunangan kakak sepupuku. Udah lama sekali semenjak kurang lebih 4 tahun yang lalu saat masih menginjak bangku SMA kelas 2 terakhir kalinya aku ke Sidoarjo. Kangen memang ma kota yang satu ini, terlebih setelah aku tinggal lama sekarang udah jadi lebih indah kotanya. Lebih macet juga pastinya. Kaget sih pas pertama turun dari stasiun Wonokromo dan dijemput paman aku, butuh 1 jam buat sampai rumah Pamanku gara – gara macetnya minta ampun deh, Jogja aja kalah.

Kalau di Jawa Tengah, acara pertunangan kebanyakan biasanya dilakukan di siang hari. Nah, di Jawa Timur kata Pamanku udah kebudayaan sini acaranya pada malam hari, terutama sehabis waktu Isya’. Karena kakak sepupuku cewek jadinya wajib yang jadi tuan rumah. Baru datang dari perjalanan kereta selama 8 jam dari Klaten, yah mau bagaimana lagi, secapek apapun tetep bantuin persiapan buat acara nanti malam. Pas bantu – bantu persiapan, pikiranku tertuju pada pertandingan timnas yang diadakan bersamaan saat itu juga. Ditambah pertandingannya diadakan di Stadion Gelora 10  November Surabaya. Andai acara pertunanganya besok, aku dah nonton di tribun stadion barisan depan,hehe

Pas malam cara pertunangan diadakan, duh mah capeknya minta ampun. Mana disuruh jadi juru foto, bantu – bantuin bawa ini – itu buat para tamu, yah olahraga malam deh pokoknya. Kira – kira ya jam 9 malam lebih dah kelar acaranya. Yang unik nih, di Jawa Timur kalau acara sudah selesai dan makanan masih banyak, ya tetangga – tetangga, para tamu, langsung dengan sendirinya ambil plastik dan ambilin makanan kesukaan masing – masing buat dibawa pulang dengan sendirinya. Aku jadi lucu lihatnya, soalnya kan lo dijawa Tengah kan kita sungkan lo kayak gtu. Kata Pamanku sih itu dah lumrah disini. Yah, itulah uniknya Indonesia, beragam kebudayaan dan tradisi.

Nah besoknya nih hari yang aku tunggu – tunggu. Setelah semalaman tidur ngorok melepas lelah, paginya aku menagih janji Paman aku yang katanya mau ngajak ke Suramadu sebelum aku pulang keesokan harinya. Dengan begitu siang harinya kita sekeluarga berangkat deh ke Suramadu. Aneh ya rekreasi kuk ke Jembatan, hahaha. Tapi ya gapapa, kan Suramadu jembatan terpanjang se-Indonesia. Panjangnya aja 5,5 KM jadi emang wajib dikunjungi. Jembatan Suramadu Menghubungkan Pulau surabaya dan Madura. Tujuan dibangun nih jembatan agar mempermudah akses jalan darat di selat Madura bagi masyarakat, tetapi lebih tepatnya untuk  akses mempercebat pembangunan di pulau Madura meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi yang relatif tertinggal. Di bawah ini aku mau share photo pas berada di jembatan Suramadu. Memang sing pengemudi dilarang berhenti pas melaju di atas jembatan. Tapi lo pas sepi gak ada patroli, kita bisa lihat kuk banyak yang foto2 narsis. Maap lo potonya jelek, Cuma pakai kamera HP seadanya


Ini foto saat berada di jembatan utamanya. Jembatan Utamanya menggunakan konstruksi Kabel dan ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter.



Kalau gak ada Patroli Polisi. Yah aman - aman aja berhentiin mobil dan berfoto sepuasnya. Tapi kalau dari jauh dah kelihatan patrolinya, cepet - cepet masuk lagi, hehe.




Setelah puas foto - foto, langsung aja menuju ke pulau Maduranya. Dari kaca dalam mobil dah kelihatan dari jauh pulau Maduranya. Pemandangannya sangat bagus lo aslinya dan udaranya sangat sejuk karena anginnya kencang dan suara desir ombaknya seakan gak habis2. 



Saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Madura, setelah melewati pintu tol utama kita disambut oleh Pasar yang menjual beraneka ragam pernak - pernik cinderamata mulai dari batik Madura, dll.






