Orang - orang selalu berkata
bahwa Parjo Sukmawan adalah seorang Iblis. Aku sendiri tidak tahu seperti apa
wujud iblis itu detailnya. Yang aku dengar dari tetangga - tetangga hanyalah
sebatas sifat Parjo yang selalu dicela warga. Selama ini aku belum pernah
melihat Parjo sekalipun, karena memang rumahnya terasing, berada di dekat hutan
serta pertanian dan perkebunan warga, jauh dari pemukiman kampung.
Ada yang bilang bahwa Parjo
pemabuk berat, dan karenanya warga sering menyebutnya manusia haram. Ada yang
bilang bahwa rumah Parjo berbau sangat busuk, sehingga banyak warga menyebutnya
kuil bersemayamnya sang Iblis.
Oleh orang tuaku, aku dilarang
bermain kesana karena berbahaya apabila bertemu dengan Parjo. Saat umurku 5
tahun, pernah ibuku menceritakan bahwa Parjo pemakan anak kecil, terutama gadis
mungil. Namun setelah beranjak 11 tahun, aku tahu saat itu Ibu hanya membual,
Ibu berkata begitu hanya karena dia tidak ingin aku bermain di area perkebunan
dekat dengan hutan.
Saat itu rumah sedang ramai. Di
ruang tamu, Ayah didampingi Ibu sedang memimpin rapat dengan petinggi kampung
membahas pemilihan ketua RW yang baru, karena sebentar lagi ayahku akan ditugaskan
di kantor Pemda setempat, jadi terpaksa harus meninggalkan jabatan ketua RW.
Keluargaku termasuk keluarga berada dan
terpandang di kampung karena jabatan ayah dan ibuku yang bekerja di
pemerintahan dan segala usaha bisnis lainnya. Oleh karena itu, sebagai anak
orang terpandang di desa, aku selalu dibebani banyak peraturan rumah tangga
seperti salah satunya tak boleh bermain ke luar rumah tanpa seizin orang tua.
Apalagi aku juga mengalami penyakit asma, Ibuku khawatir asmaku kambuh diluar
sana saat bermain tanpa penanganan yang cepat.
Melihat situasi rumah saat itu,
adalah merupakan sebuah kesempatan emas. Secara diam - diam aku keluar
meninggalkan rumah dari pintu belakang. Rasanya sangat senang pergi
meninggalkan rumah yang dipenuhi aturan. Serasa menemukan sebuah kebebasan.
Aku berlari menuju ke lapangan bola voli di
kampung tempat biasanya aku berkumpul bersama teman - teman meskipun sangat
jarang sekali. Sangat jarang karena ibuku selalu menyuruhku lebih baik belajar
di kamar daripada menghabiskan waktu di luar. Namun setelah sampai, rasa kecewa
menyelimutiku, lapangan tampak sepi, tak ada pemuda yang bermain voli, tak ada
kawananku para gadis kecil yang biasa bercengkrama dan bermain disitu. Kupikir
mereka sedang sibuk di kamar mereka sendiri - sendiri. Demam media sosial dan
laju teknologi internet mungkin menjadi penyebabnya menurutku yang mengkung -
kung mereka untuk betah di dalam kamar. Namun rasa kecewaku hanya sebentar
saja, mendadak hilang setelah melihat dari kejauhan sebuah perkebunan dan
hutan. Aku berfikir inilah saatnya menuju kesana, aku ingin melihat - lihat
sebentar apa yang ada di sana sebenarnya, dan kembali ke rumah sebelum rapat
selesai agar tidak ketahuan bahwa aku menyusup keluar rumah secara diam - diam.
Saat pertama kali menginjakkan
kaki di perkebunan warga kampung, alangkah bahagianya saat itu. Walau napasku
terengah - engah karena perjalanan menuju kesini tidaklah dekat bila ditempuh
dengan jalan kaki. Meski hanya seorang diri, tapi rasanya senang bisa mengelilingi
aneka pepohonan seperti rambutan, nangka dan juga duren. Keluar dari area
perkebunan, terhambar area sawah yang luas. Aku berjalan - jalan menapaki jalan
kecil di petak - petak sawah tersebut dan berhenti sejenak di samping sungai
besar yang mengalir cukup deras.
