Friday, February 8, 2013

Cerpen ke-4 ku, To Kill A GREAT DEVIL

Orang - orang selalu berkata bahwa Parjo Sukmawan adalah seorang Iblis. Aku sendiri tidak tahu seperti apa wujud iblis itu detailnya. Yang aku dengar dari tetangga - tetangga hanyalah sebatas sifat Parjo yang selalu dicela warga. Selama ini aku belum pernah melihat Parjo sekalipun, karena memang rumahnya terasing, berada di dekat hutan serta pertanian dan perkebunan warga, jauh dari pemukiman kampung.

Ada yang bilang bahwa Parjo pemabuk berat, dan karenanya warga sering menyebutnya manusia haram. Ada yang bilang bahwa rumah Parjo berbau sangat busuk, sehingga banyak warga menyebutnya kuil bersemayamnya sang Iblis.

Oleh orang tuaku, aku dilarang bermain kesana karena berbahaya apabila bertemu dengan Parjo. Saat umurku 5 tahun, pernah ibuku menceritakan bahwa Parjo pemakan anak kecil, terutama gadis mungil. Namun setelah beranjak 11 tahun, aku tahu saat itu Ibu hanya membual, Ibu berkata begitu hanya karena dia tidak ingin aku bermain di area perkebunan dekat dengan hutan.

Saat itu rumah sedang ramai. Di ruang tamu, Ayah didampingi Ibu sedang memimpin rapat dengan petinggi kampung membahas pemilihan ketua RW yang baru, karena sebentar lagi ayahku akan ditugaskan di kantor Pemda setempat, jadi terpaksa harus meninggalkan jabatan ketua RW.

 Keluargaku termasuk keluarga berada dan terpandang di kampung karena jabatan ayah dan ibuku yang bekerja di pemerintahan dan segala usaha bisnis lainnya. Oleh karena itu, sebagai anak orang terpandang di desa, aku selalu dibebani banyak peraturan rumah tangga seperti salah satunya tak boleh bermain ke luar rumah tanpa seizin orang tua. Apalagi aku juga mengalami penyakit asma, Ibuku khawatir asmaku kambuh diluar sana saat bermain tanpa penanganan yang cepat.
Melihat situasi rumah saat itu, adalah merupakan sebuah kesempatan emas. Secara diam - diam aku keluar meninggalkan rumah dari pintu belakang. Rasanya sangat senang pergi meninggalkan rumah yang dipenuhi aturan. Serasa menemukan sebuah kebebasan.

 Aku berlari menuju ke lapangan bola voli di kampung tempat biasanya aku berkumpul bersama teman - teman meskipun sangat jarang sekali. Sangat jarang karena ibuku selalu menyuruhku lebih baik belajar di kamar daripada menghabiskan waktu di luar. Namun setelah sampai, rasa kecewa menyelimutiku, lapangan tampak sepi, tak ada pemuda yang bermain voli, tak ada kawananku para gadis kecil yang biasa bercengkrama dan bermain disitu. Kupikir mereka sedang sibuk di kamar mereka sendiri - sendiri. Demam media sosial dan laju teknologi internet mungkin menjadi penyebabnya menurutku yang mengkung - kung mereka untuk betah di dalam kamar. Namun rasa kecewaku hanya sebentar saja, mendadak hilang setelah melihat dari kejauhan sebuah perkebunan dan hutan. Aku berfikir inilah saatnya menuju kesana, aku ingin melihat - lihat sebentar apa yang ada di sana sebenarnya, dan kembali ke rumah sebelum rapat selesai agar tidak ketahuan bahwa aku menyusup keluar rumah secara diam - diam.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di perkebunan warga kampung, alangkah bahagianya saat itu. Walau napasku terengah - engah karena perjalanan menuju kesini tidaklah dekat bila ditempuh dengan jalan kaki. Meski hanya seorang diri, tapi rasanya senang bisa mengelilingi aneka pepohonan seperti rambutan, nangka dan juga duren. Keluar dari area perkebunan, terhambar area sawah yang luas. Aku berjalan - jalan menapaki jalan kecil di petak - petak sawah tersebut dan berhenti sejenak di samping sungai besar yang mengalir cukup deras.

