Wednesday, November 28, 2012

Cerpen ke-2 ku, "HEAVEN", selamat menikmati.


Kadang perasaan kesal ini sering sekali muncul begitu saja. Perasaaan ini kadang muncul saat aku melihat teman – teman lelakiku memainkan olahraga sepak bola di lapangan sekolah. Saat teman – teman wanitaku beradu cepat memainkan lompat karung di halaman depan kelas. Saat semuanya berkumpul berdiri membentuk barisan paduan suara di dalam kelas, melantunkan lagu dengan serempak-nya, membuahkan alunan yang merdu untuk didengarkan.


Perasaaan kesal ini timbul karena melihat wajah – wajah mereka diselimuti oleh kebahagiaan. Ekspresi gembira para teman lelakiku saat berebut bola di lapangan membuat tanganku mengepal erat seakan ingin meninju seseorang. Ekspresi penuh persaingan para teman wanitaku yang menggebu – gebu dan berubah merah seperti gunung yang ingin meletus saat mereka berkompetisi dalam kelompoknya masing – masing, beradu cepat untuk mencapai garis finish dalam permainan lompat karung membuat keningku tanpa sadar dipenuhi keringat dan debar jantungku meningkat. Ekspresi semua temanku saat melantunkan nyanyian dalam paduan suara, membuat aku menggigiti jari – jemariku sendiri hingga memerah.


Aku memang dilahirkan tidak sempurna. Saat pertama kali keluar dari rahim ibuku, semua dokter terdiam saat mengetahui aku tidak menangis, mataku terpejam, namun kaki dan tanganku masih terus bergerak – gerak. Para dokter yang sudah berusaha mengeluarkanku merasa khawatir dengan keadaanku. Hanya ibuku saja yang menangis penuh kebahagiaan dan memelukku. Namun kebahagiaan ibuku tak berlangsung lama, karena beberapa jam setelah itu, saat pemeriksaan diriku lebih lanjut setelah dilahirkan, aku divonis dokter mengalami kebisuan. Aku bertanya – tanya, apa kesalahan yang aku perbuat selama di rahim ibuku sehingga dokter mengabarkan hasil pemeriksaannya yang menjelaskan kepada ibuku bahwa aku tidak hanya mengalami kebisuan, tetapi daya tahanku juga lemah, dan lagi penglihatanku tidak akan maksimal. Ibuku dapat sedikit tersenyum bahagia dalam kesedihannya saat dokter mengatakan bahwa aku masih dapat tumbuh dewasa meski dengan berbagai kekurangan.


Seharusnya aku menjalani masa pendidikanku di sekolah khusus orang cacat agar mendapatkan pelayanan pendidikan kurikullum sesuai dengan keadaanku. Namun karena faktor lokasi sekolah yang begitu jauh, ibuku tak ada pilihan selain memasukkanku di sekolah negeri. Aku memang telat setahun memasuki sekolah negeri, karena di umur 6 tahun, aku setahun lebih dulu  menjalani pendidikan isyarat melalui tangan untuk berkomunikasi, dibimbing oleh guru privatku. Setelah itu, baru aku memasuki sekolah dasar.

Ini tahun ke empatku berada di sekolah dasar. Sudah 3 tahun aku menjalaninya tanpa masalah dalam bidang pendidikan, khususnya dibidang teori. Meskipun tidak terlalu cerdas, tapi aku bersyukur bisa memperoleh nilai lebih baik dari beberapa temanku. Hanya di bidang mata pelajaran tertentu saja yang dalam 3 tahun ini membuatku kesal dengan sendirinya saat mengikutinya. Karena daya tahanku yang lemah, ibuku membuatkanku surat izin agar tidak mengikutsertakan aku dalam setiap pelajaran olahraga. Karena aku bisu, dalam pelajaran seni, terutama seni suara, aku juga hanya bisa duduk manis melihat dan mendengarkan teman – temanku bernyanyi.


Aku berusaha menghilangkan perasaan kesalku selama ini. Namun tampaknya belum ada jalan keluarnya. Malah aku berfikir perasaan kesal ini, semakin lama semakin menjadi – jadi. Kadang di rumah saat menonton acara televisi, mendadak aku juga kesal saat melihat beberapa orang anak memegang medali menjuarai kejuaraan renang. Kadang aku juga kesal melihat seorang pengemis menjuarai sebuah kontes menyanyi. Kadang aku kesal juga melihat banyak anak kecil seusiaku yang karyanya dibukukan dan menjadi terkenal. Ketika anak kecil tersebut diwanwancarai apa rahasia bisa menulis karya hebat seperti ini? Dia hanya menjawab simple yakni dengan banyak membaca. Aku sebenarnya juga suka membaca, teman – teman di kelas juga sering menjuluki aku kutu buku hanya karena aku memakai kacamata dengan lensa tebal karena penglihatanku yang kurang bagus dikarenakan bawaan sejak lahir, jadi penampilanku seperti culun saat memakainya. Akhir - akhir ini aku juga sering menghabiskan waktu membaca ensiklopedia di perpustakaan saat pelajaran olahraga dan seni suara, daripada menjadi seperti gunung merapi yang ingin meletus karena mendadak timbul rasa kesal di hati ini jika hanya berdiam diri dan melihat teman – temanku berolah-raga serta menyanyi. Namun Dokter langgananku, dikarenakan tubuhku yang lemah, maka setelah menginjak umur 5 tahun aku diwajibkan memeriksakan kondisiku setiap bulannya, menganjurkan aku tidak boleh membaca lebih dari 6 jam sehari, karena akan berpengaruh kepada saraf mataku yang lemah jika mataku ini terlalu letih membaca.