Tak lama aku melihat rumah dari
kejauhan di dekat hutan. Setelah membasuh wajahku yang lusuh di sungai, aku
berlari mendekati rumah tersebut. Namun sebelum sampai, mendadak aku berhenti
karena mencium aroma busuk sehingga memaksa tanganku untuk menutup hidungku.
Mencium aroma busuk di dekat rumah itu, aku jadi ingat mengenai cerita warga
mengenai Parjo sang iblis. Mengetahui itu aku langsung bersembunyi dibalik
bebatuan besar tak jauh dari rumah itu dan memandangi dengan seksama rumah yang
sudah reyot tak terawat itu.
Suasana menjadi hening sejenak
saat aku mengamati rumah iblis itu sambil tetap menutup kedua hidungku karena
tak tahan dengan bau busuknya. Melihat tak ada aktivitas apapun di dalam rumah
itu, aku mengendap - endap berjalan menuju hutan agar tak menimbulkan suara
berisik. Kupikir sang Iblis Parjo sedang tidur di dalam rumah busuknya, dan aku
tak mau membangunkannya, menemuinya pun aku tak mau, bila mengetahui bau
rumahnya saja seperti ini. Apa yang dikatakan warga memang benar, dia mungkin
keturunan Iblis atau manusia yang dikutuk.
Memasuki hutan, suasana sangatlah
rindang. Banyak pepohonan besar menjulang tinggi.Mereka gagah dan perkasa.
Aneka suara serangga bersautan tak karuan, menandakan alangkah banyaknya
penghuni hutan ini.
Aku berjalan dengan perasaan
gembira. Suatu saat, kawanan teman sepermainanku nanti akan aku ajak membuat
kemah - kemahan di area hutan ini. Pasti sangat mengasyikkan tentunya. Setelah
lama berjalan jauh, sayup - sayup terdengar suara seseorang. Aku mengikuti
darimana arah asalnya suara tersebut.
Semakin aku melangkah, suara itu semakin jelas terdengar. Lama - lama aku
mendengar suara cekikikan dua orang terdiri dari lelaki dan perempuan. Ketika
aku sampai di asal suara tersebut, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Dari balik batang pohon yang
besar tempat aku mengendap, aku melihat dua orang sepasang kekasih sedang
melakukan tindakan mesum. Yang membuat aku terkejut, adalah karena aku
mengenali mereka berdua. Yang perempuan adalah Mbak Nurjanah, dia pelajar yang
baru duduk di kelas 2 SMK jurusan akuntansi, dia juga adalah guru privat
mengajiku selama setahun yang lalu. Kemudian yang lelaki adalah Mas Andre, dia
adalah pekerja industri di luar kota, di waktu senggang kadang dia juga membantu bisnis ayahku.
Sepengetahuanku Mas Andre sudah mempunyai pacar yang juga bekerja di bisnis
ayahku. Memang di usiaku saat ini aku belum mengalami fase tahapan cinta -
mencintai. Namun aku paham bahwa yang dilakukan Mas Andre adalah selingkuh.
Arti selingkuh pun aku pahami saat aku diam - diam menonton sinetron secara
sembunyi - sembunyi dari perhatian ibuku.
"Hai Kalian!!! Mendadak ada
sebuah teriakan keras layaknya halilintar yang menyambar. Tak hanya membuat
kedua orang itu kaget, tetapi juga membuat senam jantungku. Kulihat ada seseorang
yang mendatangi mereka berdua. Sementara kedua orang itu sibuk merapikan
pakaian yang mereka kenakan.
"Sudah berapa kali aku
peringatkan, jangan melakukan perbuatan asusila seperti ini di hutan. Tahukan
kalian telah mengotori hutan ini dengan perbuatan kalian?,"cetus orang
aneh yang baru datang itu kepada mereka berdua yang tertangkap basah. Orang
aneh itu berbadan tinggi, namun sangat kurus. Kulitnya coklat kehitaman sangat
lusuh. Bajunya pun compang - camping. Di belakangnya terpanggul sebuah karung
berisi banyak ranting pohon berukuran panjang yang sudah menua. Umurnya kira -
kira 35 tahun dan dagunya penuh dengan janggut memanjang.
