Saturday, February 21, 2015

Cerpen ke-13, Symphoni of Life

Entah kenapa langkah ini begitu berat. Seolah sedang dibebani berton - ton bebatuan yang menjadi benalu di punggungku. Air mata ini rasanya mulai bergejolak, ingin berlomba - lomba untuk segera keluar dari kelopak mataku. Untungnya aku bisa menahan air mata ini. Tentu saja aku akan sangat malu jika menangis tersedu - sedu sepanjang jalan sepulang sekolah. Apa komentar banyak orang jika melihat kondisiku seperti itu?

Namun rasanya benar - benar pahit, membuat bendungan jiwa untuk menahan luapan rasa sedihku ini. Sewajarnya aku harus menangis sekeras mungkin, meluapkan segala kesedihan ini, tapi kurasa aku bisa menahannya hingga ketika sampai dirumah nanti. Dalam keadaan rumah yang kosong sebelum sore menjelang ketika Ayah dan Ibuku pulang kerja, aku bisa berteriak maupun menjerit sepuasnya.

Dalam langkahku yang mulai gontai - perasaan hancur ini tak disangka bisa membuatku seolah tak bernyawa, berjalan sempoyongan seperti orang kehilangan akalnya. Suara petir secara mendadak mengagetkanku. Membuyarkan ketidak warasanku yang sempat menghantui pikiran. Aku baru sadar langit sudah menjadi hitam pekat. Rintik hujan dengan intensitas tinggi langsung mengguyur tanpa peringatan. Aku berlari secepat kilat menuju sebuah halte bus yang tidak jauh berada di depan. Menyandarkan tubuhku di salah satu dinding halte. Menyibak rambut panjangku dan merapikannya ke belakang akibat berantakan karena guyuran hujan.

Tak kusangka hujan sangat lebat hari ini. Bisa dikatakan hampir mendekati badai. Angin yang berhembus sungguh luar biasa, mengurai kembali rambut panjangku ke berbagai arah hingga membuatku menyerah untuk merapikannya kembali. Namun bagiku suasana ini sungguh menguntungkan. Dengan derasnya hujan, suara ribut angin, dan ketika kutoleh ke kanan dan kekiri tak ada satupun orang yang berteduh di halte ini, maka dengan segera aku berteriak sekeras - kerasnnya.

"HHWAAAAAAAAAA!!!!" Begitulah jeritan lirih yang keluar dari mulutku diikuti guyuran air mata yang rasanya sudah berhasil menjebol dinding bendungan jiwa yang sedari tadi aku bangun sepanjang perjalanan. Rasa sedih ini, akhirnya menemukan tempat juga untuk diluapkan. Sebesar apapun jeritan tangisku, tak bakal ada orang normal yang mampu mendengarnya karena tersaingi oleh suara gemuruh hujan dan angin.

"Kau memang lelaki brengseeeekkkkk!!!!"  Seruku untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hatiku. " Dasar lelaki brengsekkkkk!!! Hwaaaaaaaa!!!" Dan entah sudah keberapa kalikah tanpa sadar aku sudah meneriakkan kalimat itu berulang kali.

"Heiii, diam gadis cengeng!!!" Berisik!!"

Sebuah suara mendadak mengagetkanku. Merusak parade jeritan lirih sedihku yang sudah hampir mencapai acara puncaknya. Mau tak mau tubuhku tersentak mendengar suara keras teguran itu. Suara itu tipikal suara lelaki yang kukenal. Namun mungkin itu hanya perasaanku saja. Kutoleh ke sisi kanan asal sumber suara itu, namun aku tidak menemukan seorang pun, hanya sebuah tong sampah berukuran raksasa yang berdiri dengan gagahnya. Saat itu kilat menyambar dengan hebatnya. Cahayanya berkilat hebat, membuat bulu kudukku mulai berdiri. Kulangkahkan kakiku mendekati tong sampah itu, dan ternyata, ada seseorang yang bersandar disebaliknya. Dan ketika diriku tepat berada di samping orang tersebut, ternyata dugaan awalku mengenai suara lelaki yang sepertinya aku kenal ternyata benar, bahwa seseorang yang sedang bersandar itu adalah;

Ba...Bagass...!!" Ap..apa yang kulakukan disini?" Mendengar pertanyaanku, secepat kilat Bagas beranjak untuk berdiri. Mata kami saling bertemu ketika Bagas berdiri tegap di depanku, namun ada hal yang berbeda kudapati pada rona wajahnya. Matanya memerah, hampir semerah darah. Kelopak matanya kembang kempis. Kondisinya tak berbeda jauh dengan diriku saat ini. Kesedihan di wajahnya menandakan bahwa dirinya baru saja selesai menangis. Bisa dikatakan menangis dengan intensitas hebat karena pekat merah warna yang menghiasi kornea matanya tak juga kunjung hilang. Namun, apa yang dia tangisi?