Tak lama aku melihat rumah dari kejauhan di dekat hutan. Setelah membasuh wajahku yang lusuh di sungai, aku berlari mendekati rumah tersebut. Namun sebelum sampai, mendadak aku berhenti karena mencium aroma busuk sehingga memaksa tanganku untuk menutup hidungku. Mencium aroma busuk di dekat rumah itu, aku jadi ingat mengenai cerita warga mengenai Parjo sang iblis. Mengetahui itu aku langsung bersembunyi dibalik bebatuan besar tak jauh dari rumah itu dan memandangi dengan seksama rumah yang sudah reyot tak terawat itu. 

Suasana menjadi hening sejenak saat aku mengamati rumah iblis itu sambil tetap menutup kedua hidungku karena tak tahan dengan bau busuknya. Melihat tak ada aktivitas apapun di dalam rumah itu, aku mengendap - endap berjalan menuju hutan agar tak menimbulkan suara berisik. Kupikir sang Iblis Parjo sedang tidur di dalam rumah busuknya, dan aku tak mau membangunkannya, menemuinya pun aku tak mau, bila mengetahui bau rumahnya saja seperti ini. Apa yang dikatakan warga memang benar, dia mungkin keturunan Iblis atau manusia yang dikutuk.

Memasuki hutan, suasana sangatlah rindang. Banyak pepohonan besar menjulang tinggi.Mereka gagah dan perkasa. Aneka suara serangga bersautan tak karuan, menandakan alangkah banyaknya penghuni hutan ini.  

Aku berjalan dengan perasaan gembira. Suatu saat, kawanan teman sepermainanku nanti akan aku ajak membuat kemah - kemahan di area hutan ini. Pasti sangat mengasyikkan tentunya. Setelah lama berjalan jauh, sayup - sayup terdengar suara seseorang. Aku mengikuti darimana  arah asalnya suara tersebut. Semakin aku melangkah, suara itu semakin jelas terdengar. Lama - lama aku mendengar suara cekikikan dua orang terdiri dari lelaki dan perempuan. Ketika aku sampai di asal suara tersebut, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.

Dari balik batang pohon yang besar tempat aku mengendap, aku melihat dua orang sepasang kekasih sedang melakukan tindakan mesum. Yang membuat aku terkejut, adalah karena aku mengenali mereka berdua. Yang perempuan adalah Mbak Nurjanah, dia pelajar yang baru duduk di kelas 2 SMK jurusan akuntansi, dia juga adalah guru privat mengajiku selama setahun yang lalu. Kemudian yang lelaki adalah Mas Andre, dia adalah pekerja industri di luar kota, di waktu senggang  kadang dia juga membantu bisnis ayahku. Sepengetahuanku Mas Andre sudah mempunyai pacar yang juga bekerja di bisnis ayahku. Memang di usiaku saat ini aku belum mengalami fase tahapan cinta - mencintai. Namun aku paham bahwa yang dilakukan Mas Andre adalah selingkuh. Arti selingkuh pun aku pahami saat aku diam - diam menonton sinetron secara sembunyi - sembunyi dari perhatian ibuku.
"Hai Kalian!!! Mendadak ada sebuah teriakan keras layaknya halilintar yang menyambar. Tak hanya membuat kedua orang itu kaget, tetapi juga membuat senam jantungku. Kulihat ada seseorang yang mendatangi mereka berdua. Sementara kedua orang itu sibuk merapikan pakaian yang mereka kenakan.

"Sudah berapa kali aku peringatkan, jangan melakukan perbuatan asusila seperti ini di hutan. Tahukan kalian telah mengotori hutan ini dengan perbuatan kalian?,"cetus orang aneh yang baru datang itu kepada mereka berdua yang tertangkap basah. Orang aneh itu berbadan tinggi, namun sangat kurus. Kulitnya coklat kehitaman sangat lusuh. Bajunya pun compang - camping. Di belakangnya terpanggul sebuah karung berisi banyak ranting pohon berukuran panjang yang sudah menua. Umurnya kira - kira 35 tahun dan dagunya penuh dengan janggut memanjang.