Setelah selesai membenahi
bajunya, Andre langsung membalikkan badan mendekati orang aneh tersebut dan
mendorongnya hingga jatuh, seraya berkata " Keparat kau Iblis, kenapa kau
selalu mengganggu kesenanganku hah?! Ini ketiga kalinya kau selalu menganggu
kesenanganku!"
Kemudian Andre menuju ke balik
semak dan mengambil motornya yang disembunyikan disana dengan ekspresi penuh
emosi. Dia menaiki motornya dan memberi isyarat kepada Nurjanah untuk segera
menyusulnya yang saat itu masih membenahi jilbabnya. Sebelum mereka pergi,
Orang aneh itu sudah kembali berdiri dan mengatakan sesuatu yang ditujukan
kepada Nurjanah," Kau juga, seharusnya kamu menjaga kehormatanmu."
"Jangan selalu ikut campur
Iblis. Jangan sok suci, mengacalah dulu sebelum kamu menasehati orang lain. Aku
kasihan tidak ada wanita yang menyukaimu. Memang itu takdirmu sebagai
Iblis"sahut Nurjanah. Mendengar lontaran perkataan Mbak Nurjanah, aku
seperti tak percaya dia bisa berkata kasar seperti itu. Selama setahun menjadi
guru mengajiku, dia selalu lembut serta ramah tamah di hadapan ibuku.
"Lain kali aku akan
menghajarmu bila menggangguku lagi Iblis keparat," pesan ancaman Andre
kepada orang aneh itu. Setelah itu dia menggeber keras - keras motornya dan
meninggallkannya.
Aku berfikir, mengapa daritadi
mereka mengucapkan julukan Iblis kepada orang aneh itu? Aku jadi berfikir
jangan - jangan orang aneh itu adalah Parjo Sukmawan sang Iblis yang kerap
menjadi bahan cercaan warga kampung? Di saat aku terlalu banyak berfikir, aku
tak sadar bahwa orang aneh itu telah mengetahui tempat persembunyianku di balik
batang pohon yang besar. Aku terhenyak mundur ketika orang aneh itu
melangkahkan kaki ke arahku dan terdiam sesaat saat pandangan mata kami saling
bertemu. Posisiku sudah memasang kuda - kuda untuk berlari menjauh.
"Tunggu Nak,"Teriak
orang aneh tersebut. Tapi aku tak menggubris teriakannya. Dengan sekuat tenaga
aku berlari meninggalkan orang aneh tersebut. Orang aneh tersebut tampak
mengerikan bagiku. Dan kalau benar dia adalah Iblis yang sering diceritakan
para warga, aku tak mau bertemu dengannya.
Ritme nafasku perlahan mulai tak
beraturan. Aku merasakan bajuku basah karena keringat. Rasa lelah mulai
menyerangku. Namun sekuat tenaga aku berlari untuk keluar dari hutan ini meski
aku berlari tanpa arah yang benar. Semakin lama aku merasa tumbuhan dan semak
yang aku lewati semakin lebat, aku jadi sering menabrak dedaunan dan ranting
kasar didepanku yang menimbulkan rasa sakit. Lalu aku dengan cepat terpelosok
oleh tanah landai yang menjorok dalam ke bawah. Aku jatuh tergelincir turun.
Aku merasa bajuku sedikit robek terkena akar tumbuh - tumbuhan yang menonjol di
tanah landai tersebut saat aku menggelincir ke arah bawah dan juga merasakan
celana pendekku robek tersayat sebuah ranting yang tajam.
Ketika sudah berhenti tergelincir dan
menyentuh permukaan tanah dalam keadaan
tertelungkup, aku merasakan badanku semuanya nyeri, terutama di paha kananku,
kugerakkan sedikit tungkai kakiku tapi aku mengerang sakit. Aku melihat darah
segar menetes melumuri pangkal paha kananku hingga tungkai kaki. Aku merasa
lemas, seolah matahari sudah akan terbenam, yang kulihat kegelapan sedikit demi
sedikit menutupi pandanganku, dan aku mulai tak sadarkan diri.
