Tuesday, May 20, 2014

The Fault in our Stars : Asam Manis Percintaan Dalam Ketidaksempurnaan



Kebanyakan, sering kali kita temui baik di sinetron, film maupun di beberapa novel maupun komik sebuah kisah cinta yang romantis antara dua insan yang berakhir dengan indah penuh kesempurnaan duniawi. Biasanya tokoh sang cowok maupun cewek digambarkan sangat sempurna dan ideal dan kedua tokoh perfect tersebut memperkuat kesan bahwa mereka pantas untuk mendapatkan sebuah cinta sejati karena kesempurnaan mereka. Namun berbeda halnya dengan kisah cinta yang akan diceritakan dalam sebuah novel laris karya John Green yakni The Fault in our Stars.

Diceritakan Hazel Grace Lancaster, seorang gadis berumur 16 tahun yang harus berhenti sekolah karena menderita sebuah kanker yang tidak bisa disembuhkan. Untungnya, sebuah obat bernama Phalanxifor meski tak mampu menyembuhkan penyakitnya, namun bisa memberinya sedikit waktu lebih lama untuk bisa bertahan hidup. Paru - parunya yang lemah, membuatnya harus memakai selang oksigen yang dipakaikan di kedua lubang hidungnya dan juga harus mententeng sebuah tabung oksigen kemanapun dia pergi. Sebuah gambaran menyedihkan yang dialami untuk seorang gadis seusianya.

Hazel, sering menghadiri Kelompok Perkumpulan dimana acara rutin komunitas tersebut beranggotakan para manusia berbagai umur yang menderita berbagai penyakit ganas mematikan yang  tujuan acara rutin tersebut adalah untuk saling berbagi dan menyemangati antar sesama penderita di sisa - sisa hidupnya. 

Hingga suatu saat, seorang cowok asing yang jarang dilihat Hazel muncul dan mencuri hatinya dalam Kelompok Perkumpulan. Cowok itu adalah Augustus Waters, seorang remaja berusia 17 tahun mantan anggota klub basket di sekolahnya yang terpaksa berhenti bermain basket akibat salah satu kakinya diamputasi. Kedekatan mereka berdua, akhirnya menimbulkan benih - benih cinta diantara keduanya. Hingga suatu saat ketika mereka berdua berada di Amsterdam karena Augustus mengabulkan keinginan Hazel sebelum ajal menjemputnya bahwa dia ingin bertemu dengan penulis novel idamannya yang menetap di Belanda. Di sana sebuah kenyataan pahit diutarakan Augustus bahwa dia belum bebas dari penyakit kanker setelah kakinya diamputasi, namun sebenarnya dia dalam fase tahap stadium akhir dari kanker yang dideritanya dan yang disembunyikan selama ini dari Hazel.

The Fault in Our Stars menceritakan bahwa polemik romantisme kisah Cinta tak hanya dialami bagi pasangan yang serba normal, sempurna, bertabur prestasi dll. Romantisme  kisah cinta dapat muncul kepada siapapun, bahkan kepada dua orang penderita kanker sekalipun. Ada sebuah hal - hal indah yang pantas diperjuangkan demi cinta walaupun di waktu yang terbatas dan ajal didepan mata dan didalam ketidak sempurnaan hidup.

Novel The Fault in Our Stars karya John Green ini kurang lebih tebalnya 400 halaman dan saya sendiri butuh waktu seminggu untuk membacanya di waktu luang. Bagi pembaca yang menyukai kisah romantisme, novel The Fault of Our Stars bakal memberikan sentuhan kesan yang berbeda bagi para pembacanya. Karena saking larisnya Novel ini, akhirnya industri film terkemuka Twentieth Century Fox mengangkatnya ke layar lebar dan rencana akan rilis di bioskop - bioskop pada tanggal 22 Agustus di Indonesia.    

4 comments:

Fransisca Vania said...

Duhh. Pingin banget nonton filmnya hehe XD

Ina Rakhmawati said...

hiks,
baca sinopsisnya aja udah sedih...
gimana ngeliat endingnya :'(

Rahasia Hidup Sehat said...

Lika-liku cinta...
Cinta datang tak terbatas kondisi dan situasi. Kapanpun cinta datang harus kita sambut dengan suka cita...

Arief W.S said...

Fransisca Vania @ Sabar dumzz, 22 Agustus tinggal 2 bulan lagi kuk, hehe :D Makasih Vania dah berkunjung :)

Ina Rakhmawati @ Waahh mbak Ina baru baca sinopsisnya aja udah mewek, berarti pas liat filmnya besok harus siap2 bawa tisu banyak nih, hehe :P

RHS @ Benar gan, cinta itu buta, tak memandang apapun, segala bentuk kekurangan akan terlihat indah bagi yang merasakan sentuhan Cinta :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...