Saturday, May 31, 2014

Dreadout Game Lokal Buatan Anak Bangsa yang Patut Dibanggakan

Bosan memainkan game Resident Evil yang selalu saja tak ada habisnya menghajar para zombie yang haus darah dan juga genre-nya yang semakin jauh meninggalkan survivor horror? Atau menyerah dengan game Silent Hill yang kebanyakan selalu memutar otak untuk memecahkan sebuah puzzle yang begitu sulit? Atau malah pusing, mual memainkan game horror - action trilogi FEAR dengan format FPS? Seiring berjalannya waktu, pastinya kita bakal menemukan titik kejenuhan dalam mengikuti sebuah franchise game yang berkepanjangan seperti Resident Evil yang mulai dari 1-6 dan beberapa variannya dan juga game lain sejenis. Kadang kita memerlukan suatu penyegaran dalam game terutama yang bertemakan horror. Apalagi kita mempunyai sebuah kebanggaan dalam memainkannya? Loh, bangga memainkan game? Kuk bisa? Tentu aja bisa, jika saja kita memainkan game buatan anak bangsa yang masuk kategori berkualitas! Memangnya ada? Tentu saja, game itu berjudul Dreadout.

Dreadout adalah game ciptaan anak bangsa yang dikembangkan oleh studio game independent Digital Happines yang berada di Bandung. Dreadout sendiri berjenis game horror. Nah kalau saya bilang game horror dan buatan Indonesia tentunya kalian pasti berpikir langsung mengenai pocong, kuntilanak, sundel bolong dll! Yah memang pikiran kalian tak salah, memang itulah hantu - hantu yang akan dimunculkan di dalam game Dreadout ini. Namun jangan salah tangkap game ini akan menjadi lucu seperti film - film horror yang beredar di Indonesia, buat saya, kalau ada dari sekian banyak dari kalian yang punya riwayat sakit jantung, saya sarankan jangan memainkan game ini! Karena meski mengusung hantu lokal, game ini benar - benar dikemas secara apik dan kesan menyeramkan akan kita temui bahkan di awal permainan.

Bagi yang ingin sekedar mencoba memainkannya, Digital Happines berbaik hati memberikan demonya secara gratis yang bisa didownload dengan ukuran kurang lebih 500-an MB. Di versi demonya, kita langsung dibawa untuk menjalankan karakter utama yakni Linda yang tiba - tiba bangun di sebuah ruangan rumah kuno, ketika dia tersadar dari tidurnya, perhatiaannya tertuju kepada sebuah smartphone bergetar hebat di lantai karena menerima panggilan. Ketika Linda menjawab panggilan tersebut, muncul sebuah suara dari salah satu temannya dan mendadak frequensi menjadi kacau dan suara itu menjadi tidak jelas dan mendadak ponsel mati. Saat itulah sebuah kuntilanak mendadak muncul dibelakang Linda dan permainan mencekam dimulai.

Sedangkan versi originalnya, sebelum memulai permainan kita akan disuguhkan cerita awal bagaimana Linda dan teman - temannya yang kesemuanya masih anak Sekolah Menengah Atas dan seorang guru wanita pemandu menemukan sebuah tempat mengerikan dan akhirnya Linda dan semuanya tersesat di dalammnya.

Memang ada kesan seperti game Silent Hill saat saya mencoba memainkannya atau bisa juga dibilang gabungan antara game Silent Hill dan Fatal Frame. Namun buat saya wajar - wajar saja bila memang ada unsur - unsur diatas toh mungkin developernya salah satu fans game diatas. Meski begitu, kreativitas developer dalam menciptakan game Dreadout ini patut diacungi jempol karena mampu menghadirkan atmosfer mencekam dalam balutan hantu lokal. Bagi kalian yang ingin beruji nyali, tidak hanya berani melihat uji nyali saja di televisi namun serius ingin beruji nyali, silahkan saja main game Dreadout ini!. Intensitas ketegangan yang saya rasakan saat bermain Dreadout ini adalah bisa dikatakan sama seperti memainkan game Dead Space, Metro Last Light maupun Outlast. Kekurangan game ini bagi saya hanya masalah clue maupun informasi detail dalam memecahkan sebuah puzzle. Terlepas itu semua, ada rasa bangga saat memainkan game ini yang tidak saya dapat ketika memainkan game - game lain meskipun lebih bagus daripada Dreadout, yakni karena game ini buatan anak bangsa dan saya bangga memainkannya :)    