Sebuah bulatan yang bercahaya
beterbangan dalam kegelapan. Kemudian muncul berbagai bulatan cahaya yang
lainnya dihadapanku. Kupejamkan mataku dan kubuka kembali sekarang kulihat
cahaya bulat tersebut mulai berpendar, dan ketika aku mendapatkan kembali
penglihatanku di saat awal - awal siuman, aku melihat banyak lilin yang
bergelantungan di atas ternit yang sudah reyot. Kutoleh kesamping dengan posisi
tidur untuk mengetahui dimana sebenarnya aku sekarang. Aku terkejut ketika
menoleh aku melihat si Iblis sedang duduk merebus air dengan panci di atas bakaran
beberapa ranting pohon. Aku menggerakkan badanku untuk berdiri ketika menyadari
aku berada di kuil bersemayamnya sang iblis. Namun usaha itu hanya mendatangkan
rasa sakit yang luar biasa sehingga aku mengerang kesakitan dan membuat sang
iblis tersentak.
"Oh, syukurlah, kamu sudah
sadar, " Begitulah, kata pertama yang kudapati dari sang Iblis. Aku merasa
aneh dengan perkataannya. Tadinya kupikir dia akan menggertakku karena aku
berteriak sembarangan atau malah menyakitiku. Namun kenyataan disini yang aku
dapatkan sungguh berbeda. Kulihat tatapan sang Iblis penuh perhatian.
Perasaan di dadaku mulai agak
nyaman melihat ekspresi wajah sang Iblis. Sangat berbeda bila dibandingkan ketika
sang Iblis emosi memaki Kak Andre dan Mbak Nurjanah yang kedapatan mesum.
Karena perasaan nyaman ini aku memberanikan diri untuk bertanya meski aku masih
agak berat untuk bersuara karena dadaku rasanya seperti tertusuk. " Apakah
aku berada di rumahmu?"
"Benar, ini rumahku. Maaf
kalau rumahku jelek sekali," itulah jawaban sang Iblis. Memang di dalam
rumahnya sangat berantakan. Bagiku hampir mirip seperti gudang rongsokan.
Tempat yang aku gunakan untuk tidurpun sangatlah keras terbuat dari batang bambu
yang sudah reyot. Namun begitu, di dalam rumah ini tak sebusuk aroma seperti di
halaman luar.
"Apa kamu masih merasa sakit
nak? Sang Iblis bertanya kembali padaku."Badanku hampir tak bisa
digerakkan, kurasa ada yang retak di salah satu tulangku," jawabku lirih.
Ketika kulirik ke bawah, aku baru sadar aku hanya mengenakan celana dalam,
karena celanaku tersobek oleh ranting saat terjatuh. Luka sobekan kecil masih menganga lebar di paha kananku,
namun darah yang mengucur sudah membeku menyelimuti sekujur paha sampai mata
kaki. Persis seperti ditato pikirku.
"Mengapa kamu lari seperti
kesetanan saat di hutan tadi?" Sang Iblis bertanya. Apa kamu mekihat
sesuatu nak?" Tanya Sang Iblis.
"Bukan, sebenarnya aku takut
terhadap dirimu. Saat kamu memergoki Kak Andre tadi, kudengar mereka
memanggilmu Iblis. Aku jadi takut mengetahui bahwa dirimulah sosok Iblis yang
sering dibicarakan warga kampung. Jadi aku lari saat kita bertatapan."
Kulihat wajah sang Iblis menjadi
muram saat aku menjelaskan alasannya. Aku tidak tahu apa perkataanku salah,
tetapi bukannya kenyataan seperti itu. Lalu, sang Iblis mulai bertanya, "
Apa yang membuatmu juga berfikiran aku seorang Iblis seperti warga lainnya?"
"Aku pernah diceritakan
bahwa kamu seorang pemabuk berat. Ada
beberapa warga yang pernah melihat tumpukan ratusan botol minuman keras .
Rumahmu juga baunya busuk seperti yang diceritakan warga. Dan masih banyak lagi
kejelekan2 lainnya. Bukannya itu semua sudah menjadikanmu patut disebut seorang
Iblis dengan segala keharaman yang kamu miliki?"
"Apa kamu mau tau darimana
asal botol minuman keras itu dan darimana asal bau busuk ini?"
"Tentu saja, aku jelas mau
tahu darimana kekuatan Iblis yang bisa mendatangkan banyak botol minuman keras
dan bau yang sangat busuk ini, jawabku."