Setelah selesai membenahi bajunya, Andre langsung membalikkan badan mendekati orang aneh tersebut dan mendorongnya hingga jatuh, seraya berkata " Keparat kau Iblis, kenapa kau selalu mengganggu kesenanganku hah?! Ini ketiga kalinya kau selalu menganggu kesenanganku!"

Kemudian Andre menuju ke balik semak dan mengambil motornya yang disembunyikan disana dengan ekspresi penuh emosi. Dia menaiki motornya dan memberi isyarat kepada Nurjanah untuk segera menyusulnya yang saat itu masih membenahi jilbabnya. Sebelum mereka pergi, Orang aneh itu sudah kembali berdiri dan mengatakan sesuatu yang ditujukan kepada Nurjanah," Kau juga, seharusnya kamu menjaga kehormatanmu."

"Jangan selalu ikut campur Iblis. Jangan sok suci, mengacalah dulu sebelum kamu menasehati orang lain. Aku kasihan tidak ada wanita yang menyukaimu. Memang itu takdirmu sebagai Iblis"sahut Nurjanah. Mendengar lontaran perkataan Mbak Nurjanah, aku seperti tak percaya dia bisa berkata kasar seperti itu. Selama setahun menjadi guru mengajiku, dia selalu lembut serta ramah tamah di hadapan ibuku.

"Lain kali aku akan menghajarmu bila menggangguku lagi Iblis keparat," pesan ancaman Andre kepada orang aneh itu. Setelah itu dia menggeber keras - keras motornya dan meninggallkannya.
Aku berfikir, mengapa daritadi mereka mengucapkan julukan Iblis kepada orang aneh itu? Aku jadi berfikir jangan - jangan orang aneh itu adalah Parjo Sukmawan sang Iblis yang kerap menjadi bahan cercaan warga kampung? Di saat aku terlalu banyak berfikir, aku tak sadar bahwa orang aneh itu telah mengetahui tempat persembunyianku di balik batang pohon yang besar. Aku terhenyak mundur ketika orang aneh itu melangkahkan kaki ke arahku dan terdiam sesaat saat pandangan mata kami saling bertemu. Posisiku sudah memasang kuda - kuda untuk berlari menjauh.

"Tunggu Nak,"Teriak orang aneh tersebut. Tapi aku tak menggubris teriakannya. Dengan sekuat tenaga aku berlari meninggalkan orang aneh tersebut. Orang aneh tersebut tampak mengerikan bagiku. Dan kalau benar dia adalah Iblis yang sering diceritakan para warga, aku tak mau bertemu dengannya.

Ritme nafasku perlahan mulai tak beraturan. Aku merasakan bajuku basah karena keringat. Rasa lelah mulai menyerangku. Namun sekuat tenaga aku berlari untuk keluar dari hutan ini meski aku berlari tanpa arah yang benar. Semakin lama aku merasa tumbuhan dan semak yang aku lewati semakin lebat, aku jadi sering menabrak dedaunan dan ranting kasar didepanku yang menimbulkan rasa sakit. Lalu aku dengan cepat terpelosok oleh tanah landai yang menjorok dalam ke bawah. Aku jatuh tergelincir turun. Aku merasa bajuku sedikit robek terkena akar tumbuh - tumbuhan yang menonjol di tanah landai tersebut saat aku menggelincir ke arah bawah dan juga merasakan celana pendekku robek tersayat sebuah ranting yang tajam.

 Ketika sudah berhenti tergelincir dan menyentuh permukaan tanah dalam  keadaan tertelungkup, aku merasakan badanku semuanya nyeri, terutama di paha kananku, kugerakkan sedikit tungkai kakiku tapi aku mengerang sakit. Aku melihat darah segar menetes melumuri pangkal paha kananku hingga tungkai kaki. Aku merasa lemas, seolah matahari sudah akan terbenam, yang kulihat kegelapan sedikit demi sedikit menutupi pandanganku, dan aku mulai tak sadarkan diri. 

