Wednesday, December 10, 2014

Cerpen ke - 12, He Different Part. 1

Guntur saling bersahut - sahutan ketika badai sedang melanda. Lebatnya hujan hari ini, memaksa Sherly tidak dapat pergi untuk menjalani rutinitas hariannya berlatih menari dan vocal. Wajahnya tercermin di jendela kaca ketika dirinya memerhatikan awan hitam yang seakan menghalau doa - doanya agar segera meredakan badai yang melanda. Dia terlihat kesal, karena latihan hari ini sangat penting demi persiapan dirinya dan group menarinya untuk tampil memeriahkan acara perpisahan kakak - kakak kelas SMP-nya 4 hari kedepan.

Karena batal keluar rumah, akhirnya Sherly melucuti kaos dan sweater tebal yang dipakainya hingga hanya menyisakan sebuah tanktop berwarna merah muda dengan model sebatas perut bagian atas yang terkesan menggelayut di dadanya yang ideal, memperlihatkan pusarnya yang diapit oleh dua buah pinggang yang sangat langsing dan berotot akibat latihan menari. 

Kemudian dia melanjutkan mencopot celana jeans tebalnya dan menggantungkannya di samping almari kaca yang dipenuhi oleh piala dan piagam penghargaan menari dan menyanyi tingkat Kabupaten. Setelah itu dia melompat ke kasur dan menggapai smartphone miliknya yang sedari tadi bermalas - malasan di atas spon kasurnya yang empuk. Di layar smartphonenya, dalam sebuah Group Chat, Sherly menuliskan perkataan maaf tak bisa menghadiri latihan hari ini disertai stiker emotion bernuansa sedih.

Sebuah dering bel terdengar berulang kali. Karena badai yang melanda dan derasnya hujan, hampir saja Sherly tak mendengar suara bel pintu yang sedari tadi berteriak - teriak seakan memohon perhatiannya. 

"Ah itu kakak!" teriaknya sembari beranjak berdiri dari tempat tidur dan berlari menuruni tangga. Kleekk!! Suara pintu terbuka, dan terlihat kakaknya, Bastian dengan menggunakan mantel setengah badan dan celana biru seragam SMA nya terlihat basah kuyup.

"Kenapa lama sekali??!!" Ketus Kak Bastian kesal dan kemudian dari belakang muncul seorang temannya yang bagi Sherly merupakan pertemuan pertama kalinya karena Sherly merasa teman kakaknya ini baru pertama kali mengunjungi rumah. 

Tak lama ketika memandangi Sherly, wajah teman kakaknya itu menunduk dan mengalihkan pandangan. Teman kakaknya itu serasa terguncang melihat seorang gadis berumur 14 tahun dengan lekuk tubuh yang nyaris sempurna layaknya wanita dewasa yang hanya dibalut oleh tanktop dan hot pants pada bawahannya. 

Memahami suasana yang terjadi, Bastian mendekati Sherly sembari berbisik, " Naiklah ke atas, pakailah baju, Dia, Arjuna, siswa kelas 3, kakak kelas sekaligus mantan ketua kegiatan rohani di sekolahan, meski begitu dia masih aktif di Rohis menggawangi para juniornya." 

Mendengar penjelasan kakaknya, Sherly merasa bersalah memakai pakaian seronok didepan teman kakaknya yang ternyata aktif di organisasi keagamaan. Meski begitu, kesalahannya juga karena tidak disengaja, Sherly tidak tahu bahwa kakaknya mengajak seorang teman. " Oh ya, buatkan dua minuman dan serta ambilkan camilan buat kita, tolong ya dik" pinta kakaknya ketika Sherly hendak menaiki tangga.

Dengan langkah pelan, Sherly mendekati Arjuna dan kakaknya yang sedang asyik berbincang diruang TV. Sekarang dia sudah memakai kaos putih bergambar teddy bear dan celana katun panjang, sehingga penampilannya tidak akan mengejutkan teman kakaknya untuk yang kedua kalinya. Dengan pelan, Sherly menekuk kedua kakinya, berlutut di hadapan kedua orang tersebut sambil menaruh baki yang diatasnya berdiri dua buah gelas berisi piring kecil dan teh panas yang asapnya masih mengepul ke udara dan biskuit kelapa dalam sebuah toples.