Ketiga Foto diatas udah jelas memperlihatkan betapa gersang dan tertinggalnya wilayah Madura itu. Makanya kuk sate Madura bertebaran di Jawa, mau jual di padang gersang giini siapa yang mau beli? Oleh karena itu  pemerintah sudah tepat membangun jembatan Suramadu untuk akses pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi.



Saat memasuki Kota Bangkalan, kita sudah bisa menemukan pemukiman penduduk yang padat



Di tengah perjalanan, perutku keroncongan. Aku bilang ke Pamanku saatnya kuliner, trus Pamanku memberiku kebebasan untuk memilih makanan apa saja yang ada di Pulau Madura ini. Aku sih gak tau makanan khas Madura, setahuku cuma sate Madura, tapi di tengah perjalanan aku melihat plang bertuliskan bebek bengal yang menggugah selera. Ya aku suruh Pamanku untuk segera memutar menuju ke rumah makan itu.



Bebek bengal. Aku kepikiran apa bebek disini nakal - nakal ya. Atau sekedar hanya nama rumah makannya. Saat masuk ke dalam restoran, pilihanku tertuju pada Bebek rendang di buku menu. Pas nulis ini pun aku jadi ngiler kembali lo teringat saat itu.
  

Yah Beginilah Bebek Rendang yang aku pesan. Aku kaget saat saos lomboknya tu gak karuan banyaknya. Benar - benar bengal pokoknya. Tapi hanya bengal tampilannya saja kuk. Setelah dicicipi, saos lomboknya tak lebih dari lebih dari sekedar bumbu penikmat saja. Nikmat, kenyang, tapi gak benar - benar sampai ngeluarin keringat. Alhamdulliah deh :)

Tuesday, November 20, 2012

Cerpen : The Last of Us

" Maapkan aku Budi. Hubungan kita sampai disini saja. Mulai saat ini kita menjadi teman biasa."

Kata - kata Mona, masih terngiang - ngiang di benak Budi. Entah kenapa kalimat yang diucapkan Mona itu lebih mudah diingat kembali oleh Budi daripada menghafalkan rumus Fisika dan matematika. 

Dua minggu lalu. Di sebuah warung makan khusus anak muda di tengah kota. Mona mengucapkan kalimat perpisahan itu. Budi yang awalnya sangat senang sekali karena tumben Mona  mengajak keluar nge-date, toh biasanya Budi yang selalu mengajaknya dahulu, mengira Mona bakal mengajaknya melakukan sesuatu yang Romantis. Tetapi harapannya pupus sudah saat kalimat itu Mona ucapkan di tengah harapannya yang hancur.

Tiga bulan lalu, hati Budi serasa berbunga - bunga. Seorang wanita dari kelas lain yang sudah dianggap primadona, mendadak melayangkan rasa sukanya kepada Budi dan memintanya untuk menjadi pacarnya. Seperti mendapat berkah, Budi benar - benar tidak bisa menolak kesempatan emas seperti ini. Teman - teman Budi pun banyak yang terheran - heran, mengapa hanya Budi yang mendapat seorang permasuiri secantik Mona ? Selain cantik, Mona adalah anak seorang konglomerat direktur perusahaan. Sedangkan Budi, hanya  anak dari seorang warga kelas menengah.

Seumur hidup Budi, dia tidak pernah membayangkan ingin berpacaran. Mendekati wanitapun dia sangat grogi. Saat diminta Mona menjadi pacarnya, keringatnya pun bercucuran tak karuan. Sebelum menjadi pacarnya Budi hanya sebatas tahu bahwa Mona adalah primadona di kelas 3 jurusan IPA. Dia tidak benar - benar paham apa yang dipikirkan Mona saat memintanya menjadi pacarnya. Tapi disaat - saat tertentu di sekolah, Budi merasa bahwa dia selalu diperhatikan oleh Mona secara diam - diam. Meski begitu, Budi tak benar - benar yakin ada perasaan di hati Mona dan dia mengacuhkannya. Ketika Mona memintanya menjadi pacar , dia baru sadar, perasaan yang diacuhkannya ternyata salah, ternyata Mona benar - benar menaruh hati padanya.

