Wednesday, December 25, 2013

Cerpen ke-8 ku, Truth in Station



Hingga saat ini, aku masihlah seorang lelaki yang penakut. Kadang saat melihat wajahku sendiri di dalam cermin , aku merasa melihat  seorang pecundang. Seorang lelaki yang payah. Seorang lelaki yang takut untuk menyatakan sebuah perasaan kepada seorang wanita. 

Saat masih bersekolah di bangku SMU aku mencintai seorang gadis bernama Sarah. Seleraku bisa dikatakan tinggi karena Sarah adalah anak seorang anggota DPR yang mana keluarganya sangat berada. Dia mendapatkan status istimewa di sekolah karena kedudukan ayahnya. Selain itu wajahnya sangat cantik. Toh, dia anak orang berada, setiap waktu pasti akan merawat segala mahkota kecantikannya di beberapa tempat perawatan berkelas. Sarah bagaikan bunga mawar di sekolahku saat itu.

Selera tinggiku itu memang tak sebanding dengan latar belakang keluargaku yang hanya bekerja menjadi seorang buruh. Memang secara logika aku tahu bahwa cinta tak memandang apapun. Cinta itu buta. Dalam cinta hatilah yang memiliki segala indera perasa dan saling berbicara dengan kasat mata. Meskipun pengetahuanku cukup mengenai apa itu cinta, namun tak membantuku sama sekali untuk menyatakan perasaan ini kepada Sarah. Ditambah lagi Sarah selalu bergonta - ganti pacar seperti halnya bulan ini dia berpacaran dengan Andi sang ketua osis yang berwibawa, bulan depannya dia berganti lagi dengan Zaenal sang anak pengusaha dan beberapa bulan berganti lagi berpacaran dengan Roby sang anak kepala sekolah. Selama 3 tahun berada di jenjang SMA dan menjadi pemuja rahasianya aku mencatat Sarah bergonta - ganti pacar selama 11 kali. Dan para mantan - mantan pacar sarah pasti seorang siswa yang beken dan mempunyai status disekolah. Hal itulah yang menambah ciut nyaliku untuk menyatakan perasaan ini karena aku hanya seorang siswa biasa dan hampir tak naik kelas saat berada di kelas 2 SMA andai saja wali kelasku bukan sahabat dekat orang tuaku. 

Hingga suatu malam di perayaan pesta perpisahan kelulusan sekolah. Saat itu setelah berbincang dengan sahabatku, kegiatanku hanya berputar - putar di area sekolah tidak jelas dengan membawa dua gelas plastik pop ice. Saat itu aku berusaha untuk mencari lawan bicara perempuan dengan jurus menawarkan sebuah pop ice cokelat sebagai permulaan basa - basi. Namun sayang, sepertinya tidak ada yang berminat dan kebanyakan sudah mempunyai pasangan. Akhirnya aku memutuskan untuk menyendiri   menuju ke aula auditorium yang sepi. Tak disangka, disana aku menemukan Sarah yang juga sedang menyendiri dan duduk di salah satu bangku auditorium. Entah kenapa, saat itu keberanianku muncul dengan mendadak. Mungkin karena rasa yang hampa di malam perpisahan  dan kekecewaan tak menemukan teman wanita untuk berbicara, dengan melihat Sarah di tempat sepi seperti ini, rasanya kobaran api semangat jiwaku tersulut dan dikarenakan momennya juga tepat. Maka dengan berani aku menghampirinya.

Ketika berada tak jauh darinya aku melihat Sarah duduk termenung dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya menekan kuat sweaternya yang tebal. Tatapannya kosong menewarang ke arah panggung auditorium dan dia belum menyadari kehadiranku. Maka aku mulai mengucapkan kata sapaan kepadanya :
"Maap, bolehkah aku duduk disampingmu jika sekiranya tidak mengganggu?" Sapaku pelan dan memohon sebuah izin darinya. Sarah sedikit tersentak mendengar suaraku dan dengan segera mempersilahkanku duduk. Saat aku duduk dan melihat wajahnya yang tersenyum, kulihat kantung matanya menebal dan warna matanya merah. Dia baru saja habis menangis.