Sherly mencuri pandang ke arah Arjuna saat meletakkan baki di meja. Dia melihat sesosok lelaki yang sedang duduk di sofa dan hanya menggunakan celana pendek bergambar pemain bola yang jelas - jelas milik kakak-nya, dengan tubuh bagian atas yang tidak dibalut oleh sehelai kain pun. Meskipun memiliki badan yang sedikit kurus, namun Sherly tahu bahwa Arjuna, bagaimanapun juga walau aktif di kegiatan kerohanian di sekolahnya seperti kata kakakknya, di sisi lain dia yakin bahwa Arjuna pasti melakukan suatu hal yang menguras keringat entah berolahraga apapun itu. Hal itu ditandai dengan otot - otot lengan dan bahu serta dadanya yang kencang, serta bagian perut yang membentuk persegi kotak . Karena kegiatan yang menguras keringat adalah hal biasa seperti rutinitasnya berlatih menari, maka Sherly otomatis tahu dalam sekejap pandang bentuk tubuh seseorang yang sering melakukan pekerjaan berat maupun gemar berolahraga. Sepertinya, Sherly mulai merasa terpukau oleh bentuk badan dari teman kakaknya ini. Dari awalnya sekedar ingin mencuri pandang, akhirnya berlanjut menjadi lamunan.

"Sherly!," Sapa kakakknya keras dengan pandangan mencurigai. Seketika itu juga Sherly tersentak dan karena sapaan kakkanya yang terlalu keras, membuat Arjuna mengentikan kegiatannya yang sedari tadi mengeringkan rambut basahnya dengan handuk dan perhatiannya teralihkan oleh suara Bastian.

"Kenapa kau bengong memandangi Arjuna seperti itu?" Tanya kakaknya, dan Sherly benar - benar kelabakan tingkah lakunya. Sherly tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya, namun malah melirik ke arah Arjuna, saat itu juga pandangan mereka berdua saling bertemu.

"Ehhh....," Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Sherly dengan cengiran yang terkesan konyol. " Silahkan dinikmati teh dan cemilannya kak Arjuna!". Hanya itu kata terakhir yang terlontar dari mulut Sherly, kemudian dia berjalan cepat meninggalkan mereka berdua dan ketika dirinya aman dari penglihatan mereka berdua saat bersandar di tembok dapur, Sherly menghela napas panjang. Seketika itu juga samar - samar dirinya mendengar perbincangan kakaknya dan Arjuna membahas sikap dirinya.

"Adikmu tingkah lakunya aneh, Kata Arjuna sambil mengalungkan handuk di lehernya karena rambutnya sekarang sudah setengah kering.

"Yah...mungkin saja dia suka kamu, " kata Bastian tanpa pikir panjang. 

"Whaattt!!!" Perkataan kakakknya barusan sontak membuat gerah perasaan Sherly. "Idih, apa - apaan sih kak Bastian, sok tahu aja, ngomong sembarangan!" Dengan kesal, Sherly melangkah cepat menaiki tangga, memasuki kamarnya, dan kembali melompat ke kasurnya. Dia kembali mengambil smartphone miliknya seolah membangunkannya dari tidur lelapnya. Dalam sebuah group sosmed dengan judul XYZ GIRLS, dia mulai mengetikkan kata  demi kata.

"Hey Guys, kau tahu apa barusan yang terjadi?" 

"Tentu saja, yang terjadi hari ini kamu tak datang latihan dan menyiksa kita memainkan gerakan tanpa koreografi darimu, " Sebuah balasan dari seseorang dengan account nama Zee.

"Hehehe, maaf soal itu. Tapi yang benar adalah kakakku datang dengan seorang teman."

"Udah berapa kali sih kamu cerita soal teman kakakmu yang sering datang dan godain kamu. Udah bosan aku nyimakknya. Nih sebagai bukti, aku dah hapal ada sekitar 10 orang teman kakakmu yang sering godain kamu pas main kerumahmu, dan ada sekitar 15 atau lebih yang sudah pernah nembak kamu," Ujar sebuah account bernama Melati.