Bagaimanapun juga Budi tetap harus menerimanya. Mona adalah wanita yang cantik, kaya, dan primadona di sekolahnya. Dia juga merasa, sudah waktunya dia harus mempunyai pengalaman berpacaran. 

Sejak saat itu mereka berdua sering bersama. Budi sering menemani Mona  makan siang di kantin sekolahan. Setiap malam minggu dia selalu mengajak Mona nonton. Budi juga sering meminta bantuan Mona untuk mengajarinya pelajaran Fisika dan Matematika, karena dia bukan anak yang cerdas, jadi mereka kerap menghabiskan waktu bersama.

Ketika Mona sakit, Budi tak henti menjenguk di rumahnya. Rumah Mona sangat besar, tapi Budi tak pernah sekalipun bertemu dengan orang tua Mona yang selalu sibuk ke - luar kota. Ketika Mona sedang sedih karena jarang bertemu orang tuanya, Budi selalu menghiburnya. Ketika Mona mengutarakan cita - citanya, Budi selalu mensupportnya agar tetap semangat meraihnya. Ketika Mona ingin ke suatu tempat, ingin membeli sesuatu, ingin melihat sesuatu, ingin mendengar sesuatu, Budi selalu menawarkannya untuk mengantarkannya kemana Mona ingin pergi, meski sebenarnya Budi hanya menemani Mona saja di dalam mobil, karena Budi tak punya mobil, dia hanya mengandalkan angkutan umum, sedangkan Mona yang menyetir dengan mobilnya. Budi merasa ingin selalu ada di manapun Mona berada kalau dia bisa, Budi selalu ingin ada kapanpun kepada orang yang mencintainya, kalaupun dia tidak bisa, Mona selalu bisa mengerti alasannya dan tak pernah marah.

Tapi memang ada suatu perasaan janggal yang Budi rasakan selama jalan dengan Mona. Di saat bersama, terkadang Budi melihat Mona selalu termenung memikirkan sesuatu sampai dia tak sadar bahwa Budi sudah memanggilnya berulang kali. Sering kali saat bersama, Mona meneteskan air mata. Ketika Budi bertanya ada masalah apa, Mona selalu mengelak dan meminta agar Budi tak ikut campur. Budi juga tak terlalu memaksa untuk ingin tahu agar bisa menjaga perasaan kekasihnya. Mona juga tidak pernah mengajak Budi ke suatu tempat untuk nge-date. Mona hanya mengutarakan keinginaannya saja, sedang Budi yang selalu menawarkan diri untuk menemani Mona.

Ketika mendapat pesan bahwa Mona mengajak Budi bertemu untuk makan malam di warung khusus remaja, betapa bahagianya perasaan Budi.  Ini pertama kalinya dalam kurun waktu 3 bulan Mona mengajaknnya keluar. Saat itu, Budi dan Mona sudah lulus dari bangku SMA. Budi hanya tinggal mencari kerja karena orang tuanya tak mampu untuk membiayainya meneruskan pendidikannya ke tingkat Universitas, sedangkan Mona  sedang bingung mencari kampus yang cocok untuk merealisasikan cita - citanya. Budi mempunyai harapan jika saat bertemu nanti Mona mau membicarakan tempat kampusnya nanti agar tak terlalu jauh, karena toh kalau jauh, Budi bisa galau karena lama tak jumpa disebabkan faktor lokasi.

Saat itu pukul enam  lebih lima belas menit. Malam sudah menutupi langit. Warna hitam pekatnya seakan seperti tinta yang lumer di dalam air putih. Meskipun masih ada sisa - sisa cahaya matahari terbenam, toh tak lama warna itu akan hilang disantap oleh kelamnya malam. Bulan Mulai menampakkan diri, meskipun sebatas malu - malu dengan setengah badannya masih tersembunyi di balik awan.

Budi, memasuki pelataran parkir warung makan khusus remaja di kotanya. Setelah memarkirkan sepeda motornya, dia langsung bergegas memasuki warung tersebut. Pertama masuk dia agak kebingungan mencari Mona karena banyaknya orang yang sedang makan disitu. Budi celingak - celinguk seperti monyet yang kehilangan induknya. Tapi tak butuh waktu lama, pandangannya menemukakan tempat dimana Mona memesan tempat duduk, yakni di bagian pojok ruangan. Ada perasaan yang tidak enak  di hati Budi saat melihat Mona dari kejauhan  yang ketika itu duduk sambil menundukkan pandangannya ke bawah. Budi merasakan Mona sedang mengalami sesuatu yang membuatnya sedih.