Sebuah bulatan yang bercahaya beterbangan dalam kegelapan. Kemudian muncul berbagai bulatan cahaya yang lainnya dihadapanku. Kupejamkan mataku dan kubuka kembali sekarang kulihat cahaya bulat tersebut mulai berpendar, dan ketika aku mendapatkan kembali penglihatanku di saat awal - awal siuman, aku melihat banyak lilin yang bergelantungan di atas ternit yang sudah reyot. Kutoleh kesamping dengan posisi tidur untuk mengetahui dimana sebenarnya aku sekarang. Aku terkejut ketika menoleh aku melihat si Iblis sedang duduk merebus air dengan panci di atas bakaran beberapa ranting pohon. Aku menggerakkan badanku untuk berdiri ketika menyadari aku berada di kuil bersemayamnya sang iblis. Namun usaha itu hanya mendatangkan rasa sakit yang luar biasa sehingga aku mengerang kesakitan dan membuat sang iblis tersentak.

"Oh, syukurlah, kamu sudah sadar, " Begitulah, kata pertama yang kudapati dari sang Iblis. Aku merasa aneh dengan perkataannya. Tadinya kupikir dia akan menggertakku karena aku berteriak sembarangan atau malah menyakitiku. Namun kenyataan disini yang aku dapatkan sungguh berbeda. Kulihat tatapan sang Iblis penuh perhatian.

Perasaan di dadaku mulai agak nyaman melihat ekspresi wajah sang Iblis. Sangat berbeda bila dibandingkan ketika sang Iblis emosi memaki Kak Andre dan Mbak Nurjanah yang kedapatan mesum. Karena perasaan nyaman ini aku memberanikan diri untuk bertanya meski aku masih agak berat untuk bersuara karena dadaku rasanya seperti tertusuk. " Apakah aku berada di rumahmu?"
"Benar, ini rumahku. Maaf kalau rumahku jelek sekali," itulah jawaban sang Iblis. Memang di dalam rumahnya sangat berantakan. Bagiku hampir mirip seperti gudang rongsokan. Tempat yang aku gunakan untuk tidurpun sangatlah keras terbuat dari batang bambu yang sudah reyot. Namun begitu, di dalam rumah ini tak sebusuk aroma seperti di halaman luar.

"Apa kamu masih merasa sakit nak? Sang Iblis bertanya kembali padaku."Badanku hampir tak bisa digerakkan, kurasa ada yang retak di salah satu tulangku," jawabku lirih. Ketika kulirik ke bawah, aku baru sadar aku hanya mengenakan celana dalam, karena celanaku tersobek oleh ranting saat terjatuh. Luka sobekan  kecil masih menganga lebar di paha kananku, namun darah yang mengucur sudah membeku menyelimuti sekujur paha sampai mata kaki. Persis seperti ditato pikirku.
"Mengapa kamu lari seperti kesetanan saat di hutan tadi?" Sang Iblis bertanya. Apa kamu mekihat sesuatu nak?" Tanya Sang Iblis.

"Bukan, sebenarnya aku takut terhadap dirimu. Saat kamu memergoki Kak Andre tadi, kudengar mereka memanggilmu Iblis. Aku jadi takut mengetahui bahwa dirimulah sosok Iblis yang sering dibicarakan warga kampung. Jadi aku lari saat kita bertatapan."

Kulihat wajah sang Iblis menjadi muram saat aku menjelaskan alasannya. Aku tidak tahu apa perkataanku salah, tetapi bukannya kenyataan seperti itu. Lalu, sang Iblis mulai bertanya, " Apa yang membuatmu juga berfikiran aku seorang Iblis seperti warga lainnya?"

"Aku pernah diceritakan bahwa kamu seorang pemabuk berat.  Ada beberapa warga yang pernah melihat tumpukan ratusan botol minuman keras . Rumahmu juga baunya busuk seperti yang diceritakan warga. Dan masih banyak lagi kejelekan2 lainnya. Bukannya itu semua sudah menjadikanmu patut disebut seorang Iblis dengan segala keharaman yang kamu miliki?"

"Apa kamu mau tau darimana asal botol minuman keras itu dan  darimana asal bau busuk ini?"
"Tentu saja, aku jelas mau tahu darimana kekuatan Iblis yang bisa mendatangkan banyak botol minuman keras dan bau yang sangat busuk ini, jawabku."