"Kamu tahu kalau hutan di
belakang ini sering dijadikan tempat maksiat terutama oleh anak muda? Ya,
setiap hari hampir aku pergoki banyak-nya gerombolan orang maupun anak sekolah
yang sedang pesta miras di dalam hutan. Kadang mereka marah saat aku pergoki
dan sering menghajarku, oleh sebab itu mukaku jelek karena sering dihajar.
Botol - botol miras yang mereka tinggalkan aku sering kumpulkan, daripada
berserakan mengotori hutan yang akan membuat kesan buruk. Pertama aku kumpulkan
dulu di depan rumah. Kalau jumlahnya cukup aku bawa untuk dijadikan barang
rosok yang aku jual di desa seberang hutan ini untuk kebutuhanku. Selain botol
aku juga sering merosok pakain - pakaian yang ditinggalkan oleh orang yang
kebetulan aku pergoki saat melakukan tindakan mesum. Terakhir aku memulung baju
SMP yang ditinggalkan seorang gadis yang keburu lari dengan kekasihnya saat
kepergok berduaan mesra di hutan. Sebenarnya aku hanya ingin menasehati, tapi
mereka keburu lari terbirit - birit. Selain hal itu, banyak lagi kemaksiatan yang
dilakukan di hutan ini seperti perkelahian, pesta ganja, dll."
"Lalu bagaimana dengan bau
busuk ini?" Tanyaku yang sekarang penuh obsesi setelah mendengar
penjelasan pertama dari sang Iblis.
"Kamu tahu sungai besar di
seberang?" Tanya sang Iblis.
"Aku tahu,"sahutku
cepat. Apa dari situ asalnya?
"Bukan. Sungai itu dulunya
sangat kotor dipenuhi oleh sampah. Sampah - sampah itu kebanyakan berasal dari
penduduk desa. Karena semakin lama menumpuk dan menyumbat parit - parit yang
mengaliri irigasi, jadi setiap habis sholat subuh, aku berolahraga dengan
mengambili banyaknya sampah di sungai. Sebagian aku pendam di tanah di area
sekitar rumahku, sebagian aku rosokkan ke desa seberang hutan. Jadi itulah
mengapa di area rumahku baunya busuk bukan main. Tapi aku tak pernah membawa
masuk baik botol miras maupun sampah ke dalam rumah, jadi disini kau tak akan
mendapatkan bau seperti diluar, meski kalau hujan tetap baunya agak sedikit
menguar masuk ke dalam sini."
Begitulah, mendadak diriku
terdiam. Mendegar penjelasan sang Iblis hampir membuatku tak merasakan sakitnya
tubuh ini. Hingga akhirnya sang Iblis bertanya mengapa diriku mendadak
termenung.
"Maaf, seharusnya aku tidak
memanggilmu Iblis jika mengetahui kamu adalah orang baik. Seharusnya aku
memanggil Paman Parjo."
"Darimana kamu tahu namaku
nak?"
"Parjo Sukmawan sang Iblis,
begitulah sebutanmu di kampungku. Dan mulai sekarang aku tak akan memanggilmu
Iblis lagi. Aku, meminta maaf."
Dadaku mendadak menjadi sangat
sesak rasanya. Hingga aku mengambil nafas memerlukan desahan yang kuat dari
dalam. Paman Parjo, terlihat begitu khawatir melihat kondisiku. Meski begitu
aku tetap ingin mengajukan pertanyaan yang masih menjadi tanda tanya dibenakku.
"Kalau paman orang yang
baik, mengapa paman terasing disini. Rumah Paman jauh dari kampungku?"
"Sebenarnya dulu keluarga
Paman salah satu warga kampungmu nak. Ayah paman bekerja di salah satu mebel
kayu di kampung. Ibu hanya seorang
perantauan yang sering lama pergi meninggalkan kami. Ibu dulunya adalah
kembang desa menurut cerita ayahku yang sering menceritakan berulang kali
kepadaku saat dirinya rindu kepada Ibu. Hingga suatu saat ayahku mengusirnya
setelah mengetahui bahwa sahabatnya mengatakan bahwa Ibu bekerja menjadi wanita
penghibur di kota Metropolitan. Hari - hari ayahku menjadi sedih setelah
menyesal telah mengusir Ibu karena emosi sesaat. Dia akhirnya lebih banyak
menghilangkan kesedihannya dengan minum - minuman keras. Kadang aku sering
menegur ayah ketika sedang minum, namun dia malah berdalih bahwa kalau tidak
minum itu bukan lelaki. Aku paham Ibu berprofesi seperti itu karena tuntutan
ekonomi demi keluarga, namun aku juga tahu jalan yang Ibu tempuh salah dan
sangat menyayangkan Ayah mengusirnya. Hingga suatu hari Ayahku saat masih dalam
pengaruh alkohol menghajar rekan kerjanya dan menyebabkan nyaris buta karena
mengatai Ibuku seorang pelacur."
