Thursday, March 27, 2014

Kerajaan Islam terakhir di Bumi Spanyol 1492

Apa yang identik bila mendengar kata Spanyol? Yup, pastilah kita selalu berkata bahwa mereka adalah negara yang menjuarai Piala Dunia tahun 2010 serta dua kali berturut - turut menjuarai Piala Eropa tahun 2008 dan 2012. Selain itu ada rivalitas dua klub hebat asal Spanyol yang mendunia dan hampir setiap orang mengetahuinya, yakni Real Madrid dan Barcelona. Namun adakah rivalitas yang tak kalah hebat di masa lampu yang setara dengan rivalitas Real Madrid dan Barcelona? Tentu saja ada, bahwa dahulu ada peperangan besar antara kerajaan terakhir Islam di Bumi Spanyol dengan kerajaan Kristen yang dijabarkan lengkap pada buku Runtuhnya Islam Spanyol Granada 1492 karya David Nicolle.

Di buku tersebut memang tidak dijelaskan dari awal peradaban Islam masuk ke Spanyol mulai abad ke-7 Masehi dan perkembangannya yang menakjubkan mulai dari ilmu pengetahuan, pusat peradaban dunia pada masanya dan sebagainya melainkan langsung menceritakan peperangan akhir dengan detail kerajaan Islam terakhir Granada di Spanyol yang harus menerima kekalahan akibat gempuran hebat dari tentara Kristen. Dalam buku tersebut dijabarkan lengkap mengenai pokok masalah yang menjadi badai dalam perseteruan dua kerajaan. Para tokoh - tokoh penting kedua kubu. Berbagai taktik militer perang yang digunakan kedua kubu untuk saling berhadapan, maupun bertahan.

Secara singkat, kekalahan Islam di Bumi Spanyol ditenggarai oleh bersatunya dua kerajaan besar pada saat itu yakni Castilla dan Aragon dengan dinikahkannya Ratu Isabella dari Castilla dan Pangeran Fernando dari Aragon. Bersatunya dua kerajaan itu menjadikan sebuah kesatuan kerajaan Kristen yang kuat di benua Eropa. Ratu Isabella sendiri adalah seorang yang fanatik pada agamanya dan intoleran kepada agama lain baik itu Islam maupun Yahudi dan sekte - sekte lain yang ada di jamannya. Isabella mempunyai cita - cita ingin mengusir orang kafir dari Bumi Spanyol. Ambisinya itu terlaksana  ketika suaminya Pangeran Fernando bersedia membantu istrinya untuk mewujudkan keinginannya tak lain karena juga sebagai balas budi karena kerajaan Castilla juga pernah membantu kerajaan Aragon dan juga Isabella mampu meyakinkan Paus di Roma dengan suratnya bahwa keputusannya untuk memerangi kerajaan Granada bukan untuk memperluas wilayah tapi untuk membela Tuhan dengan Iman Khatoliknya yang kudus yang akhirnya dengan surat itu mampu menggalakkan kembali semangat juang perang salib yang sempat mati yang berdampak masuknya bala bantuan dari negara - negara Kristen berupa kiriman ksatria - ksatria prajurit untuk melawan Granada. 