"Kamu tahu kalau hutan di belakang ini sering dijadikan tempat maksiat terutama oleh anak muda? Ya, setiap hari hampir aku pergoki banyak-nya gerombolan orang maupun anak sekolah yang sedang pesta miras di dalam hutan. Kadang mereka marah saat aku pergoki dan sering menghajarku, oleh sebab itu mukaku jelek karena sering dihajar. Botol - botol miras yang mereka tinggalkan aku sering kumpulkan, daripada berserakan mengotori hutan yang akan membuat kesan buruk. Pertama aku kumpulkan dulu di depan rumah. Kalau jumlahnya cukup aku bawa untuk dijadikan barang rosok yang aku jual di desa seberang hutan ini untuk kebutuhanku. Selain botol aku juga sering merosok pakain - pakaian yang ditinggalkan oleh orang yang kebetulan aku pergoki saat melakukan tindakan mesum. Terakhir aku memulung baju SMP yang ditinggalkan seorang gadis yang keburu lari dengan kekasihnya saat kepergok berduaan mesra di hutan. Sebenarnya aku hanya ingin menasehati, tapi mereka keburu lari terbirit - birit. Selain hal itu, banyak lagi kemaksiatan yang dilakukan di hutan ini seperti perkelahian, pesta ganja, dll."

"Lalu bagaimana dengan bau busuk ini?" Tanyaku yang sekarang penuh obsesi setelah mendengar penjelasan pertama dari sang Iblis.

"Kamu tahu sungai besar di seberang?" Tanya sang Iblis.

"Aku tahu,"sahutku cepat. Apa dari situ asalnya?

"Bukan. Sungai itu dulunya sangat kotor dipenuhi oleh sampah. Sampah - sampah itu kebanyakan berasal dari penduduk desa. Karena semakin lama menumpuk dan menyumbat parit - parit yang mengaliri irigasi, jadi setiap habis sholat subuh, aku berolahraga dengan mengambili banyaknya sampah di sungai. Sebagian aku pendam di tanah di area sekitar rumahku, sebagian aku rosokkan ke desa seberang hutan. Jadi itulah mengapa di area rumahku baunya busuk bukan main. Tapi aku tak pernah membawa masuk baik botol miras maupun sampah ke dalam rumah, jadi disini kau tak akan mendapatkan bau seperti diluar, meski kalau hujan tetap baunya agak sedikit menguar masuk ke dalam sini."

Begitulah, mendadak diriku terdiam. Mendegar penjelasan sang Iblis hampir membuatku tak merasakan sakitnya tubuh ini. Hingga akhirnya sang Iblis bertanya mengapa diriku mendadak termenung.

"Maaf, seharusnya aku tidak memanggilmu Iblis jika mengetahui kamu adalah orang baik. Seharusnya aku memanggil Paman Parjo."

"Darimana kamu tahu namaku nak?"

"Parjo Sukmawan sang Iblis, begitulah sebutanmu di kampungku. Dan mulai sekarang aku tak akan memanggilmu Iblis lagi. Aku, meminta maaf."

Dadaku mendadak menjadi sangat sesak rasanya. Hingga aku mengambil nafas memerlukan desahan yang kuat dari dalam. Paman Parjo, terlihat begitu khawatir melihat kondisiku. Meski begitu aku tetap ingin mengajukan pertanyaan yang masih menjadi tanda tanya dibenakku.
"Kalau paman orang yang baik, mengapa paman terasing disini. Rumah Paman jauh dari kampungku?"

"Sebenarnya dulu keluarga Paman salah satu warga kampungmu nak. Ayah paman bekerja di salah satu mebel kayu di kampung. Ibu hanya seorang  perantauan yang sering lama pergi meninggalkan kami. Ibu dulunya adalah kembang desa menurut cerita ayahku yang sering menceritakan berulang kali kepadaku saat dirinya rindu kepada Ibu. Hingga suatu saat ayahku mengusirnya setelah mengetahui bahwa sahabatnya mengatakan bahwa Ibu bekerja menjadi wanita penghibur di kota Metropolitan. Hari - hari ayahku menjadi sedih setelah menyesal telah mengusir Ibu karena emosi sesaat. Dia akhirnya lebih banyak menghilangkan kesedihannya dengan minum - minuman keras. Kadang aku sering menegur ayah ketika sedang minum, namun dia malah berdalih bahwa kalau tidak minum itu bukan lelaki. Aku paham Ibu berprofesi seperti itu karena tuntutan ekonomi demi keluarga, namun aku juga tahu jalan yang Ibu tempuh salah dan sangat menyayangkan Ayah mengusirnya. Hingga suatu hari Ayahku saat masih dalam pengaruh alkohol menghajar rekan kerjanya dan menyebabkan nyaris buta karena mengatai Ibuku seorang pelacur."