Saat ini aku duduk dengan perasaan jengkel memandangi teman – teman lelakiku memainkan bola di lapangan. Entah kenapa aku tidak ingin pergi ke perpustakaan saat pelajaran olahraga seperti biasanya untuk menghilangkan rasa kesal jika melihat teman - temanku bermain. Mungkin karena akhir pekan kemarin aku banyak melihat pertandingan bola jadi hari ini aku masih belum puas dan tetap ingin melihat teman – temanku bermain, meski rasa kesal ini juga sedikit merusak suasana. Aku merasakan ada seseorang yang duduk di sampingku, namun perhatianku masih terpaku pada pertandingan bola, sehingga tak menoleh untuk menghiraukan siapa yang duduk disampingku.


“Tak usah sampai mengepalkan tangan seperti hendak memukul orang saja. Aku jadi merinding melihatmu seperti itu Roy.” Terdengar ucapan seorang gadis yang sepertinya aku kenali. Saat aku menoleh, ternyata Dinda, teman wanita sekelasku. Dinda setahuku orangnya aktif di berbagai organisasi dan panitia sekolah, jadi akan jarang menemuinya jika tidak dalam pelajaran di kelas. Aku Heran, mengapa dia duduk disini dan tidak ikut bermain badminton dengan teman wanita lainnya? Aku kemudian menanyakan kenapa tidak ikut olahraga dengan bahasa isyarat. Namun kupikir dia tak akan mengerti artinya. Memang kebanyakan temanku di kelas hanya akan mau berfikir untuk memahami bahasa isyarat tanganku dengan serius kalau hanya menyangkut pelajaran, terutama saat diskusi kelompok, sedang diluar itu, mereka banyak yang acuh tak acuh.


“Aku berbohong kepada Pak Guru kalau badanku kurang fit hari ini,” sahut Dinda. Memang mengherankan, Dinda menanggapi bahasa isyaratku secepat itu, biasanya teman – temanku yang lainya butuh waktu yang lama untuk menelaahnya. Lalu aku meneruskan dengan bahasa isyarat lainnya untuk menanyakan alasannya berbohong. Dia lalu menjawab dengan tidak semangat bahwa dia melakukan itu karena dia tidak suka olahraga. Jawabannya membuatku terkejut. Aku beranggapan bahwa Dinda yang dikaruniai fisik sempurna tanpa cacat malah tidak menyukai olahraga. Sangat terbalik dengan diriku yang berharap bisa sembuh dari segala kekurangan dalam tubuhku agar punya kesempatan untuk mencoba bermain bola. Lalu aku menanyai lagi mengapa dia berkata seperti itu? Dinda hanya menjawab, “Nanti setelah pulang sekolah, aku memimpin rapat anggota untuk mempersiapkan kegiatan acara ulang tahun sekolah kita bulan depan Roy. Jadi daripada menghabiskan tenagaku untuk hal yang tidak kusuka seperti olahraga, lebih baik kusimpan untuk sesuatu yang benar – benar aku antusias untuk melakukannya. Tahukah kamu bahwa posisi ketua yang selama ini aku idamkan di organisasi sekolah bisa aku dapatkan. Kepercayaan dari banyak orang yang sudah memilihku, dari adik kelas sampai kakak kelas, aku benar – benar punya tanggung jawab besar Roy.”

Aku duduk dideretan paling depan saat berada di ruangan seni. Guru seniku, sebenarnya yang memintaku untuk berada di urutan paling depan, karena faktor penglihatanku. Hampir semua guru mata pelajaranku sudah memahami dengan benar kondisi tubuhku. Dinda, saat ini duduk berada persis di sisi sebelah kiri mejaku. Kata - katanya tadi masih membuatku bingung mengenai alasan dia berbohong untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga agar bisa memaksimalkan kerjanya saat memimpin rapat kelompok sepulang sekolah nanti. Aku mengamatinya sesaat, wajahnya sudah berubah semangat saat pelajaran seni, dia sudah normal kembali.