Saat itu aku memperkenalkan diriku kepadanya. Menanyakan kepadanya apa yang dia lakukan sendirian di tempat sepi ini ? Tapi Sarah hanya menjawab dia hanya mencari ketenangan sejenak dan tidak mau mengatakan alasannya. Setelah itu aku menawarkan minuman pop ice ku kepadanya, meski mungkin rasanya sudah agak hambar karena sudah kubawa berkeliling sekolah namun dia menerimanya dan tak kusangka dia langsung meminumnya sampai habis. Kemudian dia bertanya apa yang juga aku lakukan di tempat sepi seperti ini? Maka aku jujur menceritakan bahwa hatiku sedang galau karena tak mendapat teman bicara wanita di acara malam ini dan Sarah tertawa sangat keras.

"Hahahaha kau sangat menyedihkan Ario,"kata Sarah dengan gelak tawanya yang terkesan cekikian."

"Ya, aku memang menyedihkan. Tidak seperti dirimu yang dikelilingi banyak cowok. Kamu bagaikan idola di sekolah ini Sarah. Banyak lelaki yang mengidolakanmu termasuk diriku dan..., " saat itu aku kelepasan mengontrol omonganku yang menyatakan aku juga menyukainya karena saking asyiknya bisa berbicara dengan Sarah dan langsung menghentikan ocehanku mendadak.

"Benarkah kau salah seorang penggemarku, hehehe, " Sarah hanya menimpalkan sebuah kata itu menyikapi kediamanku mendadak dengan senyuman.

"Yah, aku pemuja rahasiamu. Aku harus jujur malam ini atau entah harus kapan lagi kukatakan unek - unek yang selalu mengganjal didalam benakku. Kalau kau mau bukti bahwa aku pemuja rahasiamu aku bisa menyebutkan urutan nama - nama mantan pacaramu mulai dari Andi, Zaenal, Roby, bla bla bla hingga yang terakhir bagaimana hubungan dengan pacarmu Bryan sang wakil olimpiade dari sekolah kita? 

Sarah diam sejenak mendengar perkataanku barusan. Dia memandangku dengan begitu serius. Aku takut apakah aku keceplosan dalam berbicara. Kemudian dia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada kursi dan berkata  dengan nada berat " Sebenarnya satu jam yang lalu aku putus dengan Bryan tepat setelah pidato perpisahan."

Aku sedikit kaget mendengarnya dan merasa bersimpati. Hening menyelimuti kita sejenak di dalam ruangan aula auditorium yang sepi. Hingga beberapa saat aku kembali memulai percakapan ; "Bolehkah aku tahu penyebab putusnya hubungan kamu dengan Bryan? Dan Sarah langsung menyahut " Hal itu hanya aku simpan untuk diriku sendiri."

"Apa yang kau ingin lakukan setelah lulus Ario? Bekerja, kuliah?" Sarah tiba - tiba mengajukan pertanyaan aneh seperti itu kepadaku dan aku jujur tak mengerti maksudnya. Langsung dengan segera aku hanya menjawab akan langsung bekerja karena orang tuaku takkan cukup untuk membiayai kuliah.

"Selain menjadi pemuja rahasia apakah ada rasa cinta kepadaku dalam hatimu?" Lagi - lagi Sarah menyatakan pertanyaan yang aku tak mengerti maksudnya. Dengan segera aku menjawab "ya"

Kemudian Sarah berdiri dari kursinya dan mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku tersentak kaget dan memundurkan badanku  menyikapi perilakunya yang mendadak berubah aneh. 

"Setelah ini aku akan kuliah di Australia selama 4 tahun lamanya. Jika kamu benar mencintaiku temui aku di malam tahun baru di stasiun Demangan 4 tahun kedepan tepatnya tanggal 31 Desember 2013." Ungkapan Sarah sangat aneh dan penuh tanda tanya. Setelah itu dia meminta nomer ponselku dan meninggalkanku begitu saja. Dia hanya berpesan akan menghubungiku jika waktunya tiba.  

