Friday, October 3, 2014

CERPEN KE-11 KU, WHEN ANGELS LIE



Meski sudah pukul 05.20 pagi, nyatanya kabut tebal masih menyelimuti Kota Pemalang. Matahari hari ini seakan bermalas-malasan untuk membagi secerca sinarnya. Alhasil, pagi ini jarak pandang sangat terbatas. Hujan deras kemarin sore hingga tengah malam menjelang subuh, ditenggarai yang menjadi biang keladi munculnya kabut tebal pagi hari ini.

Rudi, hampir saja melanggar lampu - lalu lintas yang menyala merah. Dia, me-rem mendadak laju motor sport-nya  karena kaget  secara tiba - tiba mendapati lampu lalu - lintas yang menyala merah di depannya dalam laju kencang perjalanannya. 

Kabut yang tebal, menghalangi pandangannya akan keberadaan tiang lampu lalu lintas yang seakan mendadak muncul bagaikan penampakan. Dia berhenti tepat di tengah jalur penyeberangan zebra-cross. Pemberhentiannya memang menyalahi aturan, terutama ada seorang polisi lalu - lintas yang sedang berdiri tepat di pertigaan jalan didepannya. Meski begitu, polisi itu hanya memandangi sejenak tindakan ceroboh yang dilakukan Rudi tanpa menegurnya. Mungkin saja polisi itu memahami situasi yang membuat dirinya me-rem mendadak sepeda motor yang ditumpanginya. Meski begitu, tetap saja kecerobohan yang dilakukannya sangatlah berbahaya. Bagaimana  jika ada yang menyebrang saat itu juga tanpa sepengetahuan dirinya? Tentu saja peristiwa yang tak diharapkan akan terjadi, namun beruntung, kali ini tidak ada yang menyebrang, hanya beberapa kendaraan dari arah yang berlawanan melewati dirinya yang berhenti mematung. 

Ketika lampu berganti menjadi hijau, Rudi melanjutkan perjalanannya. Saat berpapasan dengan seorang polisi yang bertugas tadi, dia menganggukkan helmnya memberi sapaan seolah mereka sudah saling kenal.

Jam menunjukkan pukul 05.50 pagi ketika Rudi melihat pada alroji di pergelangan tangan kirinya. Setelah itu, dia kembali menyibakkan lengan jaket yang akhirnya kembali menutupi keberadaan alroji digital di pergelangan tangannya.

Dia mengeluarkan sebuah tas plastik yang membungkus handuk, selimut serta pakaian hangat dari mini bagasi di motor sportnya. Setelah itu, dia berjalan dari pelataran parkir menuju ke sebuah pintu gerbang yang berukuran besar dengan diatasnya bertuliskan papan nama yang masih diterangi lampu yang menyala bertuliskan Panti Jompo Sejahtera Yayasan Amanah Bakti. Di depan pintu gerbang, dalam samar - samar tebalnya kabut, sudah berdiri seorang paruh baya yang seakan sudah mengetahui akan kedatangan Rudi.

Ketika mereka berdua berhadapan, Rudi melayangkan senyuman kecil kepada orang tersebut sambil berkata, " Seperti biasanya, Anda selalu terlihat bugar Pak Hasan."

"Penampilan bisa menipu nak. Namun sebenarnya reumatikku sedang kumat. Menunggumu di pagi hari yang dingin dan berkabut seperti ini membuat punggungku seakan mati rasa," jawabnya sambil mengelus - elus pinggang bagian kiri. Rudi hanya tertawa pelan menanggapi itu, setelahnya, dirinya menengok ke arah taman yang berada di belakang pintu gerbang. Rudi melihat, sesosok nenek tua yang sedang duduk di kursi roda sedang merapikan tanaman hias didepannya.

"Dia kelihatan sehat,"  kata Rudi menanggapi apa yang sedang dilhatnya sekarang. 

"Dia selalu sehat dan terus bertambah bahagia disini, " tambah Pak Hasan
.
"ini, aku membawakannya handuk, selimut serta sweeater super tebal mengingat musim penghujan yang hampir mendekati intensitas puncaknya akhir - akhir ini. Kuharap dia selalu merasakan kehangatan ketika memakainya,"kata Rudi sambil menyodorkan plastik yang dibawanya kepada Pak Hasan.