Pelajaran seni melukis memasuki kelas 4 sudah berbeda dengan kelas sebelumnya. Kalau sebelumnya kami hanya menggambar dengan pensil dan mewarnai dengan crayon maupun pensil warna, sekarang kami diajarkan menggambar dengan menggunakan kuas diatas kain kanvas.

Ini baru pertama kalinya kami semua melukis dengan kuas. Guru membimbing kami dengan serius. Banyak temanku yang mengeluh kesusahan dan tinta warnanya belepotan tak karuan menyebar ke segala arah. Tapi, aku merasa hanya diriku yang tidak menemui masalah. Aku melukis dengan sangat lancar. Aku melukis sebuah pemandangan desa yang sangat indah, hingga beberapa saat kemudian aku sadari raut wajah Iqbal teman sekelasku yang saat ini duduk persis di sebelah kananku terlihat sangat marah melihat hasil lukisanku yang bisa dikatan bagus untuk pemula.


Iqbal, adalah temanku yang pintar menggambar. Dari kelas 1 sampai 3  kemarin dia satu - satunya temanku yang selalu mendapat pujian saat menggambar dengan menggunakan pensil. Saat aku  lihat hasil melukisnya dengan menggunakan kuas, aku sedikit tertawa melihatnya. Melihatku tertawa Iqbal menjadi sangat marah, dia menumpahkan gelas isi cat airnya ke kertas kanvasku, sehingga membuat lukisanku berantakan. Seakan tak bersalah, Iqbal tertawa gembira dan mengatakan bahwa kenapa orang sepertiku yang penglihatannya kacau bisa melukis. Dia menambahi bahwa orang normal lebih pantas menjadi pelukis.


Perkataannya benar - benar menyakiti hatiku. Meski emosi, aku sadar aku tak akan menang bila mengajaknya berkelahi, tenagaku seperti bayi yang bila menggiring bola setengah lapangan saja sudah pasti ngos - ngosan. Jam pelajaran seni berakhir, saat semua mengumpulkan hasil karyanya, aku benar - benar dimarahi guruku karena hasil karyaku yang tidak karuan. Andai saja guruku tahu ini perbuatan Iqbal.


Aku berdiri termenung di depan kelas, hingga sebuah tangan menepuk bahuku. Aku menengok ternyata Dinda yang menghampiriku. Dinda menceritakan bahwa dia mengetahui semua yang terjadi mengenai aku dan Iqbal. Dia menyarankanku agar aku mengikuti lomba melukis yang diadakan saat perayaan hari ulang tahun sekolah. Dinda menyuruhku melukis seindah yang aku bisa di rumah dan memberikan kepadanya saat sudah selesai nanti. Pemenang akan diumumkan saat hari perayaan ulang tahun sekolah. Aku menyanggupi permintaannya, sebelum meninggalkanku, Dinda mengakui bahwa lukisanku jauh melebihi Iqbal. Perkataannya memberiku dorongan semangat, aku mulai melupakan kesedihanku.


Ibuku heran, kenapa akhir - akhir ini aku minta dibelikan banyak kertas kanvas dan juga cat warna. Ibuku sempat banyak mengomel karena lantai kamarku sering kotor terkena cat warna saat aku berlatih melukis. Dan juga aku sering lalai mengerjakan PR-ku dan sering ditegur guru, karena sebagian besar waktuku, aku gunakan untuk berlatih melukis. Tapi, kemarahan ibuku reda saat melihat hasil latihanku melukis. Ibuku terus memujiku, lantas bertanya ada perihal apa yang menyebabkan aku sering dan giat berlatih melukis. Aku menjawab aku ingin mengikut sertakan  karya lukisanku di lomba ulang tahun sekolah nanti. Ibuku langsung mendoakanku agar mampu menjadi yang terbaik. Aku bertanya kalau misal tak juara, apa karyaku akan sia - sia? Ibuku menjawab tetap lukisanku yang terbaik bagi ibuku.


Saat aku berlatih melukis, aku jadi ingat alasan Dinda saat tak ikut pelajaran olahraga dengan berbohong. Sama halnya denganku, aku menghabiskan waktuku dengan giat berlatih melukis hingga melalaikan banyak PR, meski tidak semuanya, hanya beberapa yang aku rasa aku tak akan mampu maksimal di mata pelajaran itu, namun aku tetap belajar agar mendapat nilai syarat minimal di rapot nanti. Saat berlatih, aku merasakan antusiasme seperti halnya antusiasme Dinda saat diserahi jabatan sebagai ketua kelompok yang diidam - idamkannya. Aku jadi sadar bahwa Dinda menyukai hal berbau kepemimpinan dan pengelolaan organisasi. Jadi saat itu dia meninggalkan hal yang tak disukainya seperti olahraga dan fokus kepada sesuatu yang dia yakini sebagai jati dirinya. Aku menebak - nebak pasti Dinda punya cita - cita menjadi manajer atau pemimpin. Dan aku juga terbersit di pikiran bayang - bayang ingin menjadi pelukis.



