Wednesday, April 16, 2014

Cepen ke-9 ku, Friend Ever After



Ciuman pertama, menurutku hal itu adalah sesuatu paling konyol dan bodoh sepanjang hidupku yang pernah aku lakukan. Meski begitu, hal itu juga merupakan sesuatu yang membuatku kehilangan teman dan menjadi salah satu hal yang tak pernah aku lupakan. 

Ketika duduk di bangku kelas 6 SD, seorang cowok teman dekat dan juga menjadi  yang aku idamkan, sebut saja namanya Rahman saat itu sedang berulang tahun. Perayaan kejutan mendadak dari teman - teman sekelas sepulang sekolah membuat rambut dan seragam Rahman berlumuran tepung dan telur. Sebelum mengakhiri perayaan kejutan ulang tahun, semua teman sekelas membentuk barisan menyalami Rahman yang berdiri kikuk karena hampir mirip dengan manusia salju. Setelah bersalaman, sebagian menyerahkan sebuah bingkisan sebagai kado ulang tahun. Ketika giliranku berhadapan dengan Rahman aku langsung menjabat tangannya dan mengulas seutas senyum manis dihadapannya.

"Hanya jabat tangan serta ucapan sajakah Lili? Tanpa sebuah kado?" Tanya Rahman dengan ekspresi kikuk mungkin karena malu wajahnya serba putih belepotan akibat serangan serbuk tepung gandum.

"Ada kadonya kuk, dan sangat spesial,"sahutku dengan cepat. "Coba pejamkan matamu Rahman," pintaku dan dengan segera Rahman memejamkan matanya. Disaat itu jugalah, aku menegakkan posisi tubuhku, dengan posisi jinjit untuk menaikkan posisi kepalaku agar menjangkau wajah Rahman, disaat itulah aku mencium bibirnya.

Semua mata saat itu terperangah kearahku dan Rahman. Seuasana yang ramai, sejenak menjadi hening seketika. Mata Rahman terbelalak kaget saat mendapati diriku menciumnya dan dia dengan cepat memundurkan badannya. Tanpa disadari, ada sebuah guru yang melihat tingkah laku-ku dari kejauhan, dan kemudian menyuruh kami berdua untuk ke ruang guru. Disana kami diceramahi tentang norma dan etika yang tidak lazim seperti berciuman. Saat diceramahi dengan nada tinggi, aku menoleh ke Rahman yang berada di sampingku. Kulihat Rahman hanya menundukkan kepala tanpa ekspresi dan tak menoleh sedikitpun kepadaku. Sejak saat itu, Rahman tak pernah menyapaku, hingga lulus dari kelas 6 Rahman sama sekali tak pernah bicara denganku bahkan ketika aku mengajakknya bicara dia diam seribu bahasa tanpa menganggappku ada.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-25. Pesta ulang tahunku hari ini selesai dirayakan di cafe sepulang kerja. Jadi di sudut ruangan kostku memang menumpuk beberapa bingkisan kado dari rekan kerja. Sangat bahagia memang disetiap ulang tahun selalu ada yang merayakannya entah keluarga, dan teman - teman. Namun di setiap pergantian umur, ada suatu rasa sedih yang selalu muncul dan tak bisa hilang, yakni kenangan akan ciuman pertamaku kepada Rahman. Dewasa ini, aku baru sadar bahwa apa yang aku perbuat dulu adalah salah. Di saat moment kebahagiaan perayaan ulang tahun seseorang, aku malah membuat sakit perasaan temanku dengan melakukan tindakan konyol. Rasa bersalah itulah yang selalu membebaniku setiap pergantian umur dan memunculkan perasaan sedih.

Rahmad adalah seorang anak dari Ustadz ternama di Kotaku saat itu. Wajahnya memang keren walau masih di bangku SD sempat membuat aku terlena olehnya. Ayahnya mengelola sebuah padepokan besar dan pendakwah ternama, jadi memang tingkah laku Rahmad benar - benar saleh. Hanya aku seorang bocah bodoh saat itu yang nekat melakukan tindakan konyol karena ingin mendapat perhatian dari semua teman sekelas dengan menciummnya. Dewasa ini aku baru menyadari mengapa Rahmad menjauhiku saat itu. Dengan latar belakang pendidikan keluarga yang syarat akan agama, bagaimana rasanya mendadak mendapatkan sebuah ciuman yang menurutnya adalah sebuah tindakan yang haram hukumnya? Mungkin saja tindakan konyolku saat itu menciderai kejiwaannya dan membuatnya shock.

Aku menyalakan laptopku dan menghubungkannya ke internet lewat modem. Membuka facebook adalah tujuan utamaku untuk melihat berapa banyak notifikasi ucapan ulang tahun yang biasanya bejubel di pojok kanan atas. Setelah login, di dinding berita pembaharuan paling atas, muncul sebuah poster yang bertuliskan launching dan peresmian butik Islami. Disitu selain ada denah lokasi butik yang akan dibuka, jadwal acara, terpampang foto sebuah wanita berbusana muslim cantik. Yah, wanita itu adalah istri Rahman  bernama Fatimah. Dan account yang memasang poster acara itu adalah milik Rahman.