Tuesday, May 20, 2014

The Fault in our Stars : Asam Manis Percintaan Dalam Ketidaksempurnaan



Kebanyakan, sering kali kita temui baik di sinetron, film maupun di beberapa novel maupun komik sebuah kisah cinta yang romantis antara dua insan yang berakhir dengan indah penuh kesempurnaan duniawi. Biasanya tokoh sang cowok maupun cewek digambarkan sangat sempurna dan ideal dan kedua tokoh perfect tersebut memperkuat kesan bahwa mereka pantas untuk mendapatkan sebuah cinta sejati karena kesempurnaan mereka. Namun berbeda halnya dengan kisah cinta yang akan diceritakan dalam sebuah novel laris karya John Green yakni The Fault in our Stars.

Diceritakan Hazel Grace Lancaster, seorang gadis berumur 16 tahun yang harus berhenti sekolah karena menderita sebuah kanker yang tidak bisa disembuhkan. Untungnya, sebuah obat bernama Phalanxifor meski tak mampu menyembuhkan penyakitnya, namun bisa memberinya sedikit waktu lebih lama untuk bisa bertahan hidup. Paru - parunya yang lemah, membuatnya harus memakai selang oksigen yang dipakaikan di kedua lubang hidungnya dan juga harus mententeng sebuah tabung oksigen kemanapun dia pergi. Sebuah gambaran menyedihkan yang dialami untuk seorang gadis seusianya.

Hazel, sering menghadiri Kelompok Perkumpulan dimana acara rutin komunitas tersebut beranggotakan para manusia berbagai umur yang menderita berbagai penyakit ganas mematikan yang  tujuan acara rutin tersebut adalah untuk saling berbagi dan menyemangati antar sesama penderita di sisa - sisa hidupnya. 

Hingga suatu saat, seorang cowok asing yang jarang dilihat Hazel muncul dan mencuri hatinya dalam Kelompok Perkumpulan. Cowok itu adalah Augustus Waters, seorang remaja berusia 17 tahun mantan anggota klub basket di sekolahnya yang terpaksa berhenti bermain basket akibat salah satu kakinya diamputasi. Kedekatan mereka berdua, akhirnya menimbulkan benih - benih cinta diantara keduanya. Hingga suatu saat ketika mereka berdua berada di Amsterdam karena Augustus mengabulkan keinginan Hazel sebelum ajal menjemputnya bahwa dia ingin bertemu dengan penulis novel idamannya yang menetap di Belanda. Di sana sebuah kenyataan pahit diutarakan Augustus bahwa dia belum bebas dari penyakit kanker setelah kakinya diamputasi, namun sebenarnya dia dalam fase tahap stadium akhir dari kanker yang dideritanya dan yang disembunyikan selama ini dari Hazel.

The Fault in Our Stars menceritakan bahwa polemik romantisme kisah Cinta tak hanya dialami bagi pasangan yang serba normal, sempurna, bertabur prestasi dll. Romantisme  kisah cinta dapat muncul kepada siapapun, bahkan kepada dua orang penderita kanker sekalipun. Ada sebuah hal - hal indah yang pantas diperjuangkan demi cinta walaupun di waktu yang terbatas dan ajal didepan mata dan didalam ketidak sempurnaan hidup.

Novel The Fault in Our Stars karya John Green ini kurang lebih tebalnya 400 halaman dan saya sendiri butuh waktu seminggu untuk membacanya di waktu luang. Bagi pembaca yang menyukai kisah romantisme, novel The Fault of Our Stars bakal memberikan sentuhan kesan yang berbeda bagi para pembacanya. Karena saking larisnya Novel ini, akhirnya industri film terkemuka Twentieth Century Fox mengangkatnya ke layar lebar dan rencana akan rilis di bioskop - bioskop pada tanggal 22 Agustus di Indonesia.    