Saat perayaan ulang tahun sekolah aku tak kuasa menahan rasa bahagiaku melihat papan pengumuman menyuarakan namaku sebagai juara 1 melukis. Aku memotret papan pengumuman itu dan mengirimkannya ke ibuku melalui ponsel. Membagi rasa bahagiaku kepada ibuku. Dinda juga memberiku semangat. Dia bertanya, apa judul lukisan yang aku gambar? Karena aku menyerahkan lukisanku kemarin padanya tanpa judul. Aku jawab judulnya surga. Aku menuangkan imajinasi keindahan ke kertas kanvas sebuah pemandangan pulau Raja Ampat di provinsi Papua Barat yang aku baca di ensiklopedia saat di perpustakaan dan menambahinya dengan berbagai bangunan dari aneka arsitektur dunia, terutama prancis dan inggris. Perpaduan yang aneh, tapi aku lega jadi juaranya. Tak lama, Iqbal juga datang memberiku selamat meski dengan rupa kecut. Dia juga tak lupa meminta maaf atas perilakunya kemarin meski juga aku merasa dia tak benar - benar ikhlas, tapi aku tak mempermasalahkannya.


Saat ini, ketika menjadi seorang juara lomba melukis, aku sadar bahwa selama ini aku sangatlah bodoh selalu berdiam diri, merenung dan selalu merasa kesal dengan sesuatu yang tak bisa aku lakukan seperti bermain bola, bernyanyi dan sebagainya. Ketika aku menjuarai lomba melukis, aku sadar bahwa kekurangan apapun yang ada di dalam tubuh seseorang, pasti ada sesuatu yang dimilikinya dan tak dimiliki oleh orang lain. Awalnya memang kupikir aku tak akan bisa melakukan apapun yang bisa dilakukan oleh anak yang normal tanpa cacat. Tetapi sekarang pikiranku tidak sempit lagi, bahkan orang yang penuh kekurangan sepertiku mampu melukis surga yang banyak menarik semua perhatian teman dan guru - guruku yang menjadi jurinya. Bisa saja kemapuan milikku ini adalah bakat yang diberikan Allah untukku. Tugasku di dunia mulai sekarang adalah berusaha mengembangkannya. Aku tahu, bakat ini diberikan olehku dari Allah, dan jika aku bisa memaksimalkannya nanti, itu akan menutupi segala kekuranganku, tentunya dengan prestasi di bidang seni.


Bagaimana cerpen aku kali ini? Apa kalian menikmatinya? Kasih komentar ya. Silahkan kalau kalian ingin mengkopi atau memposting cerpen karya aku, asal jangan lupa sertakan sumber dan penulisnya, dengan tujuan untuk menghargai sebuah karya, terima kasih :)





15 comments:

Obat Penyubur Kandungan said...

terima kasih banyak untuk berbagi informasi ... Semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat Kita Semua

imaa Rahmawati said...

wah, keren cerpennya, ttp semangat berkarya :D

Blog astheams said...

duduk, sambil baca cerpen,,, :)

Shasha Yacob said...

cerpan yang sangat bagus, :D

Arief W.S said...

Terima kasih semuanya yang sudah menyempatkan waktu buat baca cerpenku ^,^

Shauqatul Iman(Bintu Abdullah Khairi) said...

terukan menulis..^^

Pak Guru said...

Karya seni yg nikmat utk dibaca. Dibalik kekurangan fisik, ada kelebihan yg mungkin tak dipunyai manusia normal. Si "aku" yg bisu dan lemah sanggup berbicara dg hati, bukan dg mulut...Kita yg normal, kadang2 susah bicara dg hati, banyak bicara dg mulut... Oh ya, salut buat sobat...

Miz Tia said...

bagus bang cerpennya.. lanjutkan ya :)
.

Rizki Pradana said...

keren sob cerpennya,,dulu wakti SMP ane juga doyan nulis novel tapi sekrang utinggal bisa berpusi sedkit2,hehe

Indra antara said...

Gak semua orang bisa bikin cerpen.. b ang admin punya bakat yang bagus untuk bikin cerpen.. saluuuttt..

Arief W.S said...

Sekali lagi ucapkan terima kasihj bagi kalian semua yang udah nyempatin waktu buat baca karyaku :)

Bung Destur said...

rajin bikin cerpen

LELA LIKE LELE said...

was here

Febry Ramadhani said...

saya suka banget dengan ceritanya :)
kunjungan perdana di tunggu kunjungan baliknya

Arief W.S said...

Febry Ramadhani@ terima kasih mbak febry atas kunjungannya :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...