"Pada saat itulah beberapa
warga berkumpul untuk mendiskusikan nasib ayahku. Mereka semua melakukan musyawarah
dan seorang petinggi warga saat itu menyarankan untuk agar diselesaikan secara
kekeluargaan. Akhirnya warga memutuskan untuk mengikuti saran itu dan tidak menindak
pidanakan kasus Ayahku ke yang berwajib agar nama desa tidak tercemar,
melainkan mengasingkan kami."
"Saat pertama diasingkan
disini umurku saat itu 15th. Ayahku sering sakit - sakitan saat berada di
tempat ini. Dan jiwanya betul - betul terguncang. Saat umurku menginjak 23
tahun, ayahku meninggal karena sakit keras. Semenjak itu aku berjuang sendiri
disini untuk hidup. Namun perilaku yang dilakukan Ibuku yang menjadi wanita
penghibur dan emosi ayahku yang brutal menghajar rekannya sudah menjadi label
buruk yang tidak akan pernah hilang dimata warga kampung. Banyak yang mencemooh
saat melewati rumah kami. Sepeninggal ayah aku juga sering dicemooh seorang
diri. Hingga beberapa tahun ini aku juga tidak tahu mengapa banyak orang
kampung menjulukiku Iblis, hingga akhirnya aku bertemu kamu nak dan mendapatkan
penjelasannya."
"Oleh sebab itu aku benci
jika melihat ada orang yang mesum. Terutama wanita yang dengan mudahnya
mengobral kehormatan dan harga dirinya. Sebenarnya aku hanya menasehati dengan
emosi saat memergoki dengan tujuan agar si wanita natinya tidak sekasta dengan
ibuku yang dicap wanita pelacur karena perilakunya. Dan juga si lelaki agar
bisa menjaga wibawanya."
"Aku juga benci melihat
banyak orang dan anak - anak muda yang menghabiskan waktunya dengan berpesta
minuman keras. Aku memergoki mereka karena tak ingin nantinya seperti ayahku
yang akal pikirannya sudah terengut alkohol sehingga yang tersisa hanyalah
emosi yang nyaris membutakan rekan kerjanya. Namun kadang mereka yang aku
pergoki dan nasehati marah malah menghajarku. dari sekian banyak, ada beberapa
teman masa kecilku dari kampung yang aku pergoki dan mereka malah seolah tak
mengenalku."
Entah mengapa, rasanya hati ini
begitu sedih mendengar cerita Paman Parjo. Mataku mulai terasa digenangi air
mendengar kebenaran yang selama ini terselubung oleh cercaan, cemoohan, fitnah, prasangka buruk dan lain sebagainya. Di
saat rasa haru itu juga nafasku mulai sesak. Aku berkata kepada Paman agar
segera mengantarkakanku ke kampung agar segera mendapatkan tindakan di
puskesmas. Kemudian dengan sigap Paman langsung membopongku dengan kedua
tangannya yang meski kurus tapi sepertinya menyimpan tenaga yang luar biasa
terpendam. Entah mengapa, kini hatiku merasa tenang berada dalam gendongan
kedua tangannya dan sandaran dadanya.
"Siapa namamu nak?"
"Nur Latifah Indra
Cahyaningsih, jawabku dengan tergagap - gagap karena nafasku sudah sesak.
"Siapa nama ayahmu? Biar aku
bisa menjelaskan ke pihak puskesmas nanti."
"Mustofa Indra Martanto,
kataku dengan lemas."
"Pak Indra yang menjabat
ketua RW sekarang ini?" Paman malah balik bertanya.
"Paman kenal ayahku?"
