Monday, March 5, 2018

ULASAN FILM THE CASE HANA AND ALICE : JALINAN PERSAHABATAN YANG TERBENTUK KARENA SEBUAH KASUS

Ada yang familiar dengan film yang akan aku bahas kali ini? Sebagian mungkin akan mengaitkan dengan salah satu judul film yang pernah aku ulas tahun 2017 lalu yakni Hana dan Alice yang diluncurkan pada 2004 silam. Lalu apakah ada keterkaitan antara The Case Hana and Alice (2015) dengan Hana dan Alice (2004) ...? Jawabannya ada. Bukan sebagai sekuel melainkan prekuel. Hana dan Alice (2004) menceritakan kedua gadis SMA ini sudah bersahabat, sedangkan The Case Hana and Alice (2015) menceritakan awal mula pertemuan mereka saat di bangku SMP.


The Case Hana and Alice (2015)


Hana And Alice (2004)

Jika ini adalah prekuel, apakah pemerannya akan berganti? Jika dinalar, 2004 menuju 2015selang waktu selama itu pastilah dua tokoh utamanya sudah menjadi tante-tante. Namun, jawabannya adalah tidak ada pergantian pemeran utama. Tetap, kandidat perannya masih dipegang oleh dua aktris yang sama. Loh kuk bisa? Karena prekuelnya dibuat dalam bentuk kartun 2D. Jadi, kedua aktris itu walau sudah menjadi tante-tante di masa kini, perannya hanya sebagai pengisi suara. Ajaibnya, suara mereka terkesan tidak berubah dan masih cute ala gadis remaja seperti pada film pertamanya.

Langsung saja masuk ke sekelumit kisahnya. Alice yang masih berusia 14th, gadis kelas 3 SMP ini baru saja pindah rumah dengan ibunya. Mereka menempati rumah baru yang bertetangga dengan rumah bunga. Rumah bunga dalam artian sebuah rumah yang memiliki pekarangan bunga yang memanjakan mata. Ada keganjalan yang Alice temui pada rumah bunga itu. Pada jendela lantai dua, dari balik tirai gorden, bersembunyi seorang yang misterius selalu mengintip secara diam-diam.


Lalu, pada sekolah barunya, Alice juga mendapatkan keanehan. Ada dua buah kursi kosong berderet di kelasnya. Ketika dia menempati salah satu kursi itu setelah sesi perkenalan, seluruh teman sekelas berpandangan dingin terhadapnya. Memancarkan rasa permungsuhan. Tak ada yang mau berbicara dengan Alice. Di bawah kursinya juga terdapat suatu lambang ritual yang aneh.

Kondisi seperti itu membuatnya hampir putus asa karena merasa bakal tidak mempunyai teman di sekolah barunya tetapi untungnya, dia bertemu teman sekelas sewaktu masih belajar di klub balet semasa kecil yang tak disangka saat ini berada di satu sekolah yakni Fuko. Hanya temannya dari sekolah balet itu saja yang sementara ini mampu diajak bicara. Ketika mereka berdua pulang bersama, Fuko terhenyak mengetahui Alice tinggal di sebelah rumah bunga. Fuko mengutarakan, banyak kesan angker pada rumah bunga itu dikarenakan seringnya muncul penampakan seseorang misterius dari balik tirai jendela lantai dua.



Suatu hari, akhirnya muncul juga salah satu teman sekelasnya yang mau mengajaknya bicara. Orang itu adalah Mitsumi. Mitsumi yang nyentrik memakai rok dan berambut panjang ini menjabarkan kepada Alice bahwa Alice telah merusak segel roh jahat dari siswa yang meninggal tahun kemarin. Hal itu disebabkan karena Alice menduduki bangku dari siswa yang meninggal tersebut. Siswa yang meninggal itu bernama Yuda. Konon, siapa yang duduk di kursi bekas Yuda, orang itu akan dihantui. Tahun lalu, salah satu siswi teman sekelas Yuda yang posisi duduknya persis dibelakang Yuda pernah iseng mendudukinya, dan dia hilang sampai sekarang. Oleh sebab itu, dua deret kursi di kelasnya milik Yuda beserta si siswi yang hilang selalu tak berpenghuni. Dan Alice menuai masalah karena menduduki salah satunya. Oleh sebab itu dia dijauhi teman sekelasnya.

Mitsumi sendiri, awal semester ketika memasuki ruangan kelas 3 ini pernah menduduki kursi Yuda. Lalu dia kerasukan roh jahat Yuda yang masih bersemayam di kursi itu. Mitsumi awalnya berambut pendek, setelah kerasukan dan membuat geger kelas, pagi harinya rambutnya langsung panjang dan penampilannya menjadi gothic dengan mengganti rok seragamnya menjadi panjang. Walau penampilannya berubah, beruntung Mitsumi tidak menghilang dari dunia seperti korban siswi terdahulu.