"Aku tak mengira yang berteriak - teriak itu tadi kamu Adaline," Sepatah perkataan dari Bagas disertai ekspresi lunglai dengan menggaruk rambutnya secara pelan. "Apa kata - kata brengsek yang kudengar barusan ditujukan kepadaku?" Tanyanya kemudian sambil memandang tajam ke arah mataku. Namun aku tak bisa lebih lama menanggapi pandangan matanya yang seperti menusuk jantungku yang terdalam. Pandangan itu membuat bahagia, sekaligus perih di hati ini jika terus memikirkannnya. Kemudian karena ekspresiku yang diam, Bagas membalikkan badannya membelakangi aku, berjalan selangkah dan kemudian bersandar di dinding halte.

"Aku memang brengsek. Dan begitulah kenyataannya Adaline. Maafkan aku yang telah menyakitimu." Begitulah ungkapan bersalah dirinya yang ditujukan kepadaku. Kulihat sekarang dirinya melihat langit - langit dengan tatapan kosong. Tubuhnya perlahan - lahan melorot ke bawah dan akhirnya terduduk lesu dengan kaki berselonjor.

Hal ini bermula 3 bulan yang lalu. Bagas, salah satu siswa keren dan lumayan berprestasi di sekolah, mempunyai pacar seorang primadona kelas bernama Stephanie. Mereka berdua sudah berpacaran selama 5 bulan. Namun, bukan rahasia lagi bahwa Stephanie mempunyai sifat buruk selalu membuka hati kepada pria lain meski dirinya sudah mempunyai Bagas. Hal yang sangat bertentangan dengan keinginan Bagas yang ingin mempunyai seorang kekasih yang setia. Oleh sebab itu, suatu hari Bagas mendekatiku untuk menjalankan suatu rencana gila yakni berpura - pura untuk pacaran agar membuat Stephanie cemburu dan membuat dia kapok tidak akan membuka hati lagi untuk pria lain selain Bagas. Aku langsung menerimanya, karena Bagas bisa saja disebut sebagai teman dekat bagiku. Kupikir hanya butuh tiga hari maupun seminggu paling lama bagi aku dan Bagas berpura - pura pacaran di sekolah dan dimanapun agar merebak rumors mengenai kita dan jika sampai di kuping Stephanie akan membuatnya panas.

Namun tidak dissangka, Stephanie acuh tak acuh terhadap apa yang kita lakukan dan Bagas tidak mau rencana ini berhenti sebelum membuat Stephanie cemburu buta. Tanpa disadari, 3 bulan berjalan diisi dengan kebersamaanku dan Bagas. Dalam kebersamaan itu, entah mengapa kita saling mengerti, memahami, dan masing - masing sadar bahwa timbul suatu perasaan yang bukan hanya sekedar pertemanan belaka. Namun, meski timbul perasaan itu, masing - masing mengetahui bahwa kapasitasnya hanya sebatas menjalankan sebuah rencana. Jadi meski tidak saling mengakui, kami sadar bahwa rencana ini tidak boleh gagal akibat perasaan yang terpendam.

Aku selalu berharap bahwa Stephanie akan selalu tak peduli dengan kebersamaan kita bahkan aku berharap Stephanie akan tetap begitu selamanya agar kebersamaanku dengan Bagas utuh seterusnya. Namun hari ini, kejadian tak biasa dan tak terduga terjadi ketika Stepahine mendadak melabrakku ketika berdua bersama Bagas di kelas. Dia mengataiku, memburuk - burukkanku, meluapkan segala emosinya kepadaku saat itu juga karena terus mendekati Bagas. Padahal sebelumnya dia selalu tak peduli dengan apapun yang aku lakukan dengan Bagas.

Bagaimanapun juga, sesuai skenarioku dengan Bagas, ketika Stephanie sudah cemburu buta, maka aku akan menjauh dari Bagas. Meskipun aku tahu Stephanie tidak cemburu saat itu. Dia hanya emosi karena dicampakkan selingkuhannya yakni kakak kelas selaku atlet basket yang dipacarinya. Diam - diam sepengetahuan Bagas aku melakukan penyidikan secara rahasia terhadap Stephanie. Dia meluapkan emosinya kepadaku dengan kedok perasaan cemburu agar bisa memarahiku dan terkesan aku yang selingkuh dan bersalah. Saat itu juga aku harus mundur karena di mata Bagas rencana ini berhasil dan Stephanie kembali dalam pelukannya lagi.