"Dan ini, " Kata Rudi sambil mengeluarkan dua buah amplop yang ditujukan kembali kepada Pak Hasan. "Ini biaya perawatannya bulan ini dan bagian Anda"

"Terima Kasih, ucap Pak Hasan. Kemudian Rudi mengucapkan salam dan berpaling menuju ke pelataran parkir. Namun sebelum dirinya sampai di area parkir, Pak Hasan berlari menghampirinya. Derap langkah kaki Pak Hasan mengundang perhatian Rudi sehingga dirinya berhenti dan memalingkan badan, mendapati Pak Hasan seakan berlari dikejar hantu menuju dirinya.

Dengan sedikit ngos- ngosan, ketika sudah berdiri di depan Rudi, Pak Hasan berkata, "Maap jika saya lancang mengajukan pertanyaan ini nak Rudi. Kuakui 5 tahun yang lalu Anda memasukkan nenek Rosidah tanpa riwayat yang pasti dengan hanya menyatakan Anda sebagai anak satu - satunya dan memasrahkan saya untuk merawat dan mengatur segalanya selama ini tanpa sekalipun Anda menemuinya ataupun berbicara kepadanya dalam kurun waktu 5 tahun setelahnya. Sepanjang berjalannya waktu 5 tahun ini, kedekatan saya dengan nenek Rosidah memberitahukan fakta bahwa dirinya hanya mempunyai seorang anak lelaki yang menghilang 25 tahun yang lalu. Dan pertanyaannya adalah, siapa sebenarnya Anda yang berbuat begitu banyak demi keberlangsungan hidup nenek Rosidah selama ini?"

"Apakah ada orang lain di pihak Panti Jompo yang mengetahui masalah ini?" Tanya Rudi dengan mencengkram kedua sisi bahu pak Hasan dengan ekspresi raut muka yang terkejut.

"Tidak, tidak ada nak Rudi. Hanya aku saja seorang yang mengetahuinya. Nenek Rosidah hanya berbagi denganku saja selama ini karena hanya akulah yang paling dekat dengannya diantara perawat - perwat yang lain, " jawab Pak Hasan dan setelah itu Rudi melepaskan cengkraman kedua tangannya di bahu Pak Hasan dan raut mukanya tertunduk lemas. 

Rudi dengan wajah tertunduk berpaling dari Pak Hasan dan berjalan pelan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda menuju ke area parkir. Pak Hasan bingung dengan tingkah Rudi, dia tidak mendapatkan jawaban namun malah mendapati tingkah laku aneh yang diperlihatkan oleh Rudi. Tak lama kemudian Rudi menoleh ke arah Pak Hasan dan berkata;

"Demi kebaikan Nenek Rosidah, aku harap ini tetap menjadi tanda tanya bagi Anda Pak Hasan. Aku malah resah jika menceritakannya. Takut dari apa yang keluar dari mulutku nanti akhirnya akan menimbulkan sebuah problematika. Aku harap bapak mengerti."

@@@

Sebuah asap rokok untuk kesekian kalinya menyebul dengan ringannya dari mulut Rudi. Sambil bersandar pada dinding dipelataran parkir, dihisapan terakhirnya, dia menengok ke arah langit. Dilihatnya sinar matahari sudah mulai menembus kabut tebal dan cuaca sudah cerah. Dengan segera dia membuang putung rokok itu ke lantai, menginjaknya supaya sumber api padam, menemani dua putung rokok lainnya yang berceceran tak jauh dari kakinya yang sudah dia habiskan sebelumnya untuk membunuh waktu sembari menunggu kabut tebal menghilang. Dia mengatupkan resleting jaketnya, memakai helm-nya, menstarter motornya, dan melaju cepat meninggalkan panti jompo tersebut.

Angin sepoi bertiup kencang. Hembusannya membawa serta beberapa helai dedaunan meliuk - liuk di udara seakan mengajak mereka untuk menari. Dedaunan itu bertebaran kesana kemari yang akhirnya beberapa dari mereka jatuh mengenai tubuh Rudi yang sekarang sedang duduk dengan posisi menyamping di atas motor yang dia sandarkan di bawah sebuah pohon yang rindang. Sesekali nampak dirinya membersihkan dedaunan yang berjatuhan dan hinggap di jaketnya.