4 tahun bukanlah waktu yang lama. 4 tahun berselang sangat cepat tanpa diduga. Udara dingin memasuki celah kecil jendela kaca kereta api dan memasuki ruang dimana aku saat ini sedang terduduk pulas sambil menikmati pemandangan luar yang terlihat berkelebatan karena saking cepatnya laju kereta. Sudah hampir sekitar 1 jam lamanya aku menaiki kereta api tetapi belum juga sampai ke statsiun Demangan.

Apa aku ini bodoh? Pertanyaan semacam itu masih selalu membebaniku. Mempercayai kata - kata seorang wanita yang ku puja yang hanya sekali saja bertemu tanpa kesan spesial? Meski cintaku sangat dalam kepadanya namun bagaimana jika ini adalah sebuah kebohongan belaka? Tak lain Sarah hanya mengerjaiku? Namun apapun nanti hasilnya, aku tetap akan menerimanya. Samar - samar wajahku terbias di kaca jendela kereta yang melaju cepat. Meski tidak begitu jelas, namun aku masih mendapati gambaran wajahku seperti seorang pecundang, bahkan jika nanti akhirnya aku mendapati semua ini hanyalah lelucon dan tak mendapati SARAH di stasiun seperti janjinya 4 tahun lalu, maka aku akan menyandang status sebagai seorang pecundang untuk selamanya.

Tak berselang lama akhirnya aku menjejakkan kakiku di stasiun Demangan. Stasiun ini memang salah satu yang terbesar dan selalu menjadi transit semua kelas kereta dari ekonomi hingga eksekutif. Aku tak menyangka hari ini stasiun begitu dipadati pengunjung. Saat kereta sudah meninggalkanku, kini aku hanya berdiri saja tanpa tujuan berarti seperti anak kucing yang ling - lung terpisah dari Ibunya.

Satu jam, dua jam bahkan tiga jam lewat tanpa ada dengung nyaring dari ponselku. Hal yang selama ini aku lakukan sembari tadi menunggu adalah selalu mengecek ponselku, mengetahui apakah ada pesan dari Sarah yang aku sendiri tak mengetahui nomer ponselnya. Malam semakin larut dan ketika aku melihat jam dinding stasiun menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sebentar lagi pergantian tahun. Aku memutuskan jika tidak mendapat pesan ataupun telepon dari Sarah setelah pukul dua belas malam, aku akan meninggalkan stasiun ini dan menerima bahwa aku hanya punguk yang merindukan bulan, terlalu berharap kepada hal yang tak mungkin digapai dan menerima  untuk menyandang status sebagai pecundang sejati.

Entah kenapa saat itu ponsel milikku sangat bersahabat. Tak berselang lama dari rasa kekecewaan yang membelenggu, sebuah dering nyaring ponsel mendadak membuyarkan lamunanku. Nomer pemanggil tidak tertera, secara cepat aku mengangkatnya dan sebelum mengucapkan kata halo kepada sang penelpon, sebuah suara sudah mendahului dan berkata " Ke lantai dua Ario. Cafe Brighstar, aku memakai sweater merah muda." 

Ya, suara itu bukanlah suara yang asing. Memang nada suaranya agak berubah tinggi. Mungkin dikarenakan umur, namun sejenak rasanya senang sekali mengetahui bahwa suara itu adalah suara Sarah.

Saat mendaki tangga menuju lantai dua, aku sedikit kesulitan mencari Cafe Brighstar karena banyaknya stand yang berdiri dan karena memang di lantai dua ini memang dikhususkan untuk area istirahat dan perbekalan pengunjung. Tapi tak butuh waktu lama, dari kejauhan aku melihat Sarah yang sedang menikmati segelas kopinya. Cafe Brighstar mempunyai aula yang terbuka tanpa atap, jadi pengunjung bisa menikmati kopi sambil menikmati langit indah yang bertabur bintang seperti nama Cafe ini.