"Pada saat itulah beberapa warga berkumpul untuk mendiskusikan nasib ayahku. Mereka semua melakukan musyawarah dan seorang petinggi warga saat itu menyarankan untuk agar diselesaikan secara kekeluargaan. Akhirnya warga memutuskan untuk mengikuti saran itu dan tidak menindak pidanakan kasus Ayahku ke yang berwajib agar nama desa tidak tercemar, melainkan mengasingkan kami."

"Saat pertama diasingkan disini umurku saat itu 15th. Ayahku sering sakit - sakitan saat berada di tempat ini. Dan jiwanya betul - betul terguncang. Saat umurku menginjak 23 tahun, ayahku meninggal karena sakit keras. Semenjak itu aku berjuang sendiri disini untuk hidup. Namun perilaku yang dilakukan Ibuku yang menjadi wanita penghibur dan emosi ayahku yang brutal menghajar rekannya sudah menjadi label buruk yang tidak akan pernah hilang dimata warga kampung. Banyak yang mencemooh saat melewati rumah kami. Sepeninggal ayah aku juga sering dicemooh seorang diri. Hingga beberapa tahun ini aku juga tidak tahu mengapa banyak orang kampung menjulukiku Iblis, hingga akhirnya aku bertemu kamu nak dan mendapatkan penjelasannya."

"Oleh sebab itu aku benci jika melihat ada orang yang mesum. Terutama wanita yang dengan mudahnya mengobral kehormatan dan harga dirinya. Sebenarnya aku hanya menasehati dengan emosi saat memergoki dengan tujuan agar si wanita natinya tidak sekasta dengan ibuku yang dicap wanita pelacur karena perilakunya. Dan juga si lelaki agar bisa menjaga wibawanya."

"Aku juga benci melihat banyak orang dan anak - anak muda yang menghabiskan waktunya dengan berpesta minuman keras. Aku memergoki mereka karena tak ingin nantinya seperti ayahku yang akal pikirannya sudah terengut alkohol sehingga yang tersisa hanyalah emosi yang nyaris membutakan rekan kerjanya. Namun kadang mereka yang aku pergoki dan nasehati marah malah menghajarku. dari sekian banyak, ada beberapa teman masa kecilku dari kampung yang aku pergoki dan mereka malah seolah tak mengenalku."

Entah mengapa, rasanya hati ini begitu sedih mendengar cerita Paman Parjo. Mataku mulai terasa digenangi air mendengar kebenaran yang selama ini terselubung oleh cercaan, cemoohan,  fitnah, prasangka buruk dan lain sebagainya. Di saat rasa haru itu juga nafasku mulai sesak. Aku berkata kepada Paman agar segera mengantarkakanku ke kampung agar segera mendapatkan tindakan di puskesmas. Kemudian dengan sigap Paman langsung membopongku dengan kedua tangannya yang meski kurus tapi sepertinya menyimpan tenaga yang luar biasa terpendam. Entah mengapa, kini hatiku merasa tenang berada dalam gendongan kedua tangannya dan sandaran dadanya.
"Siapa namamu nak?"

"Nur Latifah Indra Cahyaningsih, jawabku dengan tergagap - gagap karena nafasku sudah sesak.

"Siapa nama ayahmu? Biar aku bisa menjelaskan ke pihak puskesmas nanti."

"Mustofa Indra Martanto, kataku dengan lemas."

"Pak Indra yang menjabat ketua RW sekarang ini?" Paman malah balik bertanya.

"Paman kenal ayahku?"

"Dia adalah orang yang menyarankan agar kami diasingkan dahulu kala. Pada waktu itu ayahmu masih menjabat untuk pertama kalinya menjadi wakil ketua RT. Paham maksudku?" Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Paman karena sesak didadaku yang semakin parah.