Kurang lebih sudah 10 menit dirinya menghabiskan waktu duduk santai di atas motornya, memandangi sebuah bangunan berlantai 4 yang berdiri megah yang berjarak 50 meter di depannya dan hanya dipisahkan oleh sebuah jalanan kecil dengan 2 ruas untuk laju dua arah. Tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang di depannya, jadi dia bisa menikmati pemandangan bangunan megah itu dengan leluasa tanpa gangguan yang berarti.

Rudi yakin betul, 25 tahun yang lalu apa yang ada didepannya adalah sebuah lahan luas yang ditumbuhi semak belukar. Suatu area yang sangat sepi dan dirinya hampir tak percaya bahwa saat ini area itu malah dibangun sebuah jalur yang oleh pemerintah daerahnya yang mana jalur itu menghubungkan ke jalan raya utama. Bahkan, akibat dibangunnya jalur itu, dampaknya pemukiman penduduk dan berbagai bangunan umum sudah padat merayap menghinggapi daerah ini layaknya migrasi mendadak sekelompok hewan. Salah satunya adalah sebuah bangunan yang dipandanginya sedari tadi.

Ketika umurnya menginjak 15 tahun dan masih berada di kelas 1 SMA. Sepulang dari tawuran antar sekolah yang tidak dimenangkan oleh kelompoknya. Di tengah perjalanan bersama  3 temannya, Hemil, Prass, Sasongko dalam kondisi babak belur, dia berpapasan dengan salah satu siswa yang mengenakan seragam asal SMA yang menjadi lawan tawurannya hari ini. Ketika berpapasan, dirinya dan temannya tidak memedulikannya karena mereka hanya menghajar yang dianggap musuh, apabila bukan, meski berasal dari SMA yang menjadi lawan tawurannya hari ini, dia tidak akan menghajarnya.

Namun kejadian aneh mengejutkannya hari itu. Tiba - tiba saja siswa yang berpapasan dengan dirinya itu, melompat - lompat. Berteriak - teriak ke arah mereka dengan wajah kegirangan. Menunjuk - nunjuk mereka berempat dengan teriakan - teriakan dan tawa yang membahana. Teriakan itu penuh semangat, sangat keras dan bagi mereka berempat suara itu sangat mengganggu. Kemudian siswa tadi berjalan mendekat ke arah mereka berempat. Menjulurkan tangannya untuk berjabatan dengan wajah meringis terkesan mengejek.

Hal itu disikapi Rudi dan 3 temannya dengan emosi yang luar biasa meledak - ledak. Di umur yang masih bisa dikatakan bau kencur seperti mereka, apa yang dilakukan siswa tadi seakan mengejek kekalahan sekolah mereka saat tawuran melawan sekolahnya. Dan jabat tangan yang diulurkan siswa aneh tersebut, diartikan mereka berempat sebagai ucapan kekalahan. Hal itu sontak memacu emosi mereka berempat yang sedang diubun - ubun. Mereka berempat langsung menghajar siswa tersebut dengan membabi - buta, ketika mereka pada akhirnya sadar bahwa mereka telah membunuhnya dan kemudian menguburkannya secara diam -diam pada lahan kosong yang selang 25 tahun kemudian telah didirikan di atasnya sebuah bangunan megah yang saat ini sedang Rudi pandangi sambil mengingat tragedi kelam yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

Semenjak kejadian itu, kehidupan Rudi bersama 3 temannya dihinggapi rasa bersalah yang luar biasa. Mereka menjadi pendiam, dan mendadak berubah menjadi murid yang baik tanpa pernah lagi berbuat onar di sekolahnya hingga mereka lulus dengan prestasi bagus dan 2 dari mereka mendapat pendidikan beasiswa di kampus dan akhirnya mendapat pekerjaan yang mapan. 