Ketika melihat Sarah hari ini, dia sedikit berbeda dengan 4 tahun yang lalu. Kurasa dia bertambah tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari aku saat dia berdiri menyalamiku. Badannya agak sedikit berisi tidak kurus sepperti jaman SMA. Dan juga rambutnya berubah gaya menjadi potongan sependek bahu, tidak pirang seperti dulu. Meski begitu, wajah dewasanya saat ini lebih sempurna dibanding 4 tahun yang lalu. Dia menawariku segelas minuman kopi panas, dan Sarah menanyaiku mengenai karir. Aku menceritakan bahwa awalnya hanya berkerja serabutan hingga ada peluang memasuki universitas terbuka dan akhirnya aku diterima dan bisa menyelesaikan studi hingga sarjana. Dan saat ini menjadi salah satu pegawai di Bank Swasta. Sarah tersenyum mendengar ceritaku. Senyumannya membuat kopi yang seharusnya pahit menjadi manis saat itu juga dalam mulutku saat menyeruputnya sedikit. Saat aku balik bertanya sesukses apa karirnya? Karena aku yakin sarjana dari luar negeri pasti akan dapat   dengan mudah mendapat kerjaan yang mentereng di negeri ini, namun dia diam sejenak. Dia malah mengalihkan topik dengan mengajukan sebuah pertanyaan." Apa kamu masih mencintaiku seperti hal-nya 4 tahun yang lalu Ario?"

"Apa pemenuhan janjiku malam ini yang kujaga selama 4 tahun tidak membuktikannya bahwa aku serius mengenai hal itu Sarah sehingga kamu mempertanyakannya lagi?  Tidak masalah sebenarnya jika kamu tidak menyukaiku, aku bisa paham, toh aku tidak sebanding denganmu. Aku senang setidaknya aku bisa membuktikannya walaupun harus dibayar dengan selang waktu 4 tahun meski akhirnya nanti kamu akan menolakku" jawabku. "Apapun jawabanmu, mulai hari ini aku bukan pecundang lagi karena keteguhanku."

"Apa yang kusuka dariku Ario?" Tanyanya dengan nada serius? Dan aku hanya menjawab  alasanku mencintainya saat itu dikarenakan usiaku masih remaja, dan kesalahanku sendiri karena mempunyai selera tinggi dalam menyukai wanita saat di bangku SMA yang membuatku terlanjur membuatku cinta mati kepada wanita yang paling beken saat itu juga yakni Sarah.

"Selera yang tinggi," Sarah mengulangi  ucapanku sambil tertawa. Kemudian dia mengeluarkan sebuah bungkus rokok dan mengambil sepuntung dari dalam kotak lalu menempelkannya pada bibirnya yang merah merona. Dia agak bingung mencari sesuatu di saku sweaternya dan aku duga pasti dia lupa menaruh korek apinya. Saat dia menanyaiku apakah mempunyai sebuah korek api aku menjawab tidak karena aku tidak merokok. Setelah itu dia menaruh puntung rokoknya di meja dan menghela nafas. "Selera yang tinggi,hehehe" Sarah mengulangi kata - katanya dengan terkekeh. Aku melihat wajahnya mulai sedih. "Kau tau Ario, seleraku juga tinggi saat SMA dulu, tidak berbeda denganmu. Aku mengencani beberapa cowok beken di kelas untuk mendapat kepopuleran. Tapi sebenarnya aku tidak serius dengan mereka , aku hanya mempermainkan perasaan mereka. Ketika aku memutuskan hubungan setiap cowok yang aku kencani aku selalu menangis, menyadari bahwa begitu jahatnya diriku memanfaatkan mereka.  Dan saat ini, saat semuanya berubah, aku mendapatkan sebuah karma balasan dari perbuatanku dahulu."