Posisi Granada sendiri pada saat itu bukanlah merupakan sebuah kerajaan yang lemah, melainkan dari segi teknologi dan ksatria-nya serta strateginya sangatlah kuat bila dibandingan dengan para ksatria dari Castilla dan Aragon. Hal itu dibuktikan dengan gagalnya serangan pertama yang dilancarnya Pangeran Fernando beserta pasukannya yang mampu dipukul mundur tak berdaya oleh Abu'l- Hasan 'Ali Amir yang selaku Amir maupun Sultan penguasa Granada pada saat itu beserta Adiknya Muhammad XIII Al-Zagal. Hal yang mengacaukan segalanya bagi kerajaan Granada adalah Muhammad XII Boabdil selaku anak dari Abu'l - Hasan 'Ali Amir yang merasa tidak nyaman dengan kemenangan ayahnya dan Muhammad XIII Al-Zagal pamannya atas serangan Pangeran Fernando di perbatasan. Karena Pamannya Muhammad XIII Al-Zagal merupakan saingan Muhammad XII Boabdil dalam tahta posisi sultan selanjutnya untuk menggantikan ayahnya. Melihat kemenangan itu, Muhammad XII Boabdil takut bahwa nantinya dukungan rakyat akan berpaling kepada pamannya akibat kemenangan yang diraihnya bersama ayahnya dan itu mengancam posisinya sebagai Sultan yang akan menggantikan ayahnya. Oleh sebab itu, tanpa strategi dan perhitungan yang jitu Muhammad XII Boabdil mengerahkan pasukannya menyerang wilayah perbatasan di Castilla dengan tujuan kemenangan dan untuk mendapatkan dukungan rakyat melebihi pamannya dalam  meraih posisi tahta Sultan nantinya. Ambisi dan Hasrat yang berlebihan Muhammad XII Boabdil inilah yang malah menjerumuskannya ke dalam kekalahan yang merugikan kerajaan Granada serta dirinya menjadi tawanan sebelum akhirnya dibebaskan. Melihat tentara Castilla yang mampu mengalahkan dan menangkap putra raja, Ratu Isabella mengobarkan semangat juang kepada pasukannya yang saat itu sedang putus asa akibat kekalahan yang diterima pangeran Fernando bahwa Kerajaan Granada mampu ditaklukkan. Kobaran semangat Ratu Isabella akhirnya berhasil dan dalam beberapa tahun kemudian setengah wilayah Granada mampu dikuasai Castilla dan Aragon. Akibat banyaknya wilayah yang terengut, Sultan atau Amir Abu'l - Hasan mengalami stroke dan posisinya digantikan oleh adiknya Muhammad XIII Al-Zagal. Pada saat kepemimpinan Al-Zagal terdapat perang saudara antara Al-Zagal dan Boabdil, bisa dikatakan perang antara paman dan keponakan menyikapi tahta sultan yang diberikan kepada Al-Zagal sehingga menimbulkan pemerintahan Granada yang sudah tersudut terbagi menjadi dua antara pendukung Al-Zagal dan Boabdil. Konflik internal yang terjadi di kubu Granada dimanfaatkan dengan baik oleh Pangeran Fernando yang akhirnya mampu membuat Al-Zagal menyerah dan akhirnya pergi menuju Al-Jazair. Sedangkan Muhammad XII Boabdil diberikan posisi Amir atau Sultan di beberapa wilayah yang sudah disepakati oleh Pangeran Fernando dan Ratu Isabella karena sifatnya yang lunak kepada kerajaan Castilla dan Aragon namun akhirnya Boabdil tetap melakukan perlawanan akibat dari perlakuan wilayah yang tidak adil menurut Muhammad Boadil seperti yang sudah dijanjikan dan juga desakan rakyat untuk mempertahankan negara tanpa bawahan kerajaan lain. Pada akhirnya Muhammad Boadil juga menyerah karena kekuatan yang tidak sepadan dan juga resmi menyerahkan kerajaan Granada kepada Ratu Isabella dan Pangeran Fernando. Setelah itulah, nasib para warga Muslim dan Yahudi dan agama yang lain pada saat itu mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan, Ratu Isabella menuntut para warganya yang kafir masuk paksa ke Kristen. Berbeda halnya saat Granada dikuasai oleh Islam yang sangat toleransi dengan berbagai agama.

 Penyerahan Granada kepada Ratu Isabella dan pangeran Fernando

Muhammad XII mendapatkan sebutan sebagai si Malang. Karena setelah kejatuhan Granada, dia hanya diberikan beberapa desa di daerah gunung - gunung untuk menjadi penguasanya. Istri dan anaknya dikabarkan pergi ke madrid memeluk agam Kristen. Pada tahun 1493 Boabdil menjual desa - desanya kepada Spanyol dan pergi ke Aljazair Barat bersama sisa -sisa pengikutnya. Muhammad XII Boabdil meninggal pada umur 80 tahun pada tahun 1536 saat perang membela Sultan Fez dan kematiannya menjadi bahan olokan seperti Maut datang ketika dia mempertahankan kekuasaan orang lain sementara dia tak berani mempertahankan kerajaannya sendiri.   

Muhammad XII Boabdil, Sultan atau Amir terakhir dari Kerajaan Islam Granada yang dengan gagah berani melawan para ksatria Castilla dan Aragon namun juga disayangkan sifatnya yang merugikan Kerajaan-nya sendiri.

NB : Setelah membaca sejarah mengenai kekalahan Islam di Spanyol, maka ada sebuah pelajaran yang didapat bahwa haus kekuasaan dan pangkat keduniawian hanya akan menghancurkan segala yang sudah dibangun dari awal, seperti hal yang dilakukan Muhammad XII Boabdil akibat sikap haus tahta akan ayahnya yang malah merugikan dan menghilangkan peradaban Islam yang sudah ada 7 abad di Spanyol yang notabene saat itu peradaban Islam menjadi pusat ilmu dunia. Setelah kekalahan Islam di Spanyol, ilmu pengetahuan peradaban Islam dikembangkan lebih lanjut oleh bangsa - bangsa Eropa sehingga Eropa menjadi maju hingga sekarang ini.     

2 comments:

Anonymous said...

artikel ini keren bro
.
backlink ya gan, aja2x.blogspot.com

Arief W.S said...

Terima kasih, saya pasti ninggalin jejak di buku tamu anda pas blogwalking :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...