Berat bagiku ketika momen krusial itu berlangsung. Meninggalkan sesuatu yang dicintai dengan kerelaan adalah sesuatu yang menyakitkan. Pernah terpikir diriku untuk mengungkapkan bahwa Stepahnie hanya menjadikan Bagas sebagai ban serep yang hanya dimanfaatkan sesuai keinginan Stepahine. Namun sungguh tidak etis jika aku mengungkapkan itu semua. Sama saja aku menghancurkan harapan Bagas dan skenario ini dengan mengobarkan aib orang lain. Pernah aku sangat berharap bahwa Bagas bisa berubah pikiran untuk memilihku dan menjauhi Stephanie namun aku tidak layak dengan harapan itu mengingat ini semua hanya skenario. Memang perasaan yang timbul terhadap Bagas harus aku tanggung sebagai resiko aku mau membantunya menjalankan skenario ini.

Kudekati Bagas dan aku memposisikan diriku duduk berjongkok di sebelahnya sambil berkata;

" Maaf, jika kamu mendengar teriakanku tadi. Tadi aku diliputi oleh suasana egoisme dan emosi yang sedang memuncak." Kulihat tatapan Bagas masih kosong mengarah ke langit - langit. " Kupikir, kamu bukan seorang yang brengsek. Aku tarik kembali kata - kataku tadi." Mendengar itu bagas menoleh dengan pelan ke arahku.

" Kenapa bisa begitu?" Tanyanya pelan dengan penuh penasaran.

" Karena seorang brengsek itu tidak akan pernah menjadi cengeng seperti dirimu saat ini" Tukasku dengan sedikit senyum. Bagas tak kalah membalas dengan senyum kecutnya.

"Lalu, apa yang sebenarnya kamu tangisi Bagas?"

" Aku menangisi gadis cengeng yang suka berteriak keras - keras didepanku ini, " Katanya dengan menahan sebuah tawa yang tergambar jelas di raut mukanya. Kemudian aku langsung mengubah posisi jongkokku menjadi bersandar di dinding halte persis di samping Bagas.

" Lalu, Bagaimana dengan Stephanie?"

" Aku tidak memikirkan Stephanie untuk saat ini, " Jawab Bagas dengan wibawa yang berubah menjadi tegas. "Stephanie tidak seperti dirimu, yang bisa membuatku menangis jika kehilangan meski hanya untuk beberapa jam saja." Itulah penjelasan Bagas yang menyejukkan hati, dan tanpa sadar aku sudah menyandarkan kepalaku di pundaknya.   

         @@ TERIMA KASIH @@  

9 comments:

Dedaunan said...

ini ceritanya bersambung ya,
termakan skenarionya sendiri begitukah ceritanya Bagas dan perempuan kawannya ini?

Gustyanita Pratiwi said...

Wahh ikut terbawa ma ceritanya nih, gimana endingny? Mampir jg y ke www.gembulnita.blogspot.com

Arief W.S said...

Dedaunan @ Nggak bersambung mbak Suzy. termakan skenarionya sendiri, hihi bagus juga tafsirannya. Terserah pembaca sih mengartikannya, coz setiap pembaca mempunayi tipikal perasaan tersendiri menyikapi ceritanya :)

Gustyanita Pratiwi @ Wew, syukur kalau bisa terbawa ceritanya :) Endinggnya..?? Endingnya ya begitu aja, biarlah pembaca yang menebak - nebak sendiri ending pastinya, atau bisa berkhayal dengan versinya sendiri hehe. Makasih dah berkunjung :)

Rima said...

Kok, baguuus siiih. :(
Bacanya sampe kebawa suasana. Terkadang apa yang kita lakukan dengan niat "iseng" atau "pura-pura" itu malah jadi yang sesungguhnya.

Bikin iri ceritanya. Tapi, tenang aku bukan jomlo kok. :))

Arief W.S said...

Rima @ Sebelumnya makasih banyak udah mau singgah dan baca cerpen :) Yah begitulah kehidupan, kadang sesuatu yang tidak terduga maupun tidak direncanakan malah bisa jadi menjadi tujuan hidup :)

Iri sih gapapa, asal aku jangan diciiat ma jurus pematah keranmu :P :P

ღ Simple Ladygirl ღ said...

hye salam.saya dari sabah. cerita ni menarik :)

Arief W.S said...

Simple Lady Girl @ Makasih yach girl, udah mau mampir dan baca - baca kesini :) Salam blogger juga dari Jawa Tengah Indonesia :)

Tebinfea said...

Hello and good afternoon.
I wish a wonderful weekend.
Teb.

Arief W.S said...

Tebinfea @ Aku harap kamu juga mengalami hal - hal yang menyenangkan sepanjang hari :) Terima kasih sudah mau mampir dan berkomentar Teb :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...