Mendengar perkataan Sarah barusan, aku baru tahu bagaimana sifat playgirl yang dimiliki Sarah. Tak ayal bahwa dia selalu berganti - ganti pacar saat SMA. Namun kata karma aku tidak begitu paham maksudnya. Saat aku menyinggung mengenai kata itu, Sarah bercerita bahwa hidupnya tidak beraturan sekarang. Saat memasuki semester 2  saat dia berkuliah di Australa. Dia mendapat kabar bahwa ayahnya dijebloskan ke penjara karena terbukti melakukan korupsi. Banyak aset ayahnya yang disita membuat Sarah anak semata wayangnya tak dapat melanjutkan pendidikan kuliahnya dengan berat hati. Yang lebih menusuk hatinya bahwa Ibunya dengan tega meninggalkan ayahnya di saat terpuruk. Mungkin sifat palygirl yang dimiliki Sarah saat ini bisa jadi menurun dari sifat gen Ibunya. Disaat perpisahan dengan Ibunya, dia mendapati kata - kata menyakitkan dari Ibunya bahwa dia tidak mau membawa serta dirinya dan memberikan argumen bahwa belum tentu Sarah adalah anak resmi dari ayahnya saat ini toh sebelum menikah dengan ayahnya dia sudah berhubungan dengan banyak petinggi politisi lain, karena ayahnya yang sukses menjadi pejabat, maka dia memilih Ayah sarah untuk dijadikan suami. 

Tak berselang lama, Ayahnya meninggal di penjara karena depresi. Sarah hanya hidup dengan sebuah peninggalan rumah mewah yang menurut pengadilan adalah sebuah harta yang sah dari jerih payah Ayahnya yang tidak ada kaitannya dengan korupsi. Karena tak mempunyai pekerjaan, Sarah menjual rumah itu dan karena sifat glamour masih melekat di dirinya, dia hidup dengan menyewa sebuah apartemen dengan uang hasil menjual rumah peninggalan Ayahnya. Dia sering mabuk - mabukan saat berada di apartemen karena stress. Sejumlah hartanya pernah diperas ditipu oleh agensi investasi yang entah sekarang menghilang kemana. Karena tekanan batin yang tinggi dia mengarah ke obat - obatan hingga overdosis dan direhabilitasi hingga kerabatnya yakni bibinya mengambil alih dirinya keluar dari rehabilitasi dan menjadikanya sebagai anak tiri. Beberapa tahun tinggal dengan bibi-nya Sarah sudah kembali normal. Tak lama dia bertemu dengan sahabat lamanya yang saat itu menawarinya sebuah bisnis. Karena Sarah masih mempunyai tabungan hasil penjualan rumah mewahnya maka dia bermitra dengan sahabatnya itu untuk membuat sebuah kedai roti kecil - kecilan dan keuntungannya di bagi menjadi dua. Sarah sebagai salah satu pemilik, juga bekerja melayani pembeli di Kedai roti miliknya. Dan dia menceritakan bahwa paras cantik  yang dimilikinya terlalu cantik untuk dimiliki oleh seorang yang terkesan sebagai penjual roti yang akhirnya banyak pembeli yang naksir kepada dirinya. Namun tak pernah disangka bahwa hampir semua pembeli yang sudah mapan yang pernah mengajakknya kencan semuanya adalah seorang bajingan. Mereka hanya menginginkan dan mengeksploitasi kecantikannya dan hanya memanfaatkan dirinya. Begitulah kisahnya. 4 tahun tak terasa sangatlah cepat untuk mengubah kehidupan seseorang. Itulah kesimpulanku saat mendengarkan kisahnya. Sarah merasa dia mendapat karma karena dulu sering mempermainkan perasaan laki - laki saat di bangku sekolah.

"Ya beginilah aku sekarang Ario," katanya pelan sambil mengusap air matanya. "Aku hanya seorang pebisnis kecil dan juga merangkap sebagai pegawai dan juga seseorang yang sering dicampakkan. "Jika seleramu masih tinggi, maka saat ini aku bukan masuk salah satu kategorimu."