"Nah, kali ini, kamu mau cerita tipu daya apalagi yang dilancarkan oleh teman kakakmu itu? Kalau kupikir, selain teman kakakmu, udah banyak cowok - cowok keren lainnya yang nembak kamu. Yailah yah, siapa yang gak tertarik dengan juara miss dance sekabupaten ini, yang super seksi dan imut kayak kamu. Tapi aneh, dari semua cowok yang nembak gak da satupun yang kamu terima. Atau jangan - jangan kamu.....L*S*B**", tulis sebuah account bernama Mitha.

"IIhhhh...apaan deh kamu Mitha. Ngaconya bener - bener diambang batas!!" Ketus Sherly dengan emotion marah berwarna merah pekat. " Bukan begitu, temen kakakku yang satu ini bener - bener gak tertarik padaku. Pas ketemu aja dia gak tahu siapa aku."

"Whaattt seriuss??? Siapa sih yang gak kenal Sherly yang udah pentas mengisi acara di seluruh SMA dan SMP di kabupaten kita!! Yang masuk wawancara radio lokal. Yang masuk headline di 5 suratkabar lokal!!!" Tulis Zee.

"Jangan - jangan temen kakakkmu itu orang dekil, gaptek, gak pernah update berita sosmed masa kini. Atau jangan - jangan baru bebas dari masa kurungan!" Tulis Melati.

"Hikss sedih rasanya kalau ada yang gak kenal pentolan girlband kita, alhasil nantinya juga bakal berdampak ke member lain seperti kita - kita jika pentolannya aja seperti Sherly gak dikenal orang. Tapi yang lebih menyakitkan, kenapa ya harus Sherly yang folowernya terbanyak di kabupaten ini, padahal aku juga member group di girlband ini yang gak kalah beken, huhuhu, tidakkk!!!" tulis Mitha.

"Iiihh..apaan deh kalian ini jadi lebay. Teman kakakku itu alim tahuu. Dan dia masih aktif di organisasi kerohanian sekolah meski kelas 3 dan mau lulus. Dan.....sepertinya aku tertarik ma dia!."

"Haaahhh, seriussss????"" Tulis Zee.

"Ini baru berita hebohhhh!!!" Tulis Melati.

"Beneran??? Ama cowok yang nembak kamu waktu di tempat latihan itu tinggi mana? Ama cowok yang nembak kamu setelah kita pentas di alun - alun pas acara ulang tahun kabupaten itu cakep mana? Dan ma anak bupati yang nembak kamu itu tajir mana?" Tulis Mitha.

Sherly langsung membuang smartphone miliknya ke sisi lain tempat tidurnya. Layar notifikasi LED di smartphonenya berkedap - kedip tanpa pernah berhenti. Menandakan bahwa teman chat segroupnya, Zee, Melati, Mitha masih memberondongnya dengan berbagai pesan konyol. Dan Sherly sepertinya tak mau membahas masalah ini lagi dengan mereka.

"Apa - apaan mereka ini. Orang ingin share kuk malah seheboh ini tanggapannya, " Kata Sherly sambil mengamati smartphonenya yang seakan merayu agar membalas pertanyaan dari teman - temannya.

Sherly kemudian mengambil sebuah buku catatan dan sebuah ipod dari laci mejanya. Sambil mendengarkan ipod, dia menggenggam sebuah pulpen kecil dan sedikit bersenandung. Kadang dia menggerak - gerakkan pulpen di genggamannya seperti terbang di awan - awan mengikuti sebuah irama, setelah itu sang pulpen langsung meluncur di atas lembaran kertas, menari - nari diatasnya. Dirinya, sedang melanjutkan memodifikasi sebuah lagu pop untuk dipentaskan di acara perpisahan kakak kelasnya. Setelah 30 menit berlalu, entah kenapa tenggorokannya terasa kering.