Sunday, May 18, 2014

EVERCOSS A7T, CERDAS DENGAN HARGA YANG BERSAHABAT

Menginjak tahun 2014 ini, smartphone bukan lagi menjadi sebuah barang yang mahal. Banyaknya vendor lokal yang bermunculan dan tak sedikit juga merek branded yang menelurkan jajaran smartphone yang berharga murah, membuat harga sebuah smartphone menjadi kian kompetitif terutama di sektor menengah kebawah atau kelas low end. Salah satu produk besutan dari vendor lokal Evercoss yang menyasar segmen kelas menengah ke bawah dengan serinya yakni A7T, bisa juga menjadi salah satu seri yang pantas diperhitungkan bagi kalangan yang ingin mencari smartphone handal namun dengan harga yang pas dikantong.

Smartphone Evercoss A7T ini meski harganya murah namun sudah dibekali dengan prosesor dengan fabrikasi 28nm dengan dua buah inti atau dual core yang setiap core clocknya mencapai angka maksimal 1,3ghz. Keunggulan yang lain adalah dibenamkannya GPU jenis Mali 400 MP yang tentunya akan lebih meningkatkan kinerja dalam hal olah grafis terutama penyuka game. Selain itu nilai plus lainnya adalah dengan SOC yang masih termasuk kategori baru dari MediaTek yang mensupport jaringan HSDPA+ / HSPA+ yang mampu memberikan kecepatan akses data up to 21Mbps.



Bentuk bodinya sendiri memang tak terlalu mengesankan mengingat seri A7T ini berada di sektor menengah ke bawah jadi materialnya terbuat dari plastik dan casing belakangnya mudah meninggalkan cap sidik jari apabila tangan kita berkeringat. Meski begitu, bobot samrtphone A7T ini masuk kategori ringan saat digenggam dan juga berukuran tipis dan cocok untuk masuk di saku celana.

Spesifikasi Evercoss A7T

  • NETWORK GPRS, EDGE, 3G, HSDPA+
  • DUAL - SIM
  • OS Android 4.2 Jelly Bean
  • PROSESSOR 1.3 GHz Dual Core
  • Battery Type A7T 1500 mAh
  • Bluetooth
  • Wireless LAN (Wi-fi)
  • USB Modem
  • Wi-fi Tethering
  • Kamera Belakang Resolution 5.0 MP
  • Kamea Depan 1.3 MP
  • Screen  Type WVGA
  • Size 4.0″ Resolution 480 x 800
  • Touch Screen Capacitive
  • Memory Internal RAM 256 MB
  • Internal ROM 2 GB
  • HARGA 675RIBU RUPIAH 
INFORMASI SISTEM SPESIFIKASI MENGGUNAKAN APPLIKASI ANTUTU :




TES PENGUJIAN PERFORMA MENGGUNAKAN APPLIKASI ANTUTU BENCHMARK, QUADRANT STANDART, NENAMARK 1 DAN 2 :






HASIL KAMERA :




KESIMPULAN :
Dengan hasil test menggunakan antutu benchmark yang menghasilkan score mencapai angka 9181, tentunya dalam hal pengoperasiannya Evercoss A7T ini akan berjalan smooth dalam hal menggeser layar jendela menu satu ke jendela menu lainnya. Hasil Quadrant yang bisa dibilang tinggi untuk smartphone low level menjadikan A7T akan dengan cepat menjalankan berbagai applikasi yang ada. Sedangkan hasil nenamark yang bisa dikatakan memuaskan, membuat A7T ini dalam hal menjalankan beberapa game ringan tidak akan menemui kendala. Terlepas dari kelebihannya, Evercoss A7T ini mempunyai kelemahan yakni sedikitnya Ram yang disediakan yakni 256Mb yang berarti akan memaksa user untuk membatasi dalam hal multitasking. Hasil kamera pun bisa dibilang biasa - biasa saja meski sudah 5 Megapixel, namun hasil gambarnya masih layak untuk digunakan bersosialita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...