Wajah Sarah terlihat sendu. Matanya masih agak sedikit merah akibat kesedihan yang masih menguasai dirinya. Dia dengan pelan menenggak beberapa teguk sisa kopi dalam gelasnya. Wanita didepanku ini adalah idolaku dan aku rela menjadi pemuja rahasia selama 3 tahun saat berada di bangku sekolah. Namun sekarang, dia mengalami masa - masa sulit. Sarah hidup dengan kisah yang tidak terduga dan begitu banyak masalah yang menimpanya. Mendadak sebuah cahaya bertebaran di angkasa. Wajah Sarah yang saat itu sendu mendadak dihiasi dengan pantulan cahaya yang meledak - ledak di langit. Yah, kembang api tahun baru meledak indah di angkasa yang dinyalakan dari pusat kota. Saat itu juga aku memegang jemari Sarah dengan kedua tanganku dan berkata " Tahukah kamu mengapa ledakan kembang api begitu indah di malam menjelang tahun baru?" Sarah hanya merespon dengan menggelengkan kepala. " Karena mereka begitu bersemangat untuk menyambut tahun baru dengan kemilau cahayanya. Segelap apapun langit, kembang api akan selalu berusaha untuk menyinarinya dan menyongsong tahun baru dengan penuh semangat. Segelap apapun kisahmu, apakah kau mau membuka lembaran baru dengan menjadi kekasihku Sarah?" Hatiku berdegup mendengar jawabannya, namun aku menemukan jawabannya dengan hanya melihat paras wajahnya yang memberikan senyum yang menawan. Awalnya aku mengira bahwa  aku adalah seorang pecundang yang tak berani menyatakan perasaan. Namun aku baru menyadari, bahwa seorang pecundang hanyalah seseorang yang tak bisa menerima kekurangan dari orang lain. Dan mulai saat ini, aku akan hidup berdampingan dengan apapun itu segala kekurangan yang dimiliki sarah sebagai pria sejati.

9 comments:

Kyla Pearlisha said...

BW here.Kretif betul ya :) GOOD LUCK n HPPY NEW YEAR

lina@happy family said...

Hebat nih Ario, konsisten dengan cintanya ke Sarah. Manusia langka :)

sangwaktu.com said...

Woowooowo Tulisan yang sangat menginspirasi dan sangat SUPER..., Hmm sangwaktu.com selalu setia membaca cerpen dari 0 sampai cerpen yang ke 8. Keren abies pokoke...

Hmm... padahal sangwaktu.com selalu uptodate, tpi om widodo g pernah berkunjung.

Januari ooOoOoOhhhHhh Januari. ^__^

Arief W.S said...

Kyla Pearlisha @ terima kasih :) Happy New Years juga buat Kyla dan sukses selalu :D

Lina @ karena sifat kelangkaannya itu makanya harus dilestarikan dengan bentuk cerita walau fiktif, hehe :) Makasih ya mbak dah mau komentar :)

Jefonses S.KOM M.KOM @ Super sekali komentar anda. Widodo selalu memantau artikel terbaru di sangwaktu :)
Januari...oh..januari, perut bakal kenyang di January :D

sangwaktu.com said...

Hahahhaha....., Ada apa dengan januari ya....? Hmmm kayaknya ada yang sangat special... wkwkwkw.

Elfrida Chania said...

Ceritanya keren banget. Bikin lagi cerpen yang banyak dong, pingin baca lagi soalnya hehe :D

Arief W.S said...

Sangwaktu @ ada angka 26 yakni tanggal keramat di setiap bulan januari hahaha :D

Elfrida Chania @ Makasih atas pujiannya Chania. Iya, pasti aku akan selalu buat kalau emang pas ada inspirasi pasti langsung mulai ketik tuts keyboard he :)

imaa Rahmawati said...

ampir nangis baca endingnya,
makin oke aja ceritanya bang :D

Arief W.S said...

Ima Rahmawati @ wuzzz ketahuan nih gampang nangis hehehe :) Btw makasih dah sempetin baca Ima :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...