Suara guntur terdengar dari luar rumah. Menandakan bahwa langit sedang mendung dan akan segera menitikkan air matanya. Paman mengambil sebuah karung plastik untuk menutupi tubuhku agar tak terkena air bila hujan nantinya dalam bopongannya. Saat pintu dibuka suasana sungguh sangat gelap. Aku tidak tahu bahwa keadaan di sekitar perkebunan dan hutan segelap ini, sungguh mengerikan. Dari kejauhan aku bisa melihat lampu - lampu kampung yang bagaikan kunang - kunang. Dalam perjalanan aku bisa merasakan sedihnya kehidupan yang dialami paman dalam gelapnya keterasingan.

Dalam perjalanan aku hampir tertidur karena lemas dan mengantuk. Suara guntur kudengar semakin keras dan saling bersahutan. Perasaan hatiku saat itu mendadak sangat tidak enak. Ada suatu sorotan cahaya yang mengarah ke mukaku dan memaksa tanganku untuk menghalau sinarnya meski rasa sakit yang luar biasa aku tahan saat menggerakkannya. Sontak saat itu juga Paman memberhentikan langkahnya. Kemudian terdengar teriakan saling bersahut - sahutan.

"Heeiiiii, aku menemukan Latifah, dia disini!!!!!"

"Apa dia baik - baik sajjjaaa?!!!!"

"Dia bersama sang IBLIS, cepat panggil Pak Indra Kesini, anaknya dibawa sang IBlisss!!!!!!

Begitulah, teriakan yang kudengar jelas saling sahut menyahut yang membuat buyar rasa kantukku dan aku merasa warga kampung menemukannku. Sorotan senter makin lama dari kejauhan makin banyak yang datang menuju ke arahku. Sedangkan Paman kulihat hanya diam saja. Tak terasa sudah puluhan orang mengepung kami dan dari kejauhan aku lihat tubuh gempal ayahku menerjang kerumunan untuk menempati baris terdepan. Setelah berada di depan ayahku berdiri mematung dan mengarahkan senternya ke sekujur tubuhku.

Pertama Ayah mengarahkan cahaya senternya ke wajahku. Raut muka Ayahku gemetaran ketika melihat wajahku lusuh, sebagian babak karena luka, rambutku yang acak - acakkan. Lalu kemudian dia mengarahkan cahaya senternya ke badanku , Ayahku mulai mengelap peluh keringat ketika melihat bajuku kotor penuh dengan bekas pasir maupun tanah, terlihat seperti kumal. Terakhir mulut ayahku terbuka ketika arah senternya mengarah   ke bawah pinggangku yang hanya mengenakan celana dalam saja dan juga darah kering yang menghiasi paha sampai tungkai kaki. Aku tahu apa yang ada dipikiran Ayah. Aku bisa membacanya dengan jelas dari raut muka emosi yang terpancar di mukanya. Ayah pasti berfikir bahwa Paman Parjo telah merengut kegadisannku akibat pengaruh alkohol maupun sebagainya. Aku melambai - lambaikan tanganku kepada Ayah dengan isyarat jangan salah sangka terlebih dahulu. Dengan lemasnya tenaga dan sesak nafas yang tak bisa membuatku bicara aku berusaha sekuat tenaga ingin menyampaikan pesan itu. Namun dimata Ayah aku sepertinya malah seperti seorang anak yang ingin cepat memeluk Ayahnya dan segera ingin lepas dari Iblis yang membopongku. Ayah benar - benar salah mengartikannya. Dibantingnya dengan segera senter yang Ayah pegang kemudian dengan cepat dia merebut diriku dari tangan Paman Parjo. 

"Dasar binatang, bentak Ayahku keras. Lebih baik daridulu kau dan Ayahmu aku usir jauh - jauh keluar dari sini. Memang salahku tidak mengenyahkan kalian dari dulu kala. Aib kalian memang membawa bencana bagi kampung ini."

"Aku bisa menjelaskan Pak Indra bahwa sebenarnya...." Belum selesai Paman Parjo menjelaskan, terdengar suara yang tiba - tiba menyahut dengan kasar. Suara itu aku kenal, adalah suara Kak Andre.
"Apa aku bilang, bahwa si Iblis pastilah yang membawa kabur Latifah. Lihat saja dia ketahuan ingin entah membuang Latifah di sungai maupun menguburnya untuk menghilangkan jejak. 