"Wow, tenderloin kesukaanku sudah kamu pesankan ya Mona, " kata Budi secara tiba - tiba saat mendadak muncul di hadapan Mona yang membuatnya sedikit tersentak kaget.

"Kau mengagetkanku saja Budi.'' Tukas Mona. Duduklah dan segera dimakan tuh tenderloinya, nanti keburu dingin. Lagian kuk lama sekali?  Aku malah sudah menghabiskan Iga bakarku."

"Maap Mona," jawab Budi sambil menarik kursi dan kemudian duduk." Sejak kapan di kota kita tidak pernah macet kalau di malam minggu. Lihat saja betapa sumpeknya warung steak ini jika malam minggu tiba. Warung ini aja sumpek, gak bisa bayangin deh kondisi jalanan di luar sana." Eh iya, btw kamu kuk bisa datang lebih cepat dari aku Mona? Bukannya jarak rumah kamu lebih jauh dari warung ini? Tanya Budi sambil melahap potongan daging tenderloin miliknya.

"Apa sih yang gak bisa aku lakuin tepat waktu," Jawab Mona. "Aku sudah tau bakal macet, jadi aku berangkat 45 menit lebih awal dari janji kita." Namun Budi tidak menggubris omongan Mona, dia malah kelihatan asyik menyantap makanannya. " Huh dasar kamu Budi, kalau sudah soal makanan lupa dengan segalanya,"Tukas Mona kesal. Tapi setelah itu, Mona memandangi Budi dengan tersenyum. Mona memandangi Budi yang asyik menyantap makannannya dengan seulas senyum kebahagiaan. Dia begitu menikmati raut wajah Budi yang begitu lapar. Dia menikmati pipi Budi yang belepotan menjadi sesuatu yang lucu dibenakknya. Hingga tanpa sadar air mata menetes di pipinya.
"Eh, kenapa kamu Mona?" Tanya Budi ketika sadar kekasihnya meneteskan air matanya.

"Ah, tidak apa - apa ," jawab Mona pelan saat tersentak mendengar pertanyaan Budi dan sadar bahwa dia meneteskan air mata. Dia mengeluarkan tisu dari tas mungilnya dan mengusapkannya ke wajah. 

"Apa kamu mau menceritakan kepadaku sekarang apa sebenarnya penyebab dirimu selalu meneteskan air mata mendadak jika kita sedang berdua Mona?"

"Habiskan dulu makanmu Budi, setelah itu aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu," Jawab Mona dengan seulas senyum.

"Aku sudah selesai makannya kuk Mona, " kata Budi sambil merapikan perlengkapan makan di meja, meski masih tersisa beberapa potongan daging, tapi toh Budi tak mau melanjutkan menghabiskan makanannya karena perasaannya sudah tak tenang melihat kekasihnya menangis dan membuat rasa makanan itu otomatis juga tak sedap seperti sedia kala.

"Budi maukah kamu memaafkan aku? Tanya Mona dengan memasang wajah bersalah. Seperti halnya seorang anak yang ketangkap basah mencuri mangga tetangganya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu Mona? Aku tak paham. Kamu tidak salah apa - apa kuk selama ini?"

"Tidak, tidak begitu Budi. Aku ini egois. Aku ini tidak jujur. " Kata Mona. Matanya kini mulai memerah karena air matanya sudah ingin berlomba - lomba menggenangi kelopak matanya.
"Ceritakan padaku apa masalahnya," Kata Budi sambil mendekatkan letak kurisnya ke dekat Mona serta menarik dan memegang tangan Mona.

"Bisakah kita berbicara diluar saja. Lebih baik kau tunggu  aku di dalam mobilku. Aku akan membayar semuanya dulu," anjuran Mona kepada Budi sambil menyerahkan kunci mobilnya. Kemudian Mona langsung bergegas menuju kasir untuk melakukan pembayaran. 