Di umur 35 tahun, hanya Rudi dan Hemil yang bekerja di tempat asalnya. Sedangkan Prass dan Sasongko bekerja di luar kota. Suatu hari, Rudi mendapatkan kabar yang mengejutkan dari Hemil. Ketika Hemil memeriksa seorang nenek yang mengalami stroke dan dibawa warga yang menemukannya dari gubuk reyotnya ke puskesmas dimana dirinya bekerja - selama dalam perawatan si nenek bercerita kisah pilunya kepada Hemil selaku dokter yang mengurusnya bahwa dirinya hanya hidup sebatang kara. Dia ditinggal suaminya semasa mudanya ketika mempunyai seorang anak yang mengalami cacat mental. Suaminya tak tahan melihat kondisi sang anak sehingga itulah alasan tak masuk akal untuk pergi. Semenjak itu si nenek bekerja menjadi petani dan si anak turut membantu seadanya. Ketika lahan pertanian semakin berkurang karena pembangunan, maka dia berhenti menjadi petani dan menjual rumahnya dan hanya hidup di gubuk kecil sisa peninggalan orang tuanya. Anaknya tak dapat bersekolah sedari SD karena cacat mental dan tak ada biaya. Anaknya menghilang ketika berumur 16 tahun. Si nenek selalu membawa foto sang anak di sakunya. Ketika si Hemil meminta izin untuk melihat foto sang anak, urat nadinya seakan tertekan dan aliran darahnya seperti berhenti. 

Hemil menceritakan lewat telepon kepada Rudi bahwa pasien yang dia rawat sekarang adalah Ibu dari seorang siswa yang mereka bunuh berempat semasa SMA dan menguburkannya secara tidak wajar. Hemil menceritakan dari keterangan si nenek bahwa anaknya menghilang ketika dia baru saja meminjam seragam SMA dari tetangganya yang baru saja lulus dari SMA. Saking senangnya si anak memakai baju seragam dan keluar rumah kegirangan entah kemana. Sejak saat itulah dia tak pernah kembali.

Setelah menerima kabar itu, di suatu tempat Rudi dan ketiga temannya berkumpul untuk membahas nasib si nenek. Mereka sepakat untuk merawat si nenek itu. Hemil punya banyak koneksi di panti jompo dan memerintahkan salah satu kenalan dekatnya Pak Hasan untuk merawatnya, dan Rudi diserahi tugas untuk mengaku menjadi anak sang nenek dengan tujuan memuluskan disaat proses registrasi memasukkan si nenek ke panti jompo meski tanpa sepengetahuan sang nenek dan juga untuk dapat memudahkan dalam proses administrasinya kepada Pak Hasan yang selaku perawat kenalan Hemil yang diberi kepercayaan untuk fokus memberikan perhatian kepada si nenek. Rudi yang diserahi tanggung jawab itu karena dia yang akhirnya akan bekerja di tempat asalnya seorang diri karena Hemil saat itu akan menjalani promosi menjadi dokter di rumah sakit di luar kota menyusul Prass dan Sasongko yang sudah lebih dulu berada di luar kota.

Jam arloji Rudi menunjukkan pukul 07.50 pagi. Kemudian dia turun dari motornya, berdiri dari posisi duduk. Mencopot jaket kulitnya yang tebal, memasukkan ke mini bagasinya sehingga seragam coklat mudanya kelihatan. Dalam bagasi dia mengambil lencana polisi dan menempelkannya di seragamnya. Dia tak lupa merapikan ikat pinggannya yang agak kendur karena lama duduk dalam posisi membungkuk. Kemudian dia memakai helmnya dan ingin segera tiba di kantornya. Dia selalu tepat waktu jika menghadiri apel pagi, hanya sekali dalam sebulan dia biasanya sengaja tak hadir demi singgah di tempat ini. Sebelum meninggalkan pohon rindang yang kerap dia singgahi selama sebulan sekali itu, dia sekali lagi memandangi bangunan megah yang berdiri di depannya.

Aku tak pernah tahu bahwa harapan seseorang bisa terwujud ketika sudah meninggal. Sesuatu yang besar telah kau tumbuhkan dari dalam liang kuburmu yang tak wajar. Kini, orang - orang sepertimu tak akan pernah lagi kehilangan harapan mereka.

Rudi menggeber motornya dengan kencang, melewati sebuah papan besar yang berdiri kokoh dengan pondasi besinya di depan bangunan megah tersebut. SEKOLAH DASAR DAN MENENGAH PERTAMA PUTRA HARAPAN JAYA, adalah tulisan yang tersusun rapi dan artistik pada papan besar tersebut. Sekolah yang dibangun hasil gabungan dari lembaga pendidikan dan beberapa yayasan bagi para siswa yang kurang mampu dan mengalami keterbelakangan. 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...