Fitnah dan tuduhan yang dilontarkan kak Andre semakin menyayat di hatiku. Aku tahu kak Andre senang melihat posisi Paman Parjo yang terpojok seperti ini. Dia juga rasanya ingin memanfaatkan kondisi seperti ini untuk membalas dendam mengenai dirinya yang dipergoki saat mesum siang tadi. Dan kupikir , dari tatapan matanya yang penuh amarah, aku melihat keinginan Kak Andre untuk membungkam mulut Paman Parjo selamanya agar perbuatan mesumnya terkunci rapat - rapat di mulut Paman Parjo sehingga orang lain tak bisa mengetahuinya. Meski begitu, aku yakin Paman Parjo tak akan mengumbar aib orang lain meski dalam keadaan terdesak sekalipun.

Melihat kondisiku yang menyedihkan, Ayah kemudian segera berlari menuju desa untuk membawaku ke puskemas. Saat dalam bopongan Ayah, aku menoleh ke arah Paman, aku melihat dia sudah dipukuli oleh banyak orang di tengah guyuran hujan. Kulihat Kak Andre sangat beringas saat memukulinya. Pemuda - pemuda yang lain pun sama beringasnya. Mungkin ada juga beberapa pemuda yang juga ingin melampiaskan rasa kesalnya karena juga pernah dipergoki oleh Paman saat di hutan. Tak sedikit juga anak - anak kecil seumuranku juga ikut menghakimi Paman tanpa tahu latar belakang masalahnya. Malam itu adalah malam yang sangat kelam bagiku. Air mataku tak henti - hentinya menetes.

Begitulah kejadian yang selalu aku kenang setiap tahun ketika mengunjungi makam Paman Parjo. Batu nisan yang ada didepanku sekarang terukir tanggal kematiannya sehari setelah dia dihakimi dan tak dapat diselamatkan saat dibawa ke puskesmas oleh warga yang datang kemudian melerai keributan malam itu. Meski malam itu kita sama - sama berada di puskesmas yang sama, tapi aku pingsan terlalu lama, sehingga 3 hari kemudian saat sadar aku baru mengetahui ketiadaan paman. Namun aku senang selama pingsan aku bermimpi ketika berada dalam kegelapan, tiba - tiba turunlah tangga dari arah langit dan Paman terlihat menuruninya dengan senyum. Kulihat bajunya sangat indah, wajahnya menjadi sangat tampan dan bercahaya. Kemudian Paman memegang kedua tanganku dan berpesan, "Tau apa yang Paman lihat di balik pintu di atas tangga sana?, sesuatu yang luar biasa yang tak bisa dilukiskan oleh akal manusia dan lebih baik berkali - kali dari dunia dan seluruh isinya, maka jangan sekalipun terlena di dunia ini. Setelah itu mataku terbuka dan aku sadar dari pingsanku.

13 comments:

reki said...

mantap sekali ceritanya sob,

salam kenal yah :)

babol only said...

wuiiih...panjang banget gan cerpennya. :D

edy samsul said...

Wah, enak dibaca ceritanya sob. Terima kasih ya...?

EH - Ekslamasi Holistik said...

Rajin menaip cerpen...

Herman Bagus said...

panjangnya hehehhe

IQ Online Mart said...

.: cerita yg menarik kawan, saya suka...^_^

kangFarhan said...

novel yg mantep mas

imaa Rahmawati said...

makin keren aja cerpennya :)

Motamatika said...

Itu karangan sendiri?
Hebat bener...
Coba dikirim ke Kompas sob, lumayan dapat uang hehe... :D

Arief W.S said...

Terima Kasih semuanya yang sudah mau menyempatkan sedikit waktunya untuk membaca cerpen saya :)

Arief W.S said...

Motamatika @ Huum, karangan sendiri mas. Kalau soal kirim - mengirim naskah, suatu saat deh :P makasih dah berkunjung :D

amanatul mubtadiah said...

Baru nemu cerpen ini, bagus mas. Keren! Layak kirim ini

amanatul mubtadiah said...

Baru nemu cerpen ini, bagus mas. Keren! Layak kirim ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...