Di luar, terutama di pelataran parkir. Suasana sangat sepi. Sangat jauh berbeda dengan suasana yang ada di dalam warung. Budi, duduk sendirian di dalam ruangan mobil. Mona tak kunjung datang karena antrian di kasir juga sangat panjang. Perasaannya serasa tak enak. Apalgi mendengar pernyataan bahwa Mona telah tidak jujur selama ini kepadanya. Emosi bergejolak di hati Budi. Tapi semarah apapun Budi, dia tidak akan pernah bisa memarahi Mona. Apalagi belum jelas alasannya kenapa Mona membonginya. Dan juga membohongi soal apa? Kepala Budi seakan ingin pecah memikirkan pertanyaan itu. Pintu mobil terbuka,  dan Mona langsung masuk ke dalam dan menutup kembali pintunya. Mereka berdua bertatap - tatapan sejenak, pandangan mereka seperti saling menatap orang asing.

"Ceritakannlah apa yang selalu membebanimu selama ini Mona, " Kata Budi. Aku akan mendengarkan semuanya."
"Aku sebenarnya benci ingin mengatakan ini Budi. Setiap hari pikiranku selalu tertuju pada kebencian saat tiba dimana aku bisa mempunyai waktu untuk mengatakan ini Budi. " Kata Mona. Baiklah, aku ingin mengatakan maapkan aku Budi, hubungan kita sampai disini saja. Mulai saat ini kita menjadi teman bisa."

Kalimat itu benar - benar mengguncangkan jiwa Budi. Perasaannya bagaikan tersambar petir. Budi bangkit dari tempat duduknya dan mendekatkan dirinya kepada Mona dan menggenggam tangannya.
"Kenapa kau mencampakkan aku Mona. Berikan alasan yang tepat agar aku bisa menerimanya. Dan apakah dengan alasan itu sudah tidak ada lagi jalan keluar untuk mempertahankan hubungan kita?"
Air mata menetes di wajah Mona. Seperti air terjun yang guyuran airnya seakan tak pernah berhenti membanjiri wajah Mona.  Mona terus menatap Budi dengan wajah haru. kesedihan benar - bernar terpancar di wajah Mona. 

"Maapkan aku karena aku sudah tidak jujur. Akan kukatakan yang sebenarnya Budi,"kata Mona dengan tersedak - sedak akibat menahan tangis. Mona, mengatur nafasnya sesaat dan mengusap air matanya sebelum kembali melanjutkan ceritanya. 

"Sebenarnya aku sudah dijodohkan dengan anak teman bisnis Ayahku sejak 3 bulan yang lalu. Perjodohanku ini diharapkan bisa merangkul perusahaan teman ayahku itu untuk memperluas jaringan bisnisnya. Oleh sebab itu, aku memutuskan   hubungan ini Budi. Karena besok, aku diharuskan keluar kota menemani calon suamiku itu"

Budi yang saat itu menggenggam salah satu tangan Mona sontak melepaskannya. Dia benar - benar tak percaya dengan pernyataan Mona. Mona menyembunyikan sesuatu kenyataan yang mengerikan bagi Budi. 

"Lalu kalau kau sudah dijodohkan, mengapa kamu menyatakan cintamu kepadaku 3 bulan kemarin? Bukankah kita semestinya tidak usah berpacaran jikalau kamu sudah mengetahui bahwa akhirnya bakal seperti ini?" Tanya Budi dengan sedikit emosi dan wajah yang mulai memerah. Tapi sebenarnya Budi menahan lonjakan emosinya. Dia, takkan pernah sanggup melampiaskan emosinya kepada Mona.

"Bukannkah sudah kukatakatan bahwa aku egois. Aku memang mencintaimu, menyayangimu. Aku menaruh rasa suka padamu jauh sebelum aku menembakkmu. Tapi setelah perjodohan itu, aku yakin tak akan bisa memilikimu. Jadi aku menjadikanmu kekasihku agar 3 bulan terakhir ini arku bisa menghabiskan waktu bersamamu. Merasakan perhatianmu yang tak akan pernah bisa kudapatkan dari calon suamiku nanti. Merasakan cintamu yang tak akan pernah aku dapatkan dari calon suami yang aku belum 100% mengenalnya. Mona, menjelaskan semuanya dengan menangis tersedu - sedu.
"Jadi kamu mempermainkanku Mona?" Tanya Budi." Mona hanya bisa menangis, dan tak menjawab. Sedangkan Budi  sepertinya sudah tahu jawabannya.