"Dia adalah orang yang menyarankan
agar kami diasingkan dahulu kala. Pada waktu itu ayahmu masih menjabat untuk pertama
kalinya menjadi wakil ketua RT. Paham maksudku?" Aku hanya mengangguk
menanggapi pertanyaan Paman karena sesak didadaku yang semakin parah.
Suara guntur terdengar dari luar
rumah. Menandakan bahwa langit sedang mendung dan akan segera menitikkan air
matanya. Paman mengambil sebuah karung plastik untuk menutupi tubuhku agar tak
terkena air bila hujan nantinya dalam bopongannya. Saat pintu dibuka suasana
sungguh sangat gelap. Aku tidak tahu bahwa keadaan di sekitar perkebunan dan
hutan segelap ini, sungguh mengerikan. Dari kejauhan aku bisa melihat lampu -
lampu kampung yang bagaikan kunang - kunang. Dalam perjalanan aku bisa
merasakan sedihnya kehidupan yang dialami paman dalam gelapnya keterasingan.
Dalam perjalanan aku hampir
tertidur karena lemas dan mengantuk. Suara guntur kudengar semakin keras dan
saling bersahutan. Perasaan hatiku saat itu mendadak sangat tidak enak. Ada
suatu sorotan cahaya yang mengarah ke mukaku dan memaksa tanganku untuk
menghalau sinarnya meski rasa sakit yang luar biasa aku tahan saat
menggerakkannya. Sontak saat itu juga Paman memberhentikan langkahnya. Kemudian
terdengar teriakan saling bersahut - sahutan.
"Heeiiiii, aku menemukan
Latifah, dia disini!!!!!"
"Apa dia baik - baik
sajjjaaa?!!!!"
"Dia bersama sang IBLIS,
cepat panggil Pak Indra Kesini, anaknya dibawa sang IBlisss!!!!!!
Begitulah, teriakan yang kudengar
jelas saling sahut menyahut yang membuat buyar rasa kantukku dan aku merasa
warga kampung menemukannku. Sorotan senter makin lama dari kejauhan makin
banyak yang datang menuju ke arahku. Sedangkan Paman kulihat hanya diam saja.
Tak terasa sudah puluhan orang mengepung kami dan dari kejauhan aku lihat tubuh
gempal ayahku menerjang kerumunan untuk menempati baris terdepan. Setelah
berada di depan ayahku berdiri mematung dan mengarahkan senternya ke sekujur
tubuhku.
Pertama Ayah mengarahkan cahaya senternya
ke wajahku. Raut muka Ayahku gemetaran ketika melihat wajahku lusuh, sebagian
babak karena luka, rambutku yang acak - acakkan. Lalu kemudian dia mengarahkan
cahaya senternya ke badanku , Ayahku mulai mengelap peluh keringat ketika
melihat bajuku kotor penuh dengan bekas pasir maupun tanah, terlihat seperti
kumal. Terakhir mulut ayahku terbuka ketika arah senternya mengarah ke
bawah pinggangku yang hanya mengenakan celana dalam saja dan juga darah kering
yang menghiasi paha sampai tungkai kaki. Aku tahu apa yang ada dipikiran Ayah.
Aku bisa membacanya dengan jelas dari raut muka emosi yang terpancar di
mukanya. Ayah pasti berfikir bahwa Paman Parjo telah merengut kegadisannku
akibat pengaruh alkohol maupun sebagainya. Aku melambai - lambaikan tanganku
kepada Ayah dengan isyarat jangan salah sangka terlebih dahulu. Dengan lemasnya
tenaga dan sesak nafas yang tak bisa membuatku bicara aku berusaha sekuat
tenaga ingin menyampaikan pesan itu. Namun dimata Ayah aku sepertinya malah
seperti seorang anak yang ingin cepat memeluk Ayahnya dan segera ingin lepas
dari Iblis yang membopongku. Ayah benar - benar salah mengartikannya. Dibantingnya
dengan segera senter yang Ayah pegang kemudian dengan cepat dia merebut diriku
dari tangan Paman Parjo.
"Dasar binatang, bentak
Ayahku keras. Lebih baik daridulu kau dan Ayahmu aku usir jauh - jauh keluar
dari sini. Memang salahku tidak mengenyahkan kalian dari dulu kala. Aib kalian
memang membawa bencana bagi kampung ini."