Yuda ini adalah seorang siswa kelas 3 tahun lalu yang kabarnya dibunuh oleh 4 istrinya karena berselingkuh. Sebuah cerita tahkyul yang sungguh tidak masuk akal namun seisi kelas mempercayainya. Dan Mitsumi sendiri karena mengalami hal aneh setelah kerasukan dan berhasil selamat dari kutukan hantu Yuda menjadi begitu dihormati oleh seisi kelas.

@@@@@@@

Meski rumah bunga yang bersebelahan dengan kediaman Alice sangat indah dipandang, namun ibu pemilik rumah itu sangat galak. Dia selalu memarahi Alice ketika membuang sampah tidak pada jadwalnya. Jadinya, Alice sendiri merasa dongkol. Suatu hari di tengah aktivitas joging pagi, tak sengaja Alice melihat ibu pemilik rumah bunga itu sembari menangis berbincang kepada wali kelasnya di sebuah taman. Karena penasaran, setelah dua orang dewasa itu menyelesaikan urusannya, Alice mendekati sang wali kelas dan menanyakan ada masalah apa.

Sang wali menjelaskan, ibu pemilik rumah bunga itu adalah orang tua salah satu siswi yang tahun lalu menempati kelas Alice. Dan ibu pemilik bunga itu frustasi karena tiba-tiba putrinya memilih untuk tidak bersekolah dan mengurung diri di kamar sejak tahun lalu. Putri ibu tersebut bernama Hana. Dan sang wali kelas menuturkan tempat duduk Hana tahun lalu tepat berada di belakang kursi yang Alice duduki saat ini.

Dari keterangan tersebut Alice terperanjat. Mutsumi siswi yang paling dihormati di kelas meyakinkan bahwa gadis yang duduk tahun lalu di belakang Yuda menghilang karena dihantui. Namun, saat ini Alice jelas mendapatkan fakta bahwa ternyata gadis yang dimaksud Mutsumi adalah tetangganya. Gadis itu tidak menghilang, tetapi mengurung diri di kamar tanpa sebab. Lalu apa maksud Mutsumi menyebarkan berita tidak jelas mengenai Hana yang menghilang karena dihantui? Lalu apakah benar peristiwa siswa bernama Yuda yang terbunuh oleh 4 istrinya ini benar-benar ada dan terjadi? Atau hanya rumor yang dibuat-buat dan Mitsumi memanfaatkannya?

Saat membersihkan lemari bekas peninggalan penghuni lama di kamar Alice, gadis itu tidak sengaja menjatuhkan sebuah tas sekolah siswa lelaki yang dia sendiri sebelumnya tidak menyadari keberadaannya. Dari dalam tas itu Alice menemukan lembaran soal ulangan. Dalam lembaran itu tertulis sebuah nama Kotaro Yuda. Tercantum juga kelasnya berada dengan kelas yang sama dengan dirinya saat ini. Tanggal pada lembaran ulangan itu berlangsung setahun yang lalu.

Kini, Alice menyadari rumah baru yang dihuninya adalah bekas kediaman Yuda. Jadi memang benar siswa bernama Yuda itu ada, bukan hanya sebuah rumor. Tetapi, apakah dia dibunuh atau tidak, satu-satunya cara mengetahui adalah bertanya langsung kepada gadis tetangganya yang selalu menutup diri, karena hanya Hana-lah, murid dari kelas 3 tahun kemarin yang masih tersisa saat ini yang bisa dijadikan saksi. Alice ingin tahu segalanya karena akibat rumor pembunuhan Yuda ini dirinya dijauhi oleh teman-teman sekelas hanya dikarenakan menempati kursi Yuda.

Saat Alice berkunjung ke rumah bunga, Hana menjelaskan malah tidak mengetahui bagaimana nasib Yuda. Hana orangnya serba tertutup. Dia juga tak mengatakan apapun mengenai alasan dirinya berhenti sekolah dan menutup diri dari luar. Anehnya, Hana malah mengajak Alice melakukan penyelidikan untuk mengetahui kepastian nasib Yuda. Apakah Yuda memang benar terbunuh atau tidak.



Meski pendiam, Hana adalah pemikir yang handal. Dalam sekejap, dia mampu menyusun beragam rencana penyelidikan yang harus dilaksanakan. Namun, dia selalu menyuruh Alice yang bergerak di garis depan untuk melaksanakan rencana itu. Dalam perumpamaan, Hana tetap ingin berada di balik layar sedangkan Alice yang maju di atas panggung. Dari sikap Hana itu, Alice merasa ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh Hana.

Jadi inti cerita Case Hana dan Alice sebenarnya tertuju kepada rasa kepedulian. Di mana Alice dan Hana adalah dua orang asing dengan perbedaan sifat yang saling dipertemukan. Alice yang easy going dan tak segan serta murah hati memberikan rasa peduli terhadap orang lain sedangkan Hana adalah tipikal orang yang selalu memendam segalanya seorang diri dan selalu memiliki kekhawatiran yang berlebih dan cemas jika bertindak meski sebenarnya dia memiliki otak yang briliant.