Kira - kira setahun lalu, lewat group alumni SD TAMANSISWA Yogyakarta di facebook, aku menemukan account facebook Rahman dan saat itu aku meng add-nya sebagai teman. Meskipun aku sudah diterimanya menjadi salah satu daftar dari sekian banyak temannya, namun di saat online bersamaan, tak pernah sekalipun kami berbincang. Entah karena aku yang takut memulai dengan alasan masih memendam rasa bersalah atau memang karena Rahman masih membenciku. Meski begitu, lewat facebook aku mengikuti perkembangan dirinya dari bulan ke bulan. Aku jadi tahu bahwa sekarang Rahman sukses menjadi desainer baju Islami dan mempunyai seorang istri dengan kemampuan personal manajemen pemasaran yang hebat sehingga setiap butik yang dia bangun dia serahkan manajemennya kepada istrinya untuk dikelola. Poster yang baru saja diupload lewat account milik Rahman adalah pengunguman launching dan peresmian butik ke-8 nya yang dia bangun dan kebetulan butik itu dibangun di Bandung tak jauh dari tempat kost aku berada.

Langit terlihat hitam pekat dan sedikit kemerahan. Tepat pukul 20:00 malam ketika menjejakkan kaki keluar dari dalam taksi, hawa dingin setelah hujan kurasakan seperti hendak membekukan sendi - sendi tulangku. Saat ini, aku berdiri di depan butik milik Rahman. Entah ini tindakan bodoh atau bukan, aku sudah membulatkan tekad untuk menemuinya, setidaknya untuk berbicara dan meminta maaf, agar pertemanan ini serasa tidak hambar. Bagaimanapun menurutku ini adalah moment yang pas mumpung dia ada di Bandung.

Ketika memasuki area gedung butik, banyak terjejer puluhan mobil dan motor tamu undangan. Dilihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir, sepertinya di dalam acaranya sangat ramai. Saat berada di pintu masuk, seorang petugas menanyai sebuah kartu undangan, namun aku hanya menjawab bahwa aku teman masa kecil Rahman dan tanpa perlu waktu lama petugas itu langsung mempersilahkan aku masuk dikarenakan acara sudah berlangsung sejak tadi.

Menurutku, ini adalah butik milik Rahman yang paling besar diantara butik - butik lainnya yang dimilikinya. Aku bisa bilang begitu dalam hati karena aku juga melihat foto - foto butik lainnya di album facebook miliknya. 

Tiba - tiba rasa canggung menyerangku saat ini juga dikarenakan ketika aku membaur dengan para tamu undangan terutama para tamu perempuan, terlihat hanya aku saja yang tidak memakai jilbab yang seakan tidak menghormati bahwa ini adalah perayaan peresmian butik Islami. Tak berselang lama pikiran canggungku-ku hilang setelah konsentrasiku tertuju pada Rahman yang sedang berpidato di samping istrinya di atas panggung kecil di tengah ruangan. Tak berselang lama juga tatapan kedua mata kami saling bertemu. Saat itu juga sambil berpidato, tatapan mata Rahman tak pernah lepas dari diriku, seakan diriku ini adalah sasaran peluru kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasa canggung kembali menghantuiku, dan entah kenapa tekad bulat diriku untuk berbicara kepada Rahman mendadak pudar. Tak enak dengan perasaan ini akhirnya aku memutuskan untuk berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum menggapai gagang pintu, ada sebuah suara yang menghentikanku.

"Tunggu Lily, berhentilah disitu," ucap Rahman yang terdengar keras dari Michropone-nya dan memotong pidatonya yang setengah berlangsung.

Langkah kakiku mendadak membeku mendengar ucapan dari Rahman yang seakan menggelegar di pendengaranku dan kemudian aku membalikkan badanku. Kini aku melihat perhatian semua tamu undangan tertuju kepadaku. Mereka semua memandangiku dengan penuh tanya tanya. Tak lama, Rahman beranjak turun dari panggung dan mendekatiku.

Ketika Rahman berdiri didepanku, ternyata tinggi badannya tak berbeda jauh dengan diriku saat ini. Entah apa yang terjadi, seingatku, dia lebih tinggi beberapa jengkal saat masih di SD. Kami bertatapan muka, namun tak ada senyum maupun sapa. Kami hanya diam dan berpandangan. Mendadak Rahmad mengeluarkan sebuah kerudung dari saku jas nya yang rapi, kerudung itu dia bentangkan dengan kedua tangannya dan dia pakaikan kerudung itu di kepalaku. Tak berhenti sampai disitu, kedua tangannya dengan gesit menata kerudung itu hingga menutupi semua rambutku dan akhirnya membentuk jilbab yang berpola.

"Apa yang kamu lakukan Rahman...??"Tanyaku agak gugup.