"Aku bisa menjelaskan Pak
Indra bahwa sebenarnya...." Belum selesai Paman Parjo menjelaskan,
terdengar suara yang tiba - tiba menyahut dengan kasar. Suara itu aku kenal,
adalah suara Kak Andre.
"Apa aku bilang, bahwa si
Iblis pastilah yang membawa kabur Latifah. Lihat saja dia ketahuan ingin entah
membuang Latifah di sungai maupun menguburnya untuk menghilangkan jejak.
Fitnah dan tuduhan yang
dilontarkan kak Andre semakin menyayat di hatiku. Aku tahu kak Andre senang
melihat posisi Paman Parjo yang terpojok seperti ini. Dia juga rasanya ingin
memanfaatkan kondisi seperti ini untuk membalas dendam mengenai dirinya yang
dipergoki saat mesum siang tadi. Dan kupikir , dari tatapan matanya yang penuh
amarah, aku melihat keinginan Kak Andre untuk membungkam mulut Paman Parjo
selamanya agar perbuatan mesumnya terkunci rapat - rapat di mulut Paman Parjo
sehingga orang lain tak bisa mengetahuinya. Meski begitu, aku yakin Paman Parjo
tak akan mengumbar aib orang lain meski dalam keadaan terdesak sekalipun.
Melihat kondisiku yang
menyedihkan, Ayah kemudian segera berlari menuju desa untuk membawaku ke
puskemas. Saat dalam bopongan Ayah, aku menoleh ke arah Paman, aku melihat dia
sudah dipukuli oleh banyak orang di tengah guyuran hujan. Kulihat Kak Andre
sangat beringas saat memukulinya. Pemuda - pemuda yang lain pun sama
beringasnya. Mungkin ada juga beberapa pemuda yang juga ingin melampiaskan rasa
kesalnya karena juga pernah dipergoki oleh Paman saat di hutan. Tak sedikit
juga anak - anak kecil seumuranku juga ikut menghakimi Paman tanpa tahu latar
belakang masalahnya. Malam itu adalah malam yang sangat kelam bagiku. Air
mataku tak henti - hentinya menetes.
Begitulah kejadian yang selalu
aku kenang setiap tahun ketika mengunjungi makam Paman Parjo. Batu nisan yang
ada didepanku sekarang terukir tanggal kematiannya sehari setelah dia dihakimi
dan tak dapat diselamatkan saat dibawa ke puskesmas oleh warga yang datang
kemudian melerai keributan malam itu. Meski malam itu kita sama - sama berada
di puskesmas yang sama, tapi aku pingsan terlalu lama, sehingga 3 hari kemudian
saat sadar aku baru mengetahui ketiadaan paman. Namun aku senang selama pingsan
aku bermimpi ketika berada dalam kegelapan, tiba - tiba turunlah tangga dari
arah langit dan Paman terlihat menuruninya dengan senyum. Kulihat bajunya
sangat indah, wajahnya menjadi sangat tampan dan bercahaya. Kemudian Paman
memegang kedua tanganku dan berpesan, "Tau apa yang Paman lihat di balik
pintu di atas tangga sana?, sesuatu yang luar biasa yang tak bisa dilukiskan
oleh akal manusia dan lebih baik berkali - kali dari dunia dan seluruh isinya,
maka jangan sekalipun terlena di dunia ini. Setelah itu mataku terbuka dan aku
sadar dari pingsanku.
12 comments:
mantap sekali ceritanya sob,
salam kenal yah :)
Wah, enak dibaca ceritanya sob. Terima kasih ya...?
Rajin menaip cerpen...
panjangnya hehehhe
.: cerita yg menarik kawan, saya suka...^_^
novel yg mantep mas
makin keren aja cerpennya :)
Itu karangan sendiri?
Hebat bener...
Coba dikirim ke Kompas sob, lumayan dapat uang hehe... :D
Terima Kasih semuanya yang sudah mau menyempatkan sedikit waktunya untuk membaca cerpen saya :)
Motamatika @ Huum, karangan sendiri mas. Kalau soal kirim - mengirim naskah, suatu saat deh :P makasih dah berkunjung :D
Baru nemu cerpen ini, bagus mas. Keren! Layak kirim ini
Baru nemu cerpen ini, bagus mas. Keren! Layak kirim ini
Post a Comment