Pada awalnya, penonton akan disuntikan beragam misteri dan kesan horror seperti pembunuhan Yuda dan arwahnya yang masih bergentayang di kelas, menghantui siapapun yang menduduki bangkunya. Dan hal-hal tidak jelas yang jujur membuat saya pusing juga mengenai 4 istri yang membunuh Yuda karena diselingkuhi? Mempunyai 4 istri di jenjang SMP? Sangat tidak berlogika namun hal itu memang ada keterkaitannya dengan kasus yang diselidiki oleh dua gadis ini.







Sesi selanjutnya, adalah inti dari cerita ini, dua orang gadis yang saling bahu-membahu membongkar sebuah kasus namun lebih ditujukan ke jalinan rasa kepedulian. Alice yang dengan ringan tangannya selalu mematuhi apapun yang diperintahkan oleh Hana sedangkan Hana sendiri yang perlahan membuka diri terhadap Alice karena suntikan rasa kepedulian Alice yang seolah tiada berhenti mengalir.

Hubungan seperti itulah yang akhirnya membuat dua orang asing yang bertemu walau dalam waktu singkat namun tak butuh waktu lama untuk saling memahami. Jika mereka tidak saling memahami, maka kasusnya tak akan menemui titik terang. Dan dari situlah terjalin persahabatan sejati yang menjadi cikal bakal kekuatan persahabatan mereka yang tidak akan bisa digoyahkan sama sekali dikarenakan mencintai seorang lelaki yang sama di film Hana dan Alice pada tahun 2004 ketika mereka berdua sudah berada di jenjang SMA.

Saat berlangsung upaya penyelidikan ketika kedua gadis ABG ini terlantar di suatu wilayah pada tengah malam dan tiduran di pelataran parkir, sembari menangis Hana tanpa sadar berucap, “Jika Yuda ini benar-benar sudah mati, maka akulah yang membunuhnya.”

Kata-kata itu adalah ungkapan pribadi yang tidak bisa dengan gamblang diucapkan ke sembarang orang. Itu adalah rahasia terbesar dalam hidup. Ketika Hana tanpa beban mengucapkan itu kepada Alice, jelas Alice adalah tipikal gadis yang sangat penuh kepedulian yang sanggup mencairkan Hana yang awalnya adalah sebongkah gunung es. Namun, balik lagi ke film, apakah kasus ini benar mengenai sebuah pembunuhan? Ada twist di akhir cerita yang menurutku agak konyol dan membuat tertawa.



















Ada baiknya, kalian menonton The Case Hana dan Alice (2015) terlebih dahulu sebelum beranjak ke Hana dan Alice tahun 2004 karena pada prekuel ini kalian disajikan sifat-sifat kedua gadis ABG ini sehingga saat menonton Hana dan Alice tahun 2004 kalian sudah mengenal baik karakter dua tokoh ini dan langsung bisa berfokus pada konfliknya.


Hana (15th) Alice (14th) 


Hana dan Alice pada film pertama tahun 2004
         

Hana Alice Jenjang SMP Prekuel (2015)


Hana Alice Jenjang SMA (2004)


Hana Alice Balet Scene (2004)


Hana Alice Balet Scene Prekuel (2015)


6 comments:

Anggun Josie Pasemawati said...

Jadi ini film awalnya real ya? Trus yg terbaru dibuat 2d nya dan ceritanya malah awal pertemuan. Jd pemain utamanya bisa tetap terlibat walaupun hanya suaranya 😊

Arief W.S said...

Anggun @ Yup bener mbak Anggun :) Film pertamanya visual nyata, lalu prekuelnya baru dibikin kartun, soalnya kalau prekuelnya gak kartun, pemeran utamanya udah tante2 masak mau meranin anak SMP hehe :P

Andaikata misal dibuat visual nyata prekuelnya, itupun harus cari tokoh pengganti pemeran utama, namun takutnya gak bisa menjiwai seperti pada film yang terdahulu, jadi amannya kemungkinan dibuat kartun 2D :D Toh disini tiap tokoh karakternya sangat kuat dan punya ciri khas tersendiri.

Kalau mbak Anggun lagi cari film tema persahabatan, The Case Hana dan Alice bisa dijadikan rujukan terdahulu sebelum lihat film pertamanya :D

nurika ramadhani said...

Wah boleh nih masuk ke list tontonan di jurnalku.
Sering-sering post ulasan film yaaa

Sandra Hamidah said...

Wow penasaran😅

Arief W.S said...

Nurika Ramadhani :) @ Iya pasti, apapun film yang aku tonton, pasti aku akan buat ulasannya jika menurutku pantas :) Makasih ya :)

Sandra Hamidah @ Xixixi iya mbak Sandra, pas liat awalnya bikin pusing juga :D

Nathalia DP said...

Seru ya temanya persahabatan ada misteri2nya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...