Suasana hening saat tangisan Mona sudah mereda. Budi duduk merebahkan badannya di kursi mobil dengan pandaagan menerawang ke arah luar kaca jendela. Memandangi bintang - bintang gemerlip di langit. Sedangkan Mona, lega karena sudah mengutarakan beban yang selama ini dia tanggung kepada Budi. Dia memandangi Budi, menunggu apa reaksinya, karena sudah lama mereka berdiam diri.

He..he..he..he..he ..." Mendadak Budi tertawa. Mona jadi heran melihat tingkah budi. Lalu Budi berkata, " Bodohnya diriku berharap jauh bisa selalu bersama dengan dirimu Mona. Memang aku aku sudah memumpuk banyak harapan akan hubungan kita. Tapi rasanya malam ini gunung harapan yang sudah kubangun itu runtuh. Aku memaafkanmu Mona, dan aku akan mencoba melupakanmu."

Mendadak Mona bangkit dari kursinya, dia merebahkan tubuhnya ke arah Budi. Kedua tangannya memegang erat kepala Budi, mendekatkannya pada wajahnya dan segera dia mencium bibir Budi. Budi juga tak ingin kalah, dia juga mendekap erat tubuh Mona. Ciuman itu rasanya tak ingin hanya sesaat. Ciuman itu ingin selamanya mereka berdua miliki. Mereka merasakan kasing sayang, cinta dalam ciuman yang singkat itu. Tapi mereka harus berat hati karena mereka sadar ciuman itu adalah ciuman perpisahan.

Mona melepaskan bibirnya dari bibir Budi. Pandangannya menatap tajam kepada Budi. Mereka berdua, melepaskan pandangan tak rela untuk saling berpisah.

"Maapkan aku Budi. Aku berharap kamu menemukan wanita yang tak hanya dirinya yang bisa kamu miliki, melainkan juga cintanya." Itulah perkataan terakhir Mona sebelum mereka berpisah.

Kejadian dua minggu yang lalu itu masih terus terngiang di benak Budi hingga saat ini. Di dalam kamarnya, Budi terbaring dengan menatapi foto wajah Mona dalam ponselnya. Suara hujan yang berisik dan guntur yang seakan berlalu - lalang perlahan - lahan mulai surut terdengar dan mereda dari luar kamar Budi. Kemudian Budi memencet tombol delete dan menghapus foto Mona. Dia akhirnya bisa mencoba untuk melupakannya setelah 2 minggu terakhir ini selalu terbayang kejadian waktu itu dan perkataan pencampakan Mona terhadap dirinya.

Budi bangkit dari tempat tidurnya. Dia membuka kain gorden pada jendela kamarnya. Cahaya terang matahari masuk melalui kaca jendela dan menyinari seluruh ruangan kamar Budi. Kegelapan akibat mendung dan hujan sudah mereda. Budi mendapatkan pelajaran akan cinta pertamanya dan juga saat pertama kali dia berpacaran dalam hidupnya. Bahwa sesungguhnya cinta itu terkadang tak bisa memiliki. Karena jodoh dan takdir memang sudah ditentukan di atas sana. Namun Budi tetap berharap suatu hari dia menemukan pasangan yang benar - benar dia miliki tak hanya dirinya, melainkan cintanya sesuai dengan harapan Mona di saat detik - detik akhir perpisahan mereka. Budi kini bangkit kembali dari kesedihannya yang telah mengurungnya selama dua minggu. Dia ingin memulai harapan baru. Karena harapan itu tak akan pernah berakhir, seperti halnya sinar matahari yang akan selalu menerangi jikalau mendung sudah berakhir. Sinar matahari juga tak akan pernah pudar layaknya harapan baru seseorang.

Yach sebenarnya aku nggak begitu suka sih bikin cerita melow kayak gini. Tapi ya gak masalah, mudah - mudahan para pembaca menikmatinya. Kalaupun ingin memposting cerpen ini di blog kalian silahkan, tapi jangan lupa kasih sumbernya ya, biar hargai penulisnya dikit. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...