"Kau terlihat lebih cocok jika menggunakan Jilbab seperti ini," jawab Rahman.

Jawabannya memang simpel. Tapi mendengarnya di hatiku sedikit agak sebal. Disaat suasana hatiku sedang kacau balau, dan dimana perhatian semua orang sedang tertuju kemari, dia malah dengan enaknya memakaikan jilbab padaku.

"Apa maksudmu sebenarnya Rahman??? Kau tahu sekarang banyak orang yang sedang memperhatikan kita dan..."

"Yah benar, semua orang memperhatikan kita, begitu juga dengan belasan tahun lalu tentang kejadian tak mengenakkan di sekolah akibat tindakanmu. Akibat tindakanmu semua siswa menyebarkannya dari mulut ke mulut hingga hinggap ke kuping ayahku. Dan setelah itu timbul banyak fitnah yang tak benar perihal pertemanan kita." Jelas Rahman dengan berkacak pinggang di hadapanku. Kemudian tanpa sadar Fatimah istri Rahman sudah berada di samping Rahman dan memegangi pundakknya. Setelah itu pandangannya tertuju padaku sambil berkata;

"Jadi ini yang namanya Lily?" Kemudian Fatimah mendekatkan wajahnya ke telingaku sambil berkata pelan, "Sebenarnya aku sangat cemburu ada seorang wanita yang pernah mendahului mencium suamiku." Mendegar perkataannya aku jadi kaget bahwa Rahman menceritakan masalah pribadinya ke Fatimah, dan aku benar - benar merasa tidak enak kepada Fatimah. Namun, Fatimah hanya tersenyum setelah mengatakan itu dan kemudian memegang kedua tanganku bermaksud untuk memberikan ketenangan di hatiku.

"Lily, kata Rahman dan sejenak dia menghembuskan nafas panjang. Setelah itu seulas senyum keluar dari wajahnya. " Terima kasih sudah mau datang kemari. Aku sungguh senang dan tidak disangka kamu mau datang. Kedatanganmu ini, membuatku bisa mengutarakan kekesalanku atas dirimu selama ini yang aku pendam. Aku sudah puas bisa mengutarakannya kepadamu. Dan juga aku ingin minta maaf."

"Minta Maaf" Sergahku. Bukannya aku yang harus minta maaf?" Tanyaku bingung kepada Rahman.
"Tidak, tidak seharusnya kamu yang minta maaf. Tidak seharusnya aku memutuskan hubungan pertemanan kita waktu itu. Aku saat itu adalah seorang bocah yang egois, yang tak bisa menyikapi masalah dengan benar dengan cara malah memutuskan hubungan Sillaturahmi kita dengan meninggalkan berbagai perasaan yang menggantung. Jadi sekali lagi maafkan aku Lily."

"Oh, ya, Jilbab yang kamu pakai itu," tambah Rahman sambil menunjukkan jarinya ke arah kepalaku," Jilbab itu adalah kado ulang tahun dariku untukmu. Tak kusangka kamu juga cantik jika memakai Jilbab."    

- THE END -         

11 comments:

Elfrida Chania said...

Cerpennya bikin melting :')

Aku suka sama karakter Rahman, kayaknya dia tipe orang yang baik dan perhatian. Cuman penasaran aja, apa si Rahman ini pernah punya perasaan khusus ke 'aku'? Hehe :)

Fhatin Amelia said...

nice :)

Arief W.S said...

Elfrida Chania @ Walah pakai melting segala :) Sebetulnya bukan masalah perasaan cinta yang dialami Rahman, namun perasaan sayang akan persahabatan, toh mereka kan awalnya teman dekat :)

Fhatin Amelia @ Makasih juga fatin udah berkunjung :)

nmn said...

Best cerpennya :-)

azlia said...

bagus la..

Fathiyah Selamat said...

rajinnya tulis cerpen.. =)

singgah dan follow sini..

Nur Syuhaidah said...

Hahahha, Nice:d

Motamatika said...

Ini cerpen dibuat sendiri sob?
Bagus juga, ijin nyimak sobat :D

Arief W.S said...

nmn @ Best juga yang komen dan aku haturkan terima kasih :)

azlia @ Terima kasih pula la teman :D

Fathiyah @ Makasih dah follow :)

Nur Syuhaidah @ hahaha tahnk you very much :)

Motamatika @ Iyalah Pak Guru ane pasti buat sendiri, Pak Guru mah sukanya tanya gtu melulu, dosa tau posting cerpen orang lain, hehehe :)
Makasih yah dah mau luangin waktu buat baca karya saya :)

Andreansyah Dwiwibowo said...

wah, suka bikin cerpen mas,
kapan-kapan boleh dong sharing di grup saya ya.. banyak di sana yang suka sastra dan hal-hal berkaitan dengan kepenulisan.

Arief W.S said...

Andreansyah @ saya suka berkhayal, jadi media untuk nyampeiinya emang tulisan dan di blog untuk sementara ini :) Makasih loh bang infonya dan dah mau komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...