Hujan memang sedikit mereda dan waktu sudah menunjukkan sore hari. Awan hitam tidak sepekat seperti beberapa jam yang lalu sehingga memberikan celah untuk ditelusuri oleh sinar matahari yang sedari tadi seolah mengantri untuk sebuah kesempatan menyinari dunia. Kondisi seperti itu, menaikkan suhu secara drastis dan memaksa Sherly melangkah menuruni tangga menuju ruangan dapur untuk mengambil segelas minuman dingin di kulkas.

Namun langkahnya terhenti ketika dirinya melihat Arjuna sedang mencuci baki berbahan kaca, gelas bekas berisi teh dan piring yang digunakan untuk memakan biscuit yang disuguhkannya tadi ruang tv. Tidak hanya itu, piring - piring dan mangkuk serta peralatan makan lain yang menumpuk di daftar cuci pun Arjuna sikat sekalian untuk dibersihkan. Sebenarnya piring - piring kotor dan lainnya yang menumpuk itu adalah tugas untuk dirinya dan kakakknya sebagai tugas rumah untuk mencuci disaat kedua orang tuanya berada di kantor, namun kak Arjuna malah membilas bersih semuanya.

Mendadak Sherly membalikkan tubuhnya. Dia berfikiran untuk balik ke atas dan menunda mengambil minuman dingin di kulkas yang berada tepat di samping bak pencucian dimana Arjuna sekarang tepat berada. Entah mengapa dirinya merasa sungkan bertemu dengan Arjuna. Hal ini memang aneh, dia tidak biasanya merasa kaku setelah bertemu dengan begitu banyak lelaki akibat popularitas dirinya.

"Sherly??" Sebuah suara menggetar begitu saja di benak Sherly saat mengenali bahwa suara itu berasal dari Arjuna yang berada membelakangi dirinya.

Arief. W.S (10 - 12 - 2014 )

9 comments:

Misaki PureBlood said...

bwahaha.. menarik cerita ni :D

can't wait for next..

Sherly maybe suka sama Arjuna.. I means Arjuna might be someone that can change her life :D

I hope so XDD

Djangkaru Bumi said...

tanktopnya pastinya keren dan mahal dan pastinya mempu menambah keindahan yang disangganya. semakin menonjol dan padat berisi. bah gunung yang siap memuntahkan lahar panasnya. jangan-jangan arjuna ini mau menjadi pembantu rumah tangganya.

Ninie Niesa97 said...

penulisan yang matang ,saya baru dekat sni tapi lepas bca cerpen awak ,saya thu awak berbakat ,keep it up :)

Dedaunan said...

panjang jugaa, belum saya baca semua ceritanya :)
bersambung ya kayaknya, sip terus menulis
ditunggu lanjutannya

rohmad said...

cerita yang menarik nih walaupun bacanya sambil deklak dekluk karena ngantuk

Arief W.S said...

Hikari @ Hihihi nyontek darimana nih ampek tau kalau Arjuna bisa merubah kehidupan Sherly?? :D Yah bagaimanapun ceritanya masih rahasia :D Makasih udah mampir Hikari :P

Djangkaru Bumi @ Superr seklai bahasanya Mas Gan :) Kalau dipikir - pikir, ngeri juga kalau sampai memuntahkan lahar panas, hehe :) Arjunanya ikut Panah Asmara mas Gan :D

Ninie Niesa @ Makasih Mbak Niesa dah mau mapir dan baca cerpen saya :) Belum bisa dikatakan berbakat sih, masih dalam tahap pengembangan dan belajar :)

Mbak Zusie @ Wew, panjang ya mbak, soalnya bersambung jadinya kalau gak panjang nanggung :) Makasih loh mbak dah mampir :)

Rohmad @ hihihi capek seharian kerja ya kang Rohmad ampek ndlekuk2. Tapi ya makasih banget dah mau baca meski ngantuk berat :)

Nor Marshaliza Shaidan said...

Kunjungan ke sini

http://marsha-marshashahirnnia.blogspot.com

berkah said...

cerpen yg bagus...

Arief W.S said...

Nor Marshaliza Shaidan @ Terima Kasih banyak atas kunjungannya Mbak Marsha :)

Berkah @ Makasih udah mau